Kamis, 24 Maret 2011

Makalah - Pudarnya Pesona Seni Budaya Sulawesi Tenggara

Posted by Nur Fadhilah at 9:57:00 PM 2 comments
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Seni budaya dapat dikatakan sebagai jiwa sebuah bangsa. Bangsa-bangsa yang kemudian kita kenal sebagai bangsa besar adalah bangsa-bangsa yang besar pula seni budayanya.
Harus diakui, dalam sepuluh tahun terakhir ini, pembangunan fisik Kota Kendari sebagai wajah Sulawesi Tenggara menunjukkan kemajuan sangat pesat. Jalan-jalan membentang, menggelindingkan roda perekonomian warga. Stadion dan lapangan berbagai cabang olahraga juga sudah ada dengan fasilitas yang cukup lengkap pula. Namun, hingga saat ini provinsi yang terdiri atas beragam kelompok etnik yang memiliki khazanah budaya yang kaya ini belum juga memiliki gedung kesenian yang dengan jadwal tetap menyelenggarakan kegiatan-kegiatan untuk menyalurkan kreativitas seni budaya. Kesenian dan acara-acara budaya masih dilaksanakan sebatas ‘dalam rangka’. Ini jauh berbeda dengan program pembinaan dan pengembangan bidang olahraga. Perhatian pemerintah terhadap bidang yang satu ini bukan main seriusnya, dengan dukungan dana yang tidak main-main pula.
Perhatian besar terhadap olahraga tentu tidak lepas dari bagusnya manajemen organisasi dan pengelolaan kegiatan olahraga oleh induk-induk organisasi setiap cabang olahraga. Namun, kenyataan bahwa bidang seni budaya belum mendapat perhatian sebesar perhatian pemerintah terhadap olahraga, menyisakan sebuah ironi.
Bila masyarakat bersungguh-sungguh memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara, maka bukan suatu hal yang mustahil seni budaya Sulawesi Tenggara dapat diakui dan bersaing dengan seni budaya lainnya baik di kancah nasional maupun internasional.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini, sebagai berikut.
1. Apa yang menyebabkan pudarnya pesona seni budaya Sulawesi Tenggara dan dampaknya terhadap generasi Sulawesi Tenggara?
2. Bagaimana upaya memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini, sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui penyebab dan upaya untuk menanggulangi penyebab pudarnya pesona seni budaya Sulawesi Tenggara.
2. Untuk memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara sehingga diakui dan mampu bersaing dengan seni budaya lainnya.

D. Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini, sebagai berikut.
1. Dapat manjadi sumber informasi bagi masyarakat Sulawesi Tenggara dalam menanggulangi penyebab pudarnya pesona seni budaya Sulawesi Tenggara.
2. Dapat membantu mengurangi resiko pudarnya pesona seni budaya Sulawesi Tenggara.
3. Dapat manjadi sumber informasi dalam memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara.
4. Dapat menggalang persatuan dan kesatuan di dalam masyarakat Sulawesi Tenggara dalam memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara.

BAB II
METODE PENELITIAN


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan studi kepustakaan dan metode wawancara. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap variabel yang data-datanya sudah ada tanpa proses manipulasi (data masa lalu dan sekarang).
Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai apa adanya (Best,1982:119). Penelitian ini juga sering disebut noneksperimen. Karena pada penelitian ini tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Penelitian deskriptif dilaksanakan dengan tujuan memperoleh dukungan dari masyarakat Sulawesi Tenggara dalam memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara.
Studi kepustakaan adalah studi yang memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitian tanpa melakukan riset lapangan. Studi kepustakaan dilakukan dengan mengkaji literatur, buku, web site, artikel atau esai yang relevan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian.
Metode wawancara dilakukan kepada siswa siswi SMA Negeri 4 Kendari. Melalui metode ini, diharapkan narasumber dapat memberikan pernyataan yang relevan sehingga membantu penyusunan makalah ini.

BAB III
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Seni dan Budaya
Sebelum penulis mengemukakan pengertian seni budaya Sulawesi Tenggara, terlebih dahulu dikemukakan pengertian seni dan budaya secara umum.
1. Pengertian Seni
Seni adalah ide, gagasan, perasaan, suara hati dan gejolak jiwa yang diwujudkan atau diekspresikan melalui unsur-unsur tertentu yang bersifat indah untuk memenuhi kebutuhan manusia, walaupun banyak juga karya seni yang digunakan untuk binatang. Seni indah menurut ukuran yang menikmati. Adapun pengertian seni menurut para ahli sebagai berikut.
a. Menurut Alexander Baum Garton, seni adalah keindahan dan seni adalah tujuan yang positif menjadikan penikmat merasa dalam kebahagiaan.
b. Menurut Emanuel Kant, seni adalah sebuah impian karena rumus-rumus tidak dapat mengikhtiarkan kenyataan.
c. Menurut Leo Tolstoy, seni adalah menimbulkan kembali perasaan yang pernah dialami.
d. Menurut Aristoteles, seni adalah bentuk pengungkapan dan penampilan yang tidak pernah menyimpang dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam.
e. Menurut Ki Hajar Dewantara, seni merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan perasaan indah orang yang melihatnya. Oleh karena itu, perbuatan manusia yang dapat mempengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah disebut seni (http://grou.ps/marufbicara/blogs/).

2. Pengertian Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,
bangunan dan karya seni (http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya#Definisi_Budaya).
Dari pengertian seni dan budaya di atas, dapat dikemukakan pengertian seni budaya Sulawesi Tenggara secara umum. Seni budaya Sulawesi Tenggara adalah seni yang lahir dari kebiasaan masyarakat Sulawesi Tenggara yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Untuk lebih dapat memahami seni budaya Sulawesi Tenggara, maka harus diketahui terlebih dahulu macam-macam seni budaya Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara memiliki sejumlah kelompok bahasa daerah dengan dialek yang berbeda-beda. Seperti dialek Bahasa Tolaki, Muna, Pongana, Buton, Cia-cia dan Suai.
Untuk mengatur hubungan kehidupan antarmasyarakat, telah berlaku hukum adat yang senantiasa dipatuhi oleh warga masyarakat. Jenis hukum adat tersebut antara lain adalah hukum tanah, hukum pergaulan masyarakat, hukum perkawinan dan hukum waris. Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki berbagai jenis kesenian yang potensial sehingga memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia. Jenis-jenis kesenian tersebut adalah seni tari, seni ukir, seni lukis, seni suara dan seni bunyi. Seni tari, merupakan tarian masyarakat yang dipersembahkan pada setiap upacara tradisional maupun menjemput tamu-tamu agung yang diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong, kecapi dan alat tiup suling bambu (http://www.indonesia.go.id).

B. Seni Budaya Sulawesi Tenggara
Dalam rubrik Kendari Pos, seorang penyair terkenal Syaifuddin Gani menulis, “dunia tercengang ketika utusan Sulawesi Tenggara yang diwakili Kabupaten Wakatobi memainkan kabhanti dilengkapi instrumen gambus di Gedung Kesenian Jakarta, tahun silam. Penonton terpesona ketika mendengar puisi kabhanti dilantunkan yang memiliki kekuatan estetik dan puitik yang agung”. Dia juga menulis, “dunia mengakui bahwa Sulawesi Tenggara memiliki khazanah besar (sastra khususnya dan seni budaya umumnya), yang bernilai lokal dan universal”. Gani mencontohkan, betapa kesusastraan Buton, sastra lisan Tolaki, Muna dan Moronene (sekadar menyebut beberapa nama) adalah aset besar seni budaya Sulawesi Tenggara.
Tak bisa dipungkiri, ternyata masih ada sejumlah sanggar seni di Sulawesi Tenggara yang belum mendapatkan bantuan dari pihak Departemen Pariwisata Pusat. Walaupun menurut Ketua Komisi IV DPRD Sulawesi Tenggara, Yaudu Salam Ajo, S. Pi., pihak Pariwisata Pusat sudah bersedia memberikan bantuan terhadap sanggar seni yang ada di Sulawesi Tenggara demi kemajuan seni dan budaya, akan tetapi keterlambatan ini menimbulkan persepsi kurang diperhatikannya seni budaya Sulawesi Tenggara (Kendari News, 2010).

BAB IV
PEMBAHASAN


A. Pudarnya Seni Budaya Sulawesi Tenggara
1. Penyebab Pudarnya Seni Budaya Sulawesi Tenggara
Harus diakui, dalam sepuluh tahun terakhir ini pembangunan fisik Kota Kendari, sebagai wajah Sulawesi Tenggara, menunjukkan kemajuan sangat pesat. Akan tetapi, kemajuan tersebut tidak diiringi dengan kemajuan dalam bidang seni budaya. Sulawesi Tenggara belum memiliki gedung kesenian yang dengan jadwal tetap menyelenggarakan kegiatan-kegiatan untuk menyalurkan kreativitas seni budaya. Kesenian dan acara-acara budaya masih dilaksanakan sebatas “dalam rangka”.
Hal ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan kemajuan bidang olahraga. Betapa besar dana yang dikucurkan pemerintah pada penyelenggaraan Porda terakhir yang berlangsung di ibukota Kabupaten Muna. Pasti bukan jumlah yang sedikit. Belum lagi Pekan Olahraga Nasional dan lain-lain.
Perhatian besar terhadap bidang olahraga tentu tidak lepas dari bagusnya manajemen organisasi dan pengelolaan kegiatan olahraga oleh induk-induk organisasi setiap cabang olahraga. Namun kenyataannya, bidang seni budaya belum mendapat perhatian sebesar perhatian pemerintah terhadap bidang olahraga ini menyisakan sebuah ironi, karena baik di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota, setidaknya ada satu badan atau dinas yang secara struktural mempunyai tugas dan kewajiban menyelenggarakan program pembinaan dan pengembangan seni budaya. Hal-hal ini lama-kelamaan dapat menyebabkan pudarnya seni budaya Sulawesi Tenggara.
Adapun penyebab pudarnya seni budaya Sulawesi Tenggara sebagai berikut.
a. Kurangnya perhatian dari pemerintah Sulawesi Tenggara dan pemerintah pusat terhadap seni budaya Sulawesi Tenggara. Pemerintah terlalu sibuk dalam mengurusi bidang politik, sehingga lupa akan seni budaya yang mulai pudar di kalangan masyarakat.
b. Kurangnya kemauan dari generasi muda Sulawesi Tenggara untuk mempelajari seni budaya Sulawesi Tenggara. Hal ini disebabkan oleh terpengaruhnya generasi muda terhadap gaya hidup bangsa luar (globalisasi).
c. Adanya stereotif di kalangan masyarakat Sulawesi Tenggara, khususnya dari kalangan generasi muda, bahwa seni budaya Sulawesi Tenggara tidak mencerminkan suatu kemodernan. Seni budaya Sulawesi Tenggara dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Padahal, seni budaya Sulawesi Tenggara juga dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan tidak meninggalkan ciri khas dari seni budaya tersebut.
d. Kurangnya penghargaan dari masyarakat Sulawesi Tenggara terhadap kebudayaannya sendiri. Banyak masyarakat yang merasa kurang percaya diri dengan seni budaya daerah sendiri. Sehingga masyarakat lebih menghargai seni budaya daerah atau bangsa lain daripada seni budaya daerah sendiri.
e. Kurang gencarnya pemerintah Sulawesi Tenggara dalam mensosialisasikan seni budaya daerah. Sehingga karena ketidakpedulian tersebut, masyarakat juga menjadi tidak peduli. Akibatnya, seni budaya Sulawesi Tenggara semakin pudar dari hari ke hari.
f. Kurangnya apresiasi pemerintah Sulawesi Tenggara terhadap karya anak daerah sendiri.
g. Program pemerintah yang tidak jelas dan penempatan pejabat yang bukan ahli di bidang seni budaya.
h. Tidak adanya regenerasi budaya. Dalam hal ini, tidak adanya pewarisan budaya yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya. Sehingga pengetahuan tentang seni budaya daerah akan semakin menurun dan bisa saja menghilang.

2. Dampak Pudarnya Seni Budaya Sulawesi Tenggara terhadap Generasi Penerus
Pudarnya seni budaya Sulawesi Tenggara membawa dampak bagi masyarakat khususnya generasi penerus Sulawesi Tenggara. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap tiga puluh orang siswa siswi, tim penulis menemukan bahwa ternyata masih sangat banyak siswa siswi SMA Negeri 4 Kendari yang kurang dan bahkan tidak mengetahui seni budaya apa saja yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara.
Hal ini menunjukkan minimnya pengetahuan dan minat generasi muda terhadap seni budaya Sulawesi Tenggara. Tentu hal ini merupakan hal yang sangat mengejutkan. Bagaimana mungkin putra putri daerah tidak mengenal seni budaya daerah mereka sendiri. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka bukan merupakan suatu hal yang mustahil apabila generasi Sulawesi Tenggara lima sampai sepuluh tahun ke depan, sudah tidak mengenal seni budaya Sulawesi Tenggara lagi.

B. Upaya Memajukan Seni Budaya Sulawesi Tenggara
Melihat kenyataan yang ada sekarang ini, maka upaya memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Tapi bila kita bersungguh-sungguh melakukannya, maka hal tersebut bukan suatu hal yang mustahil.
Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara. Upaya tersebut dapat dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu diri sendiri dan keluarga. Upaya yang dapat dilakukan adalah mengikuti sanggar seni atau belajar bahasa daerah. Orang tua pun dapat ikut berperan dalam hal ini. Orang tua dapat mengajarkan bahasa daerah, tarian daerah, lagu daerah atau bahkan cerita rakyat Sulawesi Tenggara. Hal ini dapat menjaga dan melestarikan seni budaya Sulawesi Tenggara.
Pemerintah juga dapat berupaya memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara, dengan cara menggencarkan sosialisasi dan menjadwalkan kegiatan-kegiatan tetap agar masyarakat dapat menyalurkan kreativitas seni budaya mereka. Sehingga kegiatan seni budaya tidak lagi dilaksanakan hanya sebatas “dalam rangka”. Pemerintah juga harus menyediakan fasilitas yang memadai sehingga seni budaya Sulawesi Tenggara dapat maju dan berkembang. Misalnya, pemerintah Sulawesi Tenggara dapat membangun gedung kesenian yang ramai dengan berbagai pertunjukan dan diskusi seni serta galeri lukisan yang menjadi pusat pertumbuhan seni rupa.

Tidak hanya masyarakat dan pemerintah. Sekolah juga memiliki andil memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara. Di sekolah hendaknya diadakan pelajaran seni budaya yang khusus mempelajari seni budaya Sulawesi Tenggara. Siswa siswi dapat diajarkan menenun, bermain musik bambu, berbahasa daerah atau menari khas daerah. Misalnya Tari Mowindahako atau Tari Linda.
Sebenarnya tidak sulit untuk memajukankan seni budaya Sulawesi Tenggara. Hanya diperlukan kesadaran dari setiap individu masyarakat. Bukan tidak mungkin pada suatu acara nasional di Jakarta atau di daerah lain, ikon Sulawesi bukan lagi diwakili oleh lagu Angin Mamiri atau poco-poco, tetapi oleh nyanyian dari Sulawesi Tenggara dan tarian Lulo misalnya. Atau mungkin, dalam suatu acara internasional, bukan Bali lagi yang menjadi ikon Indonesia, tetapi Sulawesi Tenggaralah yang menjadi ikon Indonesia. Bukan suatu hal yang mustahil bila kita bersungguh-sungguh memajukan seni budaya kita, tentunya.

BAB V
PENUTUP


A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini, sebagai berikut.
1. Penyebab pudarnya pesona seni budaya Sulawesi Tenggara dapat berasal dari pemerintah dan masyarakat Sulawesi Tenggara sendiri. Pudarnya seni budaya Sulawesi Tenggara dapat berdampak buruk bagi generasi penerus Sulawesi Tenggara.
2. Tidak hanya pemerintah yang dapat berupaya memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara. Masyarakat dan sekolah juga ikut andil memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara.

B. Saran
Sulawesi Tenggara memiliki beragam seni budaya yang memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia. Sayangnya, pesona seni budaya Sulawesi Tenggara yang begitu berpotensi, mulai pudar karena tidak adanya perhatian baik dari pemerintah dan masyarakat. Maka diperlukan upaya untuk memajukan seni budaya Sulawesi Tenggara. Partisipasi positif dari semua pihak sangat diharapkan. Sehingga upaya tersebut dapat terwujud dengan baik dan memberikan manfaat yang besar bagi Sulawesi Tenggara.

Rabu, 23 Maret 2011

Partitur Lagu Perjuangan

Posted by Nur Fadhilah at 8:53:00 AM 3 comments
Halo-halo Bandung
Halo-halo Bandung ibukota Periangan
Halo-halo Bandung kota kenang-kenangan
Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali













Indonesia Pusaka
Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua tempat akhir menutup mata
Indah nian tanah air beta tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Esa bagi bangsa yang memujanya
Indonesia Ibu Pertiwi kau ku puja kau ku kasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku kepadamu rela ku beri


Maju Tak Gentar
Maju tak gentar membela yang benar
Maju tak gentar hak kita diserang
Maju serentak mengusir penyerang
Maju serentak tentu kita menang
Bergerak, bergerak, serentak, serentak, menerkam, menerjang, terjang!
Tak gentar, tak gentar, menyerang, menyerang, majulah, majulah menang!







Mars Pancasila
Garuda Pancasila akulah pendukungmu
Patriot proklamasi sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat makmur, adil, sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju, maju
Ayo maju, maju
Ayo maju, maju











Rayuan Pulau Kelapa
Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat ku cinta
Tanah tumpah darahku yang permai
Kan ku puja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau Kelapa yang amat subur
Pulau melayu pujaan bangsa sejak dulu kala
Melambai-lambai, nyiur di pantai
Berbisik-bisik Raja Klana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku Indonesia








Tanah Airku
Tanah airku tidak ku lupakan, kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang ku cintai, engkau ku hargai
Walaupun banyak negeri ku jalani, yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku merasa senang
Tanahku tak ku lupakan, engkau ku banggakan



Merah Putih
Bendera merah putih, bendera tanah airku
Gagah dan jernih tampak warnamu
Berkibaran di langit yang biru
Bendera merah putih, bendera bangsaku

Bagimu Negeri
Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Senin, 14 Maret 2011

HELLO MISTER!!

Posted by Nur Fadhilah at 10:42:00 AM 2 comments
Senin, 14 Februari 2011. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa saya akan membahas cerita cinta di hari Valentine ini. Tapi, saya tidak akan membahas masalah tukar-menukar cokelat itu, tapi saya akan membahas mengenai pengalaman saya berinteraksi dengan orang asing untuk pertama kalinya.
Minggu, 13 Februari 2011. Tepat pukul 14.30 WITA, saya datang ke sekolah untuk gladi bersih persiapan penyambutan program pertukaran pemuda Australia-Indonesia. Kebetulan saya adalah salah satu panitia lapangan. Hal lain yang membuat saya bersemangat datang ke sekolah karena Pak Arman (guru Bahasa Inggris) menunjukku dan Fadlan untuk menjadi wakil siswa yang mengalungkan dan memberi bunga pada perwakilan pertukaran pemuda Australia-Indonesia. Jujur, saya sangat tegang dan merasa dag dig dug. Ditambah lagi, kami akan gladi bersih bersama para pertukaran pemuda Australia-Indonesia.
Tapi kenyataannya sangat berbeda ketika saya tiba di SMAN 4 Kendari. Kata teman saya, para pertukaran pemuda Australia-Indonesia telah gladi bersih di sekolah pagi tadi. Saya sangat kecewa, apalagi sudah rapi begini (huh!). Akhirnya, saya pun kebagian tugas membersihkan lapangan (mentang-mentang panitia lapangan) bersama teman-teman. Tapi, di sela-sela kesibukan kami, masih sempat-sempatnya juga kami mengambil foto memakai kamera Lia. Pukul 17.00 WITA, saya, Indah dan Titi kembali ke aula. Rencananya, kami mau membicarakan sesuatu dengan Pak Arman. Di aula ada Kak Lulu (pembawa acara), Pak Arman, Pak Mangalisu dan Bu Hayati. Tiba-tiba, Pak Arman memberi usul kalau pembawa acaranya ditambah seorang lagi. Supaya, pembawa acaranya genap dua orang. Pak Arman pun menyuruh saya untuk memanggil Fadlan. Tapi Pak Arman kemudian berkata agar saya saja yang menjadi pembawa acara kedua. Wah, senang juga sih. Dengan senang hati, saya melangkah ke arah Pak Arman. Kak Lulu bertugas membawakan acara dalam Bahasa Inggris dan saya dalam Bahasa Indonesia. Kami pun berlatih hingga pukul 19.00 WITA.
Keesokan harinya, saya sudah bersiap-siap dengan sedikit perubahan penampilan. Saya berpikir, besok adalah hari istimewa dan saya akan menjadi pusat perhatian (he he..). Maka saya melakukan sedikit perubahan pada penampilan saya. Sesampainya di sekolah, teman-teman saya lumayan kaget dengan perubahan penampilan saya. Lho, ini kan hari istimewa. Ya, saya hanya bisa tersenyum.
Rencananya, para pertukaran pemuda Australia-Indonesia akan disambut di lapangan upacara kemudian di aula. Tapi sayang, menjelang selesainya upacara, tiba-tiba turun hujan. Kami para petugas siaga sapu, agak sedikit kecewa dengan turunnya hujan. Padahal kemarin lapangan yang sangat luas ini sudah disapu sampai licin demi menyambut para pertukaran pemuda Australia-Indonesia. Dengan cepat, saya pun segera menuju aula untuk mempersiapkan diri. Di aula sudah menunggu Kak Lulu yang sedari tadi sudah mencari-cari saya. Akhirnya, acara pun dimulai dengan Tari Mondotambe. Awalnya, saya sedikit gugup, tapi Alhamdulillah selanjutnya berjalan dengan lancar. Selanjutnya, acara pertukaran kebudayaan. Mereka menampilkan kebudayaan mereka dan kami juga menampilkaan kebudayaan kami. Yaitu Tari Lulo Kreasi dan paduan suara lagu daerah. Dari kedua penampilan itu, yang paling disukai oleh para pertukaran pemuda Australia-Indonesia adalah paduan suara. Mereka sampai memberikan stand appluse. Memang, paduan suara sekolah kami terkenal sangat memukau penonton dan membuat merinding pendengarnya.
Tiba pada acara yang terakhir, yaitu kujungan ke kelas oleh pertukaran pemuda Australia-Indonesia yang dikawal oleh panitia lapangan dan guru. Saya kebagian mengawal Zee (Lombok, Indonesia) dan Lynn (Canberra, Australia) bersama Bu Mikael di kelas RSBI XI.IA.2. Wah ini bagian yang sangat menegangkan, karena saya harus berbicara dengan sang bule. Alhamdulillah, Bahasa Inggris saya lumayan lancar. Jadi, saya bisa memahami dan merespon perkataan dan pertanyaan dari Lynn. Dia bertanya banyak pada saya. Dan kelihatannya dia sangat senang dengan kunjungan kelas ini. Di dalam kelas, Zee dan Lynn menjelaskan banyak hal tentang program pertukaran pemuda Australia-Indonesia. Kami juga diberi kesempatan untuk bertanya banyak hal kepada mereka. Terakhir, Desi meminta agar Lynn bernyanyi, karena dia sempat mengatakan bahwa dia hobi bernyanyi. Tapi, Lynn tidak mau bernyanyi sendiri. Dia meminta agar Desi ikut menemaninya bernyanyi. Setelah negosiasi lagu, akhirnya mereka menyanyikan lagu sempurna dari Andra and the Backbone. Kami tertawa cekikikan ketika mendengar mereka bernyanyi. Karena Bahasa Indonesia Lynn sangat aneh.
Tapi kesenangan itu harus berakhir karena bus jemputan para pertukaran pemuda Australia-Indonesia sudah datang. Zee dan Lynn terlihat sangat kecewa. Tapi apa boleh buat, mereka harus segera pergi. Sebelum pergi, kami masih sempat bercakap-cakap dan berfoto bersama. Tidak hanya dengan mereka, saya pun menyempatkan diri berfoto dengan bule-bule yang lain. Wah, sangat menyenangkan.
Akhirnya, mereka pun pergi. Pergi dan takkan kembali lagi ke SMAN 4 Kendari. Jadi ingin bernyanyi, “Kapan-kapan kita berjumpa lagi. Mungkin lusa atau di lain hari…”

Jumat, 11 Maret 2011

Mutiara

Posted by Nur Fadhilah at 10:45:00 PM 1 comments
A. Pengertian Mutiara
Mutiara adalah sejenis batu permata dalam berbagai bentuk, hasil biomineralisasi kerang anggota moluska (filum Mollusca). Mutiara alami terbentuk karena iritasi yang disebabkan oleh sesuatu yang asing yang masuk ke dalam kerang. Mekanisme pertahanan diri kerang akibat gangguan iritasi ini menghasilkan nacre yang terkomposisi sebagian besar dari kalsium karbonat. Dengan nacre tersebut, mutiara membungkus kotoran itu sehingga kotoran itu terbentuk menjadi mutiara.
Walau semua kerang dianggap dapat menghasilkan mutiara, namun tidak seluruhnya menghasilkan mutiara dengan kualitas yang dapat diterima sebagai perhiasan. Hanya tiram mutiara dan kerang air tawar yang biasa dimanfaatkan mutiaranya.

a. Tiram
Hanya beberapa jenis tiram dapat menghasilkan mutiara nacreous, walaupun semuanya merupakan anggota keluarga Pteriidae, yang terdiri dari kerang laut sedang hingga besar. Jenis ini merupakan keluarga yang berbeda dari jenis tiram yang orang biasa makan, yang merupakan keluarga Ostreidae, atau tiram sejati.
Genus Pinctada, juga dikenal sebagai tiram mutiara, adalah anggota keluarga Pteriidae yang dapat menghasilkan kualitas mutiara batu permata. Di antara anggota genus Pinctada ini, hanya spesies tertentu menghasilkan mutiara secara komersial layak. Setiap spesies memproduksi berbagai ukuran dan warna mutiara.
• Pinctada radiata, atau Tiram Mutiata Teluk, ditemukan di Mediterania, Teluk Persia, dan Laut Merah. Ini menghasilkan mutiara kecil yang biasanya perak atau kuning.
• Pinctada margaritifera, atauTiram Bibir Hitam ditemukan di bagian-bagian dari Samudera Hindia, bagian Pasifik Selatan, dekat California, dan di Teluk Meksiko. Ini menghasilkan mutiara Hitam dan mutiara Laut selatan, Tahiti.
• Pinctada maxima, atau Tiram Bibir Putih ditemukan di Pasifik Selatan. Jenis ini menghasilkan mutiara laut selatan putih dan emas.
• Pinctada fucata, atau Tiram Mutiara Akoya ditemukan di Samudra Hindia dan Pasifik Barat. Jenis ini menghasilkan mutiara Akoya.
• Pinctada Albina, atau Tiram Mutiara telik hiu ditemukan di perairan sekitar Australia. Ini menghasilkan mutiara Mabe.
Bahkan di antara tiram yang dapat menghasilkan mutiara, mutiara alami terbentuk nilai masih langka. Sering kali, ratusan tiram harus dicari untuk menemukan mutiara alam tunggal. Dalam rangka untuk mencari tiram mutiara adalah untuk harus dipaksa terbuka, membunuh itu dalam proses. Akibatnya, sebagian besar mutiara yang dibudidayakan di peternakan mutiara dengan menanam inti di Tiram.

b. Remis
Berbagai jenis remis air tawar juga bisa menghasilkan mutiara kualitas batu permata. Mereka semua termasuk urutan Unionida berada dalam salah satu dari dua keluarga baik Unionidae atau Margaritiferidae.Jenis Margaritifera margaritifera, benar-benar sangat melekat pada Mutiara Kerang Air tawar. Karena perburua yang berlebihan jenis ini terancam punah. Sebagian besar mutiara air tawar diproduksi di Cina tapi kerang mutiara juga ada di Jepang dan Amerika Utara.
• Margaritifera margaritifera, atau kerang mutiara air tawar atau Kerang Mutiara Eropa ditemukan di Eropa Utara, meskipun terancam punah.
• Schlegelii hyriopsis, atau Kerang Mutiara Biwa ditemukan di Danau Biwa Jepang. Hal ini juga hampir punah.
• Cristaria plicata, atau kerang mutiara balung ditemukan di Cina.
• Cumingii hyriopsis, atau Kerang Mutiara Triangleshell juga ditemukan di China. Ini menghasilkan mutiara kualitas sedikit lebih tinggi daripada balung.
• Teres lampsilis, atau Kerang mutiara kunig sansheel ditemukan di Amerika Utara.
• Quadrula ndulata, atau Kerang Mutiara Wartyback ditemukan di Amerika Utara.
• Megalonaias nervosa, atau Kerang Mutiara Papan ditemukan di Amerika Utara.
• Fusconaia ebena, atau Kerang Mutiara Ebonyshel ditemukan di Amerika Utara.
• Pleurobema cordatum, atau Kerang Mutiara Pigtoe ditemukan di Amerika Utara.
• Quadrula Metanevra, atau Kerang Mutiara Muka-monyet ditemukan di Amerika Utara.

B. Jenis-Jenis Mutiara
Berdasarkan cara pembuatannya, mutiara dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu Mutiara alam dan Mutiara budidaya/buatan.
1. Mutiara Alam
Mutiara alam hampir 100% tersusun atas kalsium karbonat dan conchiolin. Diperkirakan terbentuknya mutiara alam akibat sekumpulan kejadian-kejadian tak disengaja ketika kotoran-kotoran kecil atau parasit masuk kedalam kerang saat kerang tersebut membuka cangkangnya untuk bernapas ataupun makan. Kemudian kotoran-kotoran tersebut tersimpan didalam kerang. Moluska tersebut merasa terganggu oleh benda asing yang masuk, sehingga membentuk kantung mutiara dari sel eksternal jaringan mantel dan mengeluarkan nacre/lendir yang mengandung kalsium karbonat dan conchiolin untuk membungkus dan menutupi benda asing tersebut. Proses sekresi diulang berkali-kali, sehingga menghasilkan mutiara. mutiara alam datang dalam berbagai bentuk, dengan sempurna yang bulat yang relatif langka.

2. Mutiara Budidaya
Pembentukan mutiara ini tidak terjadi secara alami, melainkan dengan kerja manusia. Perbedaannya dengan mutiara alam adalah proses masuknya iritan atau benda asing dalam tubuh kerang. Sepotong jaringan mantel dari kerang pendonor dimasukkan ke dalam kerang. Selanjutnya jaringan tersebut menjadi iritan dalam tubuh kerang da terjadi proses pembetukan mutiara seperti pada mutiara alam. Kadang proses pemasukan jaringan mantel ke tubuh kerang disertai pemasukkan sejenis bahan padat sebagai bahan dasar pembentukan mutiara.
Mutiara budidaya sediri terbagi menjadi 2 jenis yaitu mutiara budidaya air laut dan mutiata budidaya air tawar.
a. Mutiara Budidaya Air Laut
Mutiara budidaya air laut diperoleh dengan melakukan proses budidaya mutiara dengan memanfaatkan kerang dan tiram laut yang dapat menghasilkan mutiara dengan kualitas baik.

b. Mutiara Budidaya Air Tawar
Mutiara budidaya air tawar diperoleh dengan pemanfaatan kerang air tawar sebagai kerang budidaya. Kerang diperoleh dari danau-danau air tawar besar seperti Danau Biwa, Jepang.

Mutiara memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi sebagai perhiasan. Bahkan sejak 260 SM pada Dinasti Han di Cina, orang-orang telah berburu mutiara. Karena banyak variasi mutiara dan kualitasnya di dunia, orang membuat klasifikasi mutiara.

a. Klasifikasi Sistem AAA-A
• AAA : Mutiara kualitas terbaik, tanpa bercak. Sangat berkilau dan setidaknya 95% permukaan tak cacat.
• AA : Sangat berkilau dan 75% permukaan tak cacat.
• A : Mutiara perhiasan kelas terendah, kilau kurang dan >25% permukaan mu tiara bercacat

b. Klasifikasi Sistem A-D
• A : Mutiara kualitas terbaik, sangat berkilau, sedikit cacat <10%>
• B : Sangat berkilau atau kilau sedang. Terlihat sedikit cacat namun tak lebih 30% dari luas permukaan
• C : Kilau sedang, cacat permukaan tak lebih 60%
• D : Memiliki cacat sedikit namun tak dalam dan tak lebih 60% dari luas permukaan

A. Proses Terbentuknya Mutiara
Pada prinsipnya, moluska bercangkang berpeluang menghasilkan mutiara secara alami. Namun tidak semua kerang bisa menghasilkan mutiara yang bagus dan memiliki nilai beli yang lumayan. Kerang penghasil mutiara umumnya berasal dari famili Pteriidae, namun yang umum dikenal hanya jenis-jenis tertentu seperti gold atau silver-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir emas atau bibir perak) Pinctada maxima, black-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir hitam) Pinctada margaritifera, Akoya pearl oyster (kerang mutiara Akoya)Pinctada fucata dan the winged-pearl oyster (kerang mutiara bersayap)Pteria penguin. Semua anggota famili ini hidup di laut. Sedangkan moluska lain penghasil mutiara yang sejauh ini dikenal berasal dari kelompok abalone dan beberapa gastropoda lain serta beberapa jenis kerang bivalvia air tawar.

Setiap jenis kerang mutiara menghasilkan mutiara dengan spesifikasi yang berbeda. Pinctada maxima menghasilkan mutiara relatif lebih besar dari semua jenis kerang penghasil mutiara, berwarna perak, emas dan krem. Jenis ini banyak dibudidayakan di Indonesia, Birma, Thailand dan Australia. Sedangkan kerang jenis Pinctada margaritifera merupakan primadona negara-negara pasifik selatan. Mutiara yang dihasilkannya bervariasi dari warna krem sampai warna hitam. Warna hitam merupakan warna yang diminati pelanggan mutiara dunia saat ini. Dengan demikian harganya sangat mahal. Diameter mutiara yang dihasilkan umumnya lebih kecil daripada yang diproduksi Pinctada maxima. Sementara Pinctada fucata adalah jenis yang banyak dibudidayakan di Jepang, dan Pteria penguin tidak banyak dibudidayakan karena sejauh ini hasilnya diperuntukkan hanya pada kalangan tertentu mengingat bentuk mutiara yang dihasilkannya umumnya tidak bundar.
Perbedaan antara mutiara alam dan budaya berfokus pada apakah mutiara itu diciptakan secara spontan oleh alam (tanpa campur tangan manusia) atau dengan bantuan manusia. Mutiara terbentuk di dalam cangkang moluska, sebagai mekanisme pertahanan terhadap benda asing yang berpotensi sebagai ancaman seperti parasit dalam cangkangnya, atau serangan dari luar yang melukai jaringan mantel.
Mantel moluska menyimpan lapisan-lapisan kalsium karbonat (CaCO 3) dalam bentuk mineral aragonit atau campuran aragonit dan kalsit (polimorf dengan rumus kimia yang sama, tetapi struktur kristal yang berbeda) yang diselenggarakan bersama oleh senyawa organik seperti tanduk disebut conchiolin . Kombinasi aragonit dan conchiolin disebut nakre , yang membentuk cikal bakal mutiara. Pemahaman bahwa sebutir pasir bertindak sebagai iritan, sebenarnya jarang terjadi. Rangsangan-rangsangan yang meliputi bahan organik, parasit atau bahkan kerusakan mengakibatkang perpindahan mantel jaringan ke bagian lain dari tubuh hewan. Partikel-partikel kecil atau organisme masuk ke dalam cangkang kerang ketika katup terbuka untuk makan atau respirasi. Dalam mutiara budidaya, zat penyebab iritasi tersebut biasanya merupakan bagian epitel mantel kerang lain bersama atau tanpa bibit mutiara/benda asing.
a. Pembuatan Mutiara Secara Alami
Di alam, mutiara terbentuk akibat adanya iritan yang masuk ke dalam mantel kerang mutiara. Fenomena adanya iritan ini sering juga ditafsirkan dengan masuknya pasir atau benda padat ke dalam mantel kemudian benda ini pada akan terbungkus nakre sehingga jadilah mutiara. Secara teoritis, Elisabeth Strack (secara mendalam terdapat dalam buku Pearls tahun 2006) mendeskripsikan terbentuknya mutiara alami terbagi atas dua bagian besar, terbentuk akibat irritan dan masuknya partikel padat dalam mantel moluska. Pada prinsipnya, mutiara terbentuk karena adanya bagian epitel mantel yang masuk ke dalam rongga mantel tersebut. Bagian epitel mantel ini bertugas
mengeluarkan/mendeposisikan nakre pada bagian dalam cangkang kerang disamping membentuk keseluruhan cangkang.
Teori iritan mengungkapkan bahwa pada suatu saat bagian ujung mantel sang kerang dimakan oleh ikan, hal ini dimungkinkan karena kerang akan membuka cangkang dan menjulurkan bagian mantelnya untuk menyerap makanan. Saat mantelnya putus, bagian remah eptiheliumpun masuk ke dalam rongga mantel. Teori iritan juga mengungkapkan bahwa bisa saja mutiara terbentuk akibat masuknya cacing yang biasanya menempati moluska pada masa perkembangannya kemudian berpindah ke organisme lain. Cacing ini merusak dan memasuki rongga mantel. Cacing ini tanpa sengaja membawa bagian epithelium yang ada di permukaan mantel bersamanya. Bila cacing mati dalam rongga mantel, maka cacing ini akan dibungkus oleh epithelium, membentuk kantung mutiara dan akhirnya terbentuklah mutiara. Kalaupun cacing itu bisa melepaskan diri, maka epithelium yang tinggal dalam rongga mantellah yang akan membentuk mutiara setelah sebelumnya membentuk kantung mutiara.
Sementara teori yang kedua adalah masuknya partikel padat ke dalam rongga mantel. Partikel padat bisa saja terperangkap di dalam tubuh kerang akibat dorongan air. Saat kerang ini tak bisa mengeluarkannya, partikel inipun bisa saja masuk ke rongga mantel. Saat dia masuk, epithelium juga ikut bersamanya. Epithelium ini akhirnya membungkus partikel padat sehingga terbentuklah kantung mutiara. Kantung mutiara ini akhirnya akan mendeposisikan nacre ke partikel padat tersebut. Namun demikian sejauh ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung teori masuknya pasir ke dalam mantel kerang mutiara walaupun teori ini dipahami sejak lama. Dari beberapa mutiara alami yang dibedah, menunjukkan bahwa bagian inti mutiaranya bukanlah partikel padat.
b. Pembuatan Mutiara Secara Budidaya
Sebelum kegiatan operasi, kerang mutiara jauh hari sebelumnya sudah mengalami proses yang disebut weakening (membuat kerang mutiara menjadi lemah). Proses ini biasanya dari 2 minggu sampai sebulan tergantung jenis dari kerang mutiara. Proses ini dimaksudkan supaya kerang mutiara akan akan mengalami stress dan memasuki fase reproduksi dengan cepat sehingga apabila operasi dilaksanakan gonadnya sudah kosong. Bila gonad dalam keadaan penuh maka kegiatan operasi akan menyulitkan dan bahkan banyak mengalami kegagalan. Proses weakening ini bisa dengan menutup kerang mutiara dengan sarung yang berpori sangat kecil sehingga partikel makanan tersaring atau bahkan kerang mutiaranya ditumpuk bersama kemudian dibungkus dengan sarung berpori kecil.
Dalam kondisi ini, kerang mutiara masih bisa bertahan hidup walau makanan dalam partikel yang lebih besar sudah tak ada lagi. Setelah proses ini, kerang mutiara diangkat ke darat (bila operasi dilaksanakan di darat) dan mengalami proses weakening lanjutan di dalam tanki. Mereka ditumpuk bersama sehingga mereka makin lemah akibat konsumsi makanan dan oksigen yang rendah. Bila operasi dilakukan tanpa proses ini, kerang mutiara masih sangat kuat untuk menendang keluar nucleus yang dimasukkan ke dalam gonadnya. Bahkan untuk jenis kerang terbesar P. Maxima, otot mereka sangat kuat bila tak melewati proses weakening sehingga cangkangnya sangat susah dibuka. Pada saat-saat tertentu air dikeluarkan dari tanki sehingga memaksa kerang untuk membuka cangkangnya.
Saat kerang membuka cangkang peg (pengganjal) disisipkan diantara kedua cangkang kemudian kerang siap dioperasi. Pada saat tanpa air, kerang akan membuka cangkang sementara mantelnya akan tertarik ke dalam. Hal ini memudahkan kegiatan pegging karena saat ditutupi air kerang akan membuka cangkang namun bagian tepinya akan tertutup mantel, akibatnya apabila dilakukan pengganjalan maka peg akan melukai mantel kerang.

Mutiara hasil budidaya menggunakan prinsip terbentuknya mutiara alami dengan sebuah nucleus sebagai dasar terbentuknya mutiara. Seorang teknisi terlatih akan menyiapkan inti mutiara yang biasanya bulat dan berasal dari cangkang kerang lain dan potongan mantel atau disebut juga saibo yang diambil dari kerang mutiara lain. Pemilihan donor ini mempertimbangkan warna dan kualitas nacre Mother of Pearl-nya (yang terdapat pada bagian sisi dalam cangkang kerang). Awalnya sang teknisi akan membunuh kerang donor dengan hati-hati agar supaya tak menyentuh mantelnya. Bila mantelnya tersentuh, maka mantel akan berkeriput akibat reaksi dari si kerang. Membunuh kerang donor dilakukan dengan menyisipkan pisau di antara dua cangkang dan memotong otot aduktor dari kerang donor. Saat terbelah, kerang didiamkan sampai benar-benar mati sehingga saat bagian mantelnya disentuh dia tak bereaksi lagi. Selanjutnya dipotonglah bagian mantel yang menempel pada kedua cangkang dan mantel tersebutpun dipotong lagi kecil-kecil (kira-kira 3 x 3 mm). Bagian mantel yang dipersiapkan untuk penyisipan disebut saibo, sehingga kerang donor disebut juga kerang saibo.
Saat operasi penyisipan, kerang penerima sudah dipegging (ditempatkan pasak antara kedua cangkang). Kerang penerima ini ditempatkan sedemikian rupa agar mudah dioperasi. Shell opener bertugas untuk membuka cangkang lebar-lebar, kemudian teknisi akan mengiris tipis bagian antara gonad dan kaki dari kerang sebagai tempat masuknya inti dan saibo. Ukuran Intipun dipilih sesuai dengan ukuran gonad. Setelah itu intipun dimasukkan se dalam-dalamnya ke dalam gonad kemudian disusul dengan satu lembar saibo. Lembar saibo ini ditempatkan sedemikian rupa agar melekat di inti dengan bagian ectoderm (yang berisi epithelium penghasil nacre) menghadap inti. Karena bila terbalik maka kemungkinan terbentuk mutiara bulat sangat kecil. Setelah itu kerangpun ditempatkan ke keranjang atau panel dan akhirnya dikembalikan ke laut. Teknik operasi dan pasca operasi bervariasi setiap perusahaan mutiara. Pada prinsipnya, dengan menerapkan teknik-teknik tertentu, kerang mutiara tak akan ”menendang” keluar inti yang disisip dan akhirnya bisa menghasilkan mutiara bulat yang berkualitas baik. Proses pemilihan kerang untuk penerima/penghasil mutiara juga mempertimbangkan umur kerang dan masa reproduksinya. Bila kerang dalam masa reproduksi maka gonadnya akan penuh, sehingga dianggap tak cocok untuk disisipkan inti.
Kemampuan teknisi akan menentukan kualitas mutiara yang dihasilkan nanti.
 

Dhilah siBluuu Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review