Sabtu, 06 April 2013

THEORIES OF DRAMA

Posted by Nur Fadhilah at 11:21:00 PM 0 comments
1. Aristotle offered drama as a general term to describe forms of poetry that were ‘acted’, he identified different types of composition within this category, including comedy and tragedy. He regarded comedy as a form of drama because it represented acts that made audiences laugh and he considered tragedy a form of drama because it represented acts that made audiences feel pity or fear.

2. O’Neill said drama is a mode of learning.

3. Moreno believed that drama enabled spontaneous activity, and in this turn developed the creativity of the self.

4. Harriet Finlay‐Johnson (1871 — 1956) declare that drama arouses a keen desire to know.

5. Bolton argues that drama is not about self-expression, he further states that drama is a social event and is always concerned with something outside oneself.

6. According to Kenneth Tynan, good drama is made up the thoughts, the words, and the gestures that are wrung from human beings on their way to, or in, or emerging from a state of desperation.

7. Coughlan said drama being a scientific mode of enquiry, each session being a laboratory for living.

8. Of his theatrical structure, Brecht writes “The individual episodes have to be knotted together in such a way that the knots are easily noticed. The episodes must not succeed each other indistinguishably bur must give us a chance to interpose our judgment.”

9. According to Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary/Thesaurus (1996), drama is a composition in verse or prose intended to portray life or character or to tell a story usually involving conflicts and emotions through action and dialogue and typically designed for theatrical performance.

10. Dr. Elizabeth F. Loftus believed that drama shows how false events can become reality in a person's mind and how subjects can confuse or combine dreaming and waking events.

Kamis, 14 Februari 2013

LITERATURE THEORIES

Posted by Nur Fadhilah at 3:35:00 AM 0 comments
1. According to Henry Van Dyke, literature consists of those writings which interpret the meaning of nature and life, in words of charm and power, touched with the personality of the author, in artistic forms of permanent interest.

2.According to Imam Ja’far al-Sadiq (Muslim scholar and philosopher), literature is the garment which one puts on what he says or writes so that it may appear more attractive.

3. According to Roman Jacobson (Russian formalist), literature is organized violence committed on ordinary speech.

4. According to Ezra Pound, great literature is simply language charged with meaning to the utmost possible degree.

5. According to Peter Lamarque, part of what is involved in appreciating a work of art as a work of art is to appreciate it as an artifact designed for a purpose.

6. According to McRae (1991), a literary text as any imaginative material that stimulates a response in the reader, including songs, cartoons, idioms and proverbs.

7. According to Halliday (1985), the text as an expression of experience can be the closest definition of literature, and if readers can identify with events or characters and project themselves into them imaginatively, then a certain truth to experience can be created.

8. Maley (2001) believes that in the post-modern, deconstructionist age, the definition of literature took on a new shape to include texts such as advertising copy, graffiti and public notices which use literary devices like parallelism, rhyme, rhythm and metaphor.

9. Williams (1976) believes that literature is a difficult word, in part because its conventional contemporary meaning appears, at first sight, so simple.

10. Miller (2002) believes that literature is associated with the gradual rise of almost universal literacy in the West.

Senin, 04 Februari 2013

LOVEY DOVEY COOKEY [PART 5]

Posted by Nur Fadhilah at 4:50:00 AM 7 comments

Author : Nur Fadhilah
Genre : Comedy romantic (comrom)
Length : Series
Rating : PG-13
Main casts : Choi Jin Ri (Sulli f(x)), Choi Minho (Minho SHINee), Kwon Yuri (Yuri SNSD), Kim Ki Bum (Key SHINee)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fan fiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)


Baca PART 4 dulu ne...


Previous part:
Tok.. tok.. tok..

Jin Ri berusaha bangkit dan membuka pintu.

Dilihatnya seorang lelaki berdiri di depan pintu. Ia tak dapat mengenali wajahnya. Semua terlihat berputar dan samar.

“Kau… baik-baik saja?” tanya orang itu khawatir melihat keadaan Jin Ri.

Pandangan Jin Ri tiba-tiba berubah menjadi gelap.

BRUK!

Jin Ri ambruk.


*****

“Hei, ka… kau baik-baik saja? Hei!”

Laki-laki itu jongkok di samping Jin Ri yang sudah jatuh pingsan.

“Apa kau benar-benar pingsan?”

Tak ada jawaban.

Wajah laki-laki itu pucat.

“Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu apa-apa. Nanti kalau aku dituduh macam-macam bagaimana?” pikirnya.

“Permisi! Apa ada orang di rumah? Bibi! Ki Bum! Jin Ri pingsan…”

Juga tak ada jawaban.

“Apa dia sendirian di rumah?”

Tanpa pikir panjang lagi, dia segera menggendong tubuh Jin Ri yang terkulai lemas tak berdaya, lalu membaringkannya di atas sofa di ruang tamu.

“Ah… kau berat sekali…” keluhnya.

“Hei, bangun…!” laki-laki itu menepuk-nepuk pipi Jin Ri, namun masih tak sadarkan diri.

Laki-laki itu segera berlari ke dapur untuk mengambil segelas air hangat. Ia lalu kembali dan menepuk-nepuk pipi Jin Ri lagi.

“Ayo, bangun…!”

Perlahan Jin Ri membuka matanya. Samar-samar ia melihat sesosok laki-laki di depan wajahnya.

“K… Kak Kibum? Bagaimana keadaan kakek?” suara Jin Ri parau.

“Ki Bum? Aku bukan Ki Bum…”

Perlahan, pandangan Jin Ri semakin jelas. Benar, laki-laki itu bukan Ki Bum.

“AAAAAAAA!!!” Jin Ri bangun seketika.

“Aw!” Minho memegang jidatnya.

Kepala mereka berdua tertumbuk sewaktu Jin Ri bangun tadi.

“KAU SIAPA? Me… mengapa kau di sini?” Jin Ri ketakutan sambil menutupi dadanya.

“He, hei… jangan berburuk sangka! Aku tidak melakukan apa-apa. Tiba-tiba, kau pingsan begitu saja sewaktu melihatku. Aku Minho, teman Ki Bum. Kau masih ingat aku kan?”

Jin Ri mencoba mengingat-ingat. Ia memegangi kepalanya.

“Kau…”

“Kembalikan dompetku!”

“Apa?”

“Jangan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa ya! Kembalikan dompetku sekarang!”

“Hei, apa yang kau bicarakan? Dompet apa yang harus kukembalikan?”

“Tentu saja dompetku. Cepat kembalikan!”

“Kau ini kenapa sih? Aku tidak pernah mengambil dompetmu…”


“Ah… aku ingat…” jawab Jin Ri malu-malu.

“Waktu itu aku juga pernah datang ke sini. Apa kau sepelupa itu?”

Jin Ri tersenyum keki.

“Maaf waktu itu aku belum sempat minta maaf... Aku sungguh menyesal… Maafkan aku…” Jin Ri lalu berdiri dan membungkuk tanda permintaan maafnya.

“Ah, tidak usah meminta maaf! Aku saja sudah melupakannya.”

Jin Ri tersenyum kecil.

“Oh, ya. Aku ke sini ingin bertemu Ki Bum. Kuhubungi ponselnya tapi tidak aktif. Jadi aku datang saja ke sini. Tapi kelihatannya cuma kau sendiri di rumah. Ki Bum ke mana?” Minho membuka pembicaraan baru.

“Kak Ki Bum pergi ke…” Jin Ri kembali mengingat masalah kakeknya.

“Kakek… ya ampun, kakek…”

Jin Ri menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Matanya berair. Ia lalu berlari mengambil ponselnya lalu menghubungi Ki Bum.

“Dia kenapa sih? Tadi senyum-senyum, sekarang menangis. Aneh…” batin Minho.

‘Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jaringan. Silakan coba beberapa saat lagi!’

Jin Ri mencoba menghubungi ayahnya.

Sama. Tidak aktif.

Jin Ri lalu menhubungi nomor ibunya.

Tit.. tit.. tit..

“Yah, ibu malah tidak membawa ponselnya…” ucap Jin Ri kecewa melihat ponsel ibunya yang berdering di atas meja.

“Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa tinggal diam di rumah. Gara-gara aku kakek jadi seperti ini. Aku harus tahu bagaimana keadaan kakek sekarang. Ya, aku harus ke rumah sakit!” pikir Jin Ri.

Jin Ri lalu mencari kunci mobil Ki Bum.

“Lah, tadi kan kakak membawa mobilnya. Yang ada cuma mobil ayah. Aku tidak berani memakainya tanpa seizin ayah…”

“Maaf, tadi kau belum menjawab pertanyaanku. Ki Bum pergi ke mana? Apa perginya lama?” Minho bertanya lagi karena merasa Jin Ri tak menanggapinya.

“Kau bawa mobil?” Jin Ri balik bertanya.

Minho bingung. Namun tetap mengangguk.

“Boleh aku minta tolong diantarkan ke rumah sakit?”

“Siapa yang sakit?”

“Nanti akan kujelaskan di perjalanan. Kumohon, kita harus cepat!”

“Ba… baiklah…” Minho pasrah.

*****

Ambulance tiba di rumah sakit. Perawat yang sudah menanti kedatangannya dengan sigap memindahkan Kim Myungsuk dari mobil ke tempat tidur rumah sakit. Ia lalu dibawa ke ruang gawat darurat.

Kim San, Min Ah, dan Ki Bum menunggu dengan gelisah. Berkali-kali Kim San berjalan bolak-balik di depan pintu ruang gawat darurat. Setelah menunggu sekian lama, dokter yang memeriksa Kim Myungsuk keluar dengan tersenyum.

“Anda tenang saja. Untung cepat dibawa ke rumah sakit, jadi masih bisa ditangani. Beliau hanya perlu banyak istirahat dan tidak boleh memikirkan hal-hal berat untuk sementara waktu ini,” jelas sang dokter.

“Baik, terima kasih, Dok.”

Tidak lama setelah itu, Kim Myungsuk yang masih belum sadarkan diri sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kim San, Min Ah, dan Ki Bum masih setia menunggui Kim Myungsuk hingga siuman.

*****

“Jadi kau akan dijodohkan?” tanya Minho setelah mendengar cerita Jin Ri.

“Mm… Tapi aku tidak menyangka kalau penolakanku akan berdampak buruk bagi kakek…” ucap Jin Ri lirih.

“Mungkin kakekmu berharap banyak padamu. Makanya dia sangat kaget ketika kau menolak permintaannya…”

“Bagaimana menurut kakak? Apa sebaiknya kuterima saja perjodohan itu demi kesehatan kakek?”

“Ha? Kau jangan bertanya padaku… itu sih terserah padamu saja…” jawab Minho yang sibuk menyetir.

Jin Ri menghela napas.

“Kakak tidak mungkin mengerti bagaimana rasanya dijodohkan. Bagaimana rasanya ketika harus menikah dengan orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Menikah dengan orang yang tidak kita cintai…”

Minho memandang Jin Ri.

“Siapa bilang aku tidak mengerti?”

“Memangnya kakak juga dijodohkan?” Jin Ri balik bertanya.

Minho terdiam.

“Bukan urusanmu!” jawabnya dingin.

Jin Ri memanyunkan bibirnya.

Mobil Minho kini sudah memasuki pelataran rumah sakit.

“Kalau bukan karena janji kakek dengan almarhum temannya 13 tahun yang lalu, pasti semua ini tidak perlu terjadi…”

“APA?” Minho menghentikan mobilnya mendadak.

“Apa?” Jin Ri tak mengerti apa yang ditanyakan Minho.

“Apa kau bilang tadi?”

“Kalau bukan karena janji kakek dengan almarhum temannya 13 tahun yang lalu, pasti semua ini tidak perlu terjadi,” Jin Ri mengulang pernyataannya tadi.

“Apa kau tahu siapa nama teman kakekmu itu?” Minho semakin penasaran.

“Choi… Soo... Ah, aku tidak begitu mengingatnya…”

“Choi Soo Hyun?”

“Ah, benar. Kakak kok tahu?”

Minho diam. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Terserahlah. Aku turun dulu. Terima kasih atas tumpangannya…”

Jin Ri membungkukkan sedikit kepalanya, lalu turun dari mobil. Ia berlari memasuki rumah sakit.

“Jadi… Jin Ri…”

Minho masih belum bisa percaya.

*****

Tok.. tok.. tok..

Jin Ri membuka pintu.

“Jin Ri?”

Kim San, Min Ah, dan Ki Bum kaget melihat kedatangan Jin Ri.

“Mengapa kau kemari? Bukankah ibu menyuruhmu tetap di rumah?” tanya Min Ah lembut.

“Maaf, Bu, Yah… aku tidak bisa tinggal di rumah dengan tenang sementara kalian berada di sini menunggui kakek. Seharusnya aku yang berada di sini. Karena gara-gara aku kakek menjadi seperti ini. Aku adalah orang yang patut disalahkan…”

Min Ah lalu memeluk Jin Ri.

“Sudahlah… jangan membahas yang telah lalu… sekarang kita sebaiknya berdoa demi kesembuhan kakek…”

“Dokter juga tadi mengatakan kalau ayah baik-baik saja. Dia hanya sedikit kaget…” Kim San menambahkan sambil tersenyum.

Ki Bum tiba-tiba berdiri. Ia lalu menarik tangan Jin Ri keluar dari rumah sakit. Jin Ri yang bingung pasrah saja tangannya ditarik-tarik. Ki Bum membawanya ke halaman rumah sakit. Mereka berdua duduk di bangku yang ada di situ.

“Terima saja!” Ki Bum memulai pembicaraan.

“Maksud kakak?” Jin Ri belum mengerti.

“Aku sudah tahu duduk permasalahannya dari ayah dan ibu. Jadi kuminta agar kau menerimanya saja.”

“Oh…” Jin Ri berpikir sejenak.

“Tapi itu tidak semudah yang kak…”

“Kakek adalah tipe orang yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Kakek tidak pernah memohon kepada orang lain. Apalagi sampai sakit seperti ini. Terakhir kali kakek masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh ketika nenek meninggal,” Ki Bum memotong perkataan Jin Ri.

Jin Ri memperhatikan Ki Bum.

“Itulah mengapa kakek menjadi pribadi yang sangat keras. Namun kali ini kakek bersedia mengorbankan harga dirinya demi memohon agar kau bersedia dijodohkan denga cucu temannya. Aku tahu ini berat, tapi aku tidak tega melihat kakek seperti ini. Kau mungkin tidak mengerti, tapi dia kakekku…”

Jin Ri kembali menjatuhkan air matanya.

“Aku mungkin tidak mengenal siapa kakek kandungku. Tapi aku senang memiliki kakek seperti kakek. Meskipun dia kelihatannya tak suka denganku, tapi aku tahu dia menyayangiku. Maafkan aku kalau aku sudah membuat kakak marah. Tapi kini dia juga kakekku. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Terima kasih atas nasihatnya. Aku akan kembali.”

Jin Ri berdiri. Ki Bum memandangi kepergian Jin Ri.

*****

Klek.

Jin Ri membuka pintu.

Min Ah tersenyum, lalu menyuruh Jin Ri masuk. Kim Myungsuk sudah sadar rupanya.

Min Ah menarik Kim San keluar dari kamar.

“Biarkan mereka berdua bicara…” bisik Min Ah.

Kim San sempat menepuk Jin Ri sebelum keluar.

“Untuk apa kau ke sini?” tanya Kim Myungsuk dingin setelah Kim San dan Min Ah keluar kamar.

“Aku… aku ingin melihat keadaan kakek…” jawab Jin Ri dengan perasaan takut.

“Aku sudah tak ingin melihatmu.”

“Kakek, kumohon maafkan aku…” pinta Jin Ri.

“JANGAN PANGGIL AKU KAKEK. AKU BUKAN KAKEKMU!!”

Kim Myungsuk merintih memegang dadanya yang masih sakit.

“Kakek…” Jin Ri ingin menyentuh kakeknya tapi ditepisnya.

“Jangan sentuh aku. Aku sudah tak sudi lagi berurusan denganmu. Pergi!”

“Aku tidak akan pergi,” Jin Ri bertahan.

“Kalau begitu biar aku yang pergi. Aku akan kembali ke Jerman segera setelah aku keluar dari sini.”

Air mata Jin Ri mengalir. Ia duduk di sisi kakeknya. Ia mengambil napas dalam-dalam.

“Aku sudah memikirkannya. Kalau memang hanya perjodohan ini yang membuat kakek memaafkanku, maka aku akan menerimanya. Kakek tidak perlu khawatir mengenai ibuku. Aku yang akan memberitahunya. Aku pastikan dia akan menyetujui perjodohan ini…”

Jin Ri mengambil tangan kakeknya, lalu menciumnya. Masih denga air mata yang mengalir.

*****

Ki Bum duduk termenung sendirian di taman. Setelah beberapa saat, ia berdiri dan memutuskan untuk kembali ke kamar rawat kakeknya. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Siang itu rumah sakit lumayan sepi. Kini ia hampir sampai di kamar kakeknya.

“Ki Bum?”

Ki Bum mengangkat wajahnya.

“Minho? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya kaget melihat kehadiran Minho sambil berjalan mendekatinya.

“Aku yang mengantar Jin Ri ke sini. Apa dia tak cerita padamu?”

“Mengantar Jin Ri? Bagaimana bisa? Dia tidak bercerita soal kedatangannya ke sini denganmu…”

“Oh… aku tadi ke rumahmu. Tapi kau tak ada. Dia meminta tolong padaku agar mengantarnya ke sini. Katanya kau juga ada di sini. Aku sekalian ingin menjenguk kakekmu,” katanya sambil menunjukkan karangan bunga yang baru dibelinya.

Ki Bum menyeringai.

“Perhatian sekali kau pada kakekku!”

“Toh dia juga nanti akan menjadi kakekku…”

“Maksudmu?”

“Jadi kau belum tahu?”

“Tahu apa?”

“Kukira hanya Jin Ri yang tidak tahu. Ternyata kau juga belum tahu…”

“Tunggu, masalah apa yang kau bicarakan?” tanya Ki Bum yang sepertinya mulai tahu maksud perkataan Minho.

“Mengenai perjodohanku dan Jin Ri…”

“Apa? Jadi kau orangnya?”

*****

“Kau benar akan melakukannya?” tanya Kim Myungsuk masih dengan suara paraunya.

Jin Ri mengangguk.

Kim Myungsuk lalu merangkul leher Jin Ri dan memeluknya.

“Terima kasih… terima kasih…”

Jin Ri bisa merasakan air mata kakeknya yang mengalir membasahi sedikit rambutnya. Jin Ri juga menangis. Walaupun hatinya terasa berat, tapi ia melakukan semua ini demi kakeknya.

Jin menepuk-nepuk lengan kakeknya, lalu melepaskan pelukannya.

“Kakek sebaiknya istirahat dulu. Kondisi kakek masih lemah. Aku tak mau melihat kakek sedih lagi, apalagi menangis seperti ini. Kakek jadi terlihat sangat-sangat lemah. Kukira kakek adalah orang yang kuat, tegas, dan pantang menyerah?” hibur Jin Ri sambil mengusap air matanya.

Kim Myungsuk tersenyum.

“Memang benar kata Min Ah dan Kim San. Kau memang anak yang baik dan selalu menciptakan keceriaan di mana pun kau berada…” pujinya.

“Kalau begitu, kakek berhutang 1 keceriaan padaku. Kakek harus membayarnya dengan cara cepat sembuh,” ucap Jin Ri tersenyum.

“Sekarang kakek harus istirahat!” perintah Jin Ri sambil menurunkan sandaran tempat tidur dan menaikkan selimut kakeknya hingga menutupi dadanya.

Kim Myungsuk menurut. Ia lalu memejamkan matanya.

Tit.. tit.. tit..

Ponsel Jin Ri berdering. Dari Jisun.

Jin Ri hendak mengangakat teleponnya di luar ruangan agar tidak mengganggu ketenangan kakeknya. Ia lalu membuka pintu. Tapi ditutupnya lagi ketika melihat kedatangan Minho.

“Halo, Jisun, kalau tak penting aku akan meneleponmu kembali sebentar,” bisiknya singkat.

“Ki Bum?”

Jin Ri membuka sedikit pintu agar bisa melihat apa yang terjadi.

“Minho? Apa yang kau lakukan di sini?” itu kakaknya.

“Aku yang mengantar Jin Ri ke sini. Apa dia tak cerita padamu?”

“Mengantar Jin Ri? Bagaimana bisa? Dia tidak bercerita soal kedatangannya ke sini denganmu…”

“Oh… aku tadi ke rumahmu. Tapi kau tak ada. Dia meminta tolong padaku agar mengantarnya ke sini. Katanya kau juga ada di sini. Aku sekalian ingin menjenguk kakekmu.”

“Perhatian sekali kau pada kakekku!”

“Toh dia juga nanti akan menjadi kakekku…”

“Maksudmu?”

“Jadi kau belum tahu?”

“Tahu apa?”

“Kukira hanya Jin Ri yang tidak tahu. Ternyata kau juga belum tahu…”

Mendengar namanya disangkut-pautkan oleh Minho, Jin Ri ikut merasa penasaran.

“Tunggu, masalah apa yang kau bicarakan?”

“Mengenai perjodohanku dan Jin Ri…”

“Apa? Jadi kau orangnya?”

Jin Ri tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Kau tahu kalau dia dijodohkan, tapi tak tahu dengan siapa?”

“Aku hanya tahu kalau dia dijodohkan dengan almarhum teman kakek.”

“Awalnya aku juga begitu. Aku hanya tahu kalau aku akan dijodohkan dengan cucu teman kakek. Jika bukan karena Jin Ri yang menyinggung masalah perjanjian kakekmu dan kakekku, aku juga tak akan tahu secepat ini…”

“Jadi kau setuju? Lalu bagaimana dengan Yuri? Dia sudah tahu?”

“Sudah…”

“Apa katanya?”

“Itulah yang ingin kubicarakan denganmu. Makanya aku datang mencarimu di rumah tadi…”

“Tidak baik bicara di sini. Ayo kita ke tempat lain!”

Jin Ri lemas. Ia lalu membuka pintu. Dilihatnya Minho dan Ki Bum pergi. Ia dijodohkan dengan Minho. Dengan cepat dicarinya kontak Jisun.

Tersambung.

“Halo. Kau kenapa tadi? Seenaknya saja memutuskan pembicaraan…” omel Jisun.

“Jisun, aku tak percaya ini. Sungguh tak percaya…”

To be continued


Author’s NOTE:

Hai hai.. sudah PART 5 nih. Makin seru aja nggak nih?? Pastinya dong!!! *author pede abisss…

Sebenarnya untuk part ini saya masih mau panjangin sedikit lagi, tapi keburu waktu. Berhubung besok saya sudah mulai kuliah untuk semester 2, takutnya sudah tidak ada waktu buat lanjut ngetik lagi. Nanti malah bersarang laba-laba di lappyku seperti part-part sebelumnya. Lumayan kan, selama liburan bisa publish 3 part. Yah nanti dilihat deh, kalau kuliah masih belum sibuk, Insya Allah lanjutannya bakalan cepat kok. Palingan sebulan atau 2 bulan.. *yah, itu mah kelamaan, hehe…

Okay. Now, please drop your comment. Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakan. Hehe… ^lol^

:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::

Kamis, 31 Januari 2013

REUNI 2 DUNIA

Posted by Nur Fadhilah at 7:40:00 AM 0 comments
Wes… apa lagi ini?? Judulnya reuni 2 dunia. Dunia apaan yak? Dunia nyata dan dunia ‘lain’ kah?? Hehe… nggak dong bro en sis pembaca setia blogku yg imut-imut :D Maksudku tuh, reuni SD (uzur banget ya?) dan reuni SMA.

Sebenarnya dari kedua reuni yang telah saya sebutkan di atas, tidak ada satupun dari mereka yang tersimpan dokumennya di otakku. Saya lupa total loh. Itu pun nggak tahu kenapa kok waktunya bisa bersamaan. Mantan teman SMAku, Afriyanti S. Lamuru dan Arni Aries, sudah sibuk nge-sms para ANALYSIS (termasuk saya) untuk datang di tempat dan waktu yang disediakan. Saya sih oke-oke saja.

Besok siangnya, kakakku ngajakin ke pelabuhan buat menjemput kakakku yang berdomisili di Raha beserta keluarganya. Setelah shalat Dzuhur, kami langsung meluncur ke sana. Eh, pulangnya singgah di Bakso Solo. Jadi sampai di rumah sekitar pukul 02.30 WITA. Pas nyampe rumah, saya angkat jemuran dulu, terus disuruh mengantar kue di masjid buat acara maulid sebentar sore.

Sepulang dari masjid, tiba-tiba masuk sms dari nomor tidak dikenal.

“Sebentar jadi di PH?”

“Maaf, ini siapa? Btw, PH itu apa?” balasku polos.

“Saya Kia. PH itu Pizza Hut…”

Aduh, dasar kuper!! PH aja nggak tahu. Di Kendari kan sudah ada Pizza Hut gitu di Lippo Plaza. Haha :D

“Oh, Kia… Memang kita pernah buat janji ya di PH?” tanyaku sok pake kata ‘PH’.

“Loh, kamu ndak diberitahu sama Fira kalau sebentar kita mau reunian?”

“Hah? Memang iya? Tidak tuh… Jam berapa?”

“Jam 4.”

“Oh, oke!”

Berakhirlah sms-an ku dan dirinya.

Setengah jam kemudian…

Saya memeriksa hp-ku yang lain (ciee… brp sih hp-ku memang??)

Ada sms lagi dari Afri. Katanya jangan lupa sebentar sore. Sekitar jam 3 ngumpul di Es Teler KONI.

Astaghfirullah… saya baru ingat kalau saya sudah ada janji duluan buat reunian dengan teman-teman SMAku tersayang. Lah, baru saya sok berjanji lagi reunian sama teman-teman SDku. Aduuh… gimana ini? Malah sekarang sudah jam setengah 4, belum mandi lagi. Weleh-weleh… akhirnya buru-buru dah siap-siap dan go…!!! Tidak lupa sms Kia kalau saya baru bisa datang sekitar pukul 5 karena harus jadi tamu agung dulu, hehe…

Sesampainya di sana, awan mendung, angin kencang, dan guntur dengan manis menyambutku. Hiiiii… segera kutelepon Arni minta jemput. Saya kan takut… (abaikan).

Wah… ternyata sudah banyak yang datang, walaupun hanya ¼ nya. Tapi tidak apalah. Saya langsung saja memesan makanan, berhubung mereka semua sudah menghabiskan es telernya. Saya pesannya beda dong. Saya pesan Es Buah Bandung. Jreng.. jreng.. ini dia… slurp, yummy!!

Maka berceritalah kami mengenang masa lalu sambil menunggu teman-teman lain yang belum datang. Tepat setelah Es Buah Bandung-ku ludes, barulah teman-teman yang lain pada datang. Meskipun yang sempat hadir hanya 9 orang, yaitu saya tentunya, Nur Choiriyah Damastuti, Ishmah Nurul, Kadek Ayu Purwanti, Cahyaniza, Darmalianti Rahim, Annisa Nurul Ilmi, Arni Aries, dan Hikmawati Madjid, tapi tetap seru kok!!


Eits… hujan kok tiba-tiba turun ya? Wajarlah, mendung sudah dari tadi kok. Tinggal menunggu waktu kapan awan-awan hitam akan menumpahkan air yang sejak tadi dikandungnya. Karena angin kencang banget, so pelayan Es Teler KONI sibuk menurunkan tenda-tendanya agar meja tidak basah. Termasuk tenda kami (maklum, tempat ngumpul kami ini outdoor).

Titi dan Ishmah ngikutin jejakku pesan Es Buah Bandung. Ternyata Ishmah ndak suka buah nangka. Jadi buah nangkanya saya yang makan. Hihi… Lia pesan empek-empek 2 piring sekaligus. Tapi dia ndak mau makan di meja yang sama dengan kita. Katanya sempit. Jadi dia makan di meja di sebelah meja kita. Lagi asyik-asyik cerita nih (lupa dengan keberadaan Lia), ada yang nyeletuk.

“Eh, Lia serius banget makannya!”

“Lia sudah piring ke-2 tuh…”

“Li, lapar atau doyan??” tanyaku.

“LAPAR…” jawabnya pasrah sambil menguyah empek-empeknya yang bikin iler kita pada jatuh.

Sontak kita semua tertawa menyaksikan Lia yang asyik makan sendiri dengan lahapnya. Hehe… peace Li…

Tidak terasa yah, sudah pukul 5 lewat. Saya kan harus jadi tamu agung di tempat lain. Maka pamitlah saya dengan teman-temanku. Pakai adegan pelukan perpisahan, cipika-cipiki, terus teman-temanku gak ada yang mau melepas tanganku, dan melarangku meninggalkan mereka. Kami lalu bersalam-salaman dan “See you at reunian part 3!!” (reunian ini part 2, yang part 1-nya saya nggak ikut).

Sekarang pindah background di Pizza Hut, Lippo Plaza Kendari.

“Selamat datang! Mau makan di sini atau dibungkus, Mbak?” tanya pelayan yang menyambut kedatangan tamu agung seperti saya di pintu masuk Pizza Hut.

Wih, saya belum pesan juga sudah sok ditanya mau makan di sini atau bungkus buat dibawa pulang. Idih, Dhil… belum pernah masuk Pizza Hut apa? Pura-pura bodoh lagi! Itu kan sudah prosedur… Padalah setiap makan siang di sini… :D

“Saya ditungguin teman, Mbak.”

“Oh, silakan…”

Saya pun menuju ruangan outdoor (lagi-lagi). Di tempat duduk terujung nan jauh, teletubbies menari-nari… nah loh? Maksudku, teman-temanku menunggu.

REUNIAN APA INI? Mendingan reunian SMAku tadi, ada 9 orang. Ini? Hanya Kia, Fira, dan diriku.

Tapi ndak apa-apa. Ambil hikmahnya saja. Makan pizza gratis traktiran Kia, minuman bayar sendiri. Jadilah saya memesan Avocado Float. Mmm… mengenang makanan dan minuman saat itu membuat yang sedang asyik mengetik ini lapar kembali. Sumpah, saat ini perutku lagi kriuk-kriuk. Malah terdengar suara buk buk buk mamaku lagi menumbuk cobe-cobe di dapur (anak apaan saya ini? Mama lagi bikin cobe-cobe, saya malah ngetik gak jelas di kamar, ampuni anakmu ini mama…)

Setelah puas makan dan bercerita, berfotolah kami. Suatu ritual yang tak akan pernah terlupakan. Kami pun naik ke lantai teratas untuk shalat Maghrib. Tapi tunggu Kia dulu. Dia izin ke parkiran dulu karena lupa sesuatu di motornya. Saya dan Fira pun berfoto-foto. Eh, si satpam negur kita. Katanya jangan pegang-pegang *plak, pegang-pegang sandaran balkon maksudnya, hihi…

Setelah shalat Maghrib, kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah Fira. Melanjutkan bincang-bincang yang tertunda karena Allah *belum shalat maksudnya.

Senin, 21 Januari 2013

LOVEY DOVEY COOKEY [PART 4]

Posted by Nur Fadhilah at 10:12:00 AM 3 comments

Author : Nur Fadhilah
Genre : Comedy romantic (comrom)
Length : Series
Rating : PG-13
Main casts : Choi Jin Ri (Sulli f(x)), Choi Minho (Minho SHINee), Kwon Yuri (Yuri SNSD), Kim Ki Bum (Key SHINee)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fan fiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)


Baca PART 3 dulu, ne..


Previous part:
“Kalau begitu, informasi yang kalian dapat mungkin keliru.”

“Apa maksud Anda?”

“Anakku mengangkat seorang putri ketika dia masih berumur 5 tahun. Namanya Kim Jin Ri. Dia yang akan aku jodohkan dengan anak kalian, cucu Choi Soo Hyun.”


*****

“Apa tidak ada jalan untuk membatalkan perjanjian almarhum ayah dengan Kim Myungsuk?” tanya Tae Jinah pada suaminya, gelisah.

“Aku tidak tahu. Tapi ini adalah permintaan terakhir ayah. Bukankah orang tua kita dulu selalu berkata bahwa nasib sial akan selalu menghampiri orang yang tak menjalankan wasiat terakhir seseorang sebelum meninggal?”

“Itu juga yang selalu kupikirkan. Masalahnya, besan kita itu loh, Kim San! Belum tentu juga Minho mau menikah dengan gadis tidak jelas itu.”

“Aku akan bicara dengannya besok.”

“Kau? Bicara dengannya? Apa tidak salah? Dia itu sainganmu…”

“Tapi harus bagaimana lagi? Aku tidak mau masalahnya terus buram seperti ini!”

Tae Jinah mengambil napas sejenak, bersiap untuk adu argumen lagi dengan suaminya.

“Aku pulang!” Minho memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya.

“Minho, duduk sebentar! Ada yang ingin ayah bicarakan…” panggil Choi Hyunmoo.

“Aku capek, Yah. Besok saja…” kata Minho cuek tanpa menoleh ke ayahnya.

“Ayah bilang DUDUK!!!” perintah Choi Hyunmoo yang emosinya mulai tersulut.

Minho berbalik dan menatap kesal ayahnya.

“Ada apa?” tanyanya setelah duduk di depan ayah dan ibunya.

“Kau masih ingat wasiat kakek padamu sebelum meninggal?” tanya ibunya.

Minho mencoba mengingat-ingat.

“Apa yang ibu maksud menikah dengan cucu teman kakek?” tanyanya ragu.

“Ng… ya…”

“Ada apa memangnya? Apa ayah dan ibu benar-benar akan menikahkanku dengan cucu teman kakek?” tanya Minho yang cepat tanggap dengan maksud pertanyaan ibunya.

“Apa kau bersedia?” ayahnya bertanya balik.

Minho menatap tajam ayahnya.

“Aku bersedia.”

*****

BUK!

Kim San memukul meja dihadapannya.

“APA? MENJODOHKAN JIN RI DENGAN ANAK CHOI HYUNMOO?”

“Sst… pelan-pelan sayang!” kata Min Ah menenangkan suaminya.

“Kenapa ayah tidak mendiskusikan hal ini sebelumnya pada kami berdua?” Kim San sudah menurunkan volume suaranya.

“Kalau kau tak setuju, biar aku saja yang menanyakannya pada Jin Ri,” kata Kim Myungsuk dingin.

“Ayah, permasalahan ini tak sesederhana yang ayah kira. Ini masalah serius, Yah! Kita tidak bisa membuat keputusan sepihak. Jin Ri masih punya ibu kandung yang lebih berwenang dibanding kita!”

“Apa ayah serius ingin menjodohkan Jin Ri dengan cucu teman ayah?” kali ini Min Ah yang bertanya dengan suaranya yang lembut dan tenang.

“Walaupun perjanjian ini sudah sangat lama, 13 tahun yang lalu, tapi aku dan dia tak pernah melupakannya. Aku tak pernah menarik ucapan yang sudah keluar dari mulutku…” jawab Kim Myungsuk.

“Lalu bagaimana bila Jin Ri tidak setuju?” Kim San bertanya lagi masih dengan emosi yang belum bisa dikontrolnya.

“Aku akan memohon padanya bagaimanapun caranya. Lagipula, dia harusnya membalas budi karena kalian mau membantu dan mengangkatnya sebagai anak.”

“AYAH!!!”

Kali ini emosi Kim San sudah sampai di puncaknya. Dia sudah tak tahan lagi. Dia keluar dari kamar ayahnya dengan membanting pintu.

Min Ah tersentak kaget.

“Ayah… sebaiknya ayah istirahat. Kita bicarakan hal ini lagi besok. Aku akan menenangkan Kim San dulu. Semoga tidur ayah nyenyak….”

Kim Myungsuk menatap kepergian menantunya. Ia berpikir keras. Haruskah ia melanjutkan tekadnya?

*****

“Ha… kau kalah lagi!!!” tunjuk Ki Bum senang pada adiknya.

“Huh… Apa yang kakak inginkan kali ini?” tanya Jin Ri tak bersemangat.

“Ambilkan aku minum! Kering rasanya tenggorokanku menertawai kekalahanmu terus. Hahahaha….”

“Ish… dasar!”

Dengan menghentakkan kaki karena kesal diejek Ki Bum, Jin Ri keluar dari kamar dan menuju dapur untuk mengambil minum.

Sudah 3 kali ia kalah main kartu malam ini, 10 kali dalam minggu itu, berpuluh-puluh kali dalam bulan itu, dan sudah beratus-ratus kali sejak mereka pertama kali memulai permainan itu. Jin Ri belum menang sekali pun. Hal itu membuatnya penasaran dan ketagihan ingin main lagi dan lagi dengan misi utama mengalahkan Ki Bum, kakaknya.

BUK!

Jin Ri tersentak kaget ketika mendengar sura benda dipukul dari kamar kakeknya sewaktu melintasinya dari dapur.

Jin Ri mendekat. Ia menempelkan sebelah telinganya di pintu kamar kakekknya.

“APA? MENJODOHKAN JIN RI DENGAN ANAK CHOI HYUNMOO?”

Deg.

Jin Ri semakin merapatkan kupingnya. Apa ia tidak salah dengar barusan? Kenapa namanya disebut-sebut? Apa dia akan dijodohkan?

“Sst… pelan-pelan sayang!” itu suara ibunya.

“Berarti ayah dan ibu ada di dalam bersama kakek. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?” batin Jin Ri.

“Kenapa ayah tidak mendiskusikan hal ini sebelumnya pada kami berdua?”

“Kalau kau tak setuju, biar aku saja yang menanyakannya pada Jin Ri.”

“Ayah, permasalahan ini tak sesederhana yang ayah kira. Ini masalah serius, Yah! Kita tidak bisa membuat keputusan sepihak. Jin Ri masih punya ibu kandung yang lebih berwenang dibanding kita!”

“Apa ayah serius ingin menjodohkan Jin Ri dengan cucu teman ayah?”

“Walaupun perjanjian ini sudah sangat lama, 13 tahun yang lalu, tapi aku dan dia tak pernah melupakannya. Aku tak pernah menarik ucapan yang sudah keluar dari mulutku…”

“Lalu bagaimana bila Jin Ri tidak setuju?”

“Aku akan memohon padanya bagaimanapun caranya. Lagipula dia harusnya membalas budi karena kalian mau membantu dan mengangkatnya sebagai anak.”

“AYAH!!!”

Jin Ri mendengar suara derap langkah ayahnya. Sepertinya ia akan keluar kamar. Cepat-cepat Jin Ri menyingkir dari pintu dan bersembunyi di balik tembok di sisi lain kamar Kim Myungsuk. Ia menahan napas. Takut keberadaanya disadari oleh ayahnya.

Kim San benar-benar keluar kamar sambil membanting pintu. Tak lama kemudian, Min Ah menyusulnya.

Jin Ri masih menunggu. Siapa tahu kakeknya juga akan menyusul keluar. Tapi Kim Myungsuk tidak kunjung keluar kamar. Ia memberanikan diri mengintip ke dalam kamar kakeknya.

Jin membuka pintu kamar Kim Myungsuk dengan sangat pelan. Bahkan suaranya pun tidak terdengar.

Jin Ri terhenyak melihat kakeknya yang katanya keras menangis sambil menatap sebuah foto.

“Maafkan aku, Soo Hyun… aku mungkin tidak bisa mewujudkan cita-citamu untuk menikahkan cucumu dan cucuku …” suara Kim Myungsuk benar-benar parau.

Jin Ri buru-buru menutup pintu. Takut ketahuan kakeknya.

Ia lalu mengambil kembali gelas yang ditaruhnya di atas meja sewaktu bersembunyi tadi. Ia menaiki tangga yang menghubungkan lantai 1 dan 2 dengan termenung.

Jin Ri menaruh gelas tadi di depan pintu kamar Ki Bum lalu masuk ke kamarnya. Sayup-sayup didengarnya suara Ki Bum memanggil dirinya, tapi tak dihiraukannya.

Jin Ri berbaring sambil mengingat apa saja yang didengar barusan.

“APA? MENJODOHKAN JIN RI DENGAN ANAK CHOI HYUNMOO?”

“Lalu bagaimana bila Jin Ri tidak setuju?”

“Aku akan memohon padanya bagaimanapun caranya. Lagipula dia harusnya membalas budi karena kalian mau membantu dan mengangkatnya sebagai anak.”


Lalu terbayang lagi wajah sendu kakeknya yang menangis di depan foto yang bisa ditebak adalah foto sahabatnya itu, Choi Soo Hyun.

Tak terasa, mata Jin Ri juga juga berair. Ia bingung harus berbuat apa.

*****

“Mana sih anak itu? Ambil air saja sampai selama ini. Apa dapur kita sudah pindah di Daegu?” keluh Ki Bum yang menunggu Jin Ri yang tak kunjung datang.

Lalu didengarnya suara kaki yang diseret-seret.

“Itu pasti Jin Ri!” pikirnya.

Ki Bum berdiri dan menuju pintu kamarnya, hendak memarahi Jin Ri.

Ki Bum membuka pintu lalu dilihatnya gelas yang berisi air putih yang dimintanya di depan pintu kamar. Dilihatnya Jin Ri berjalan memasuki kamarnya.

“Hei!” panggil Ki Bum namun Jin Ri tak menoleh.

“Dia kenapa sih?”

“Oh, kau pasti takut kalah lagi kan?” teriaknya.

“Huh… Jin Ri nggak seru, ah…!”

Ki Bum mengambil gelas tadi dan menutup pintu kamarnya.

*****

Tok.. tok.. tok..

Klek.

Min Ah memasuki kamar Jin Ri. Didapati anak angkatnya yang masih berbaring malas.

“Ibu? Ada apa?” tanya Jin Ri dengan suara seraknya.

Min Ah tersenyum.

“Astaga! Ada apa dengan matamu?” tanya Min Ah sambil menyentuh mata Jin Ri yang sembab.

“Oh, ini. Ini…”

“Kau habis menangis ya semalam? Apa yang kau tangisi?”

“Aku… aku… habis nonton film di laptop. Kisahnya sangat sedih sehingga membuatku menangis tersedu-sedu,” jawab Jin Ri asal.

“Oh… kapan-kapan kau harus mengajak ibu nonton bersamamu…”

Jin Ri tertawa.

“Apa yang akan kau lakukan pagi ini?” tanya Min Ah lagi.

“Hari ini aku libur, jadi aku tak akan ke mana-mana.”

“Benarkah? Kalau begitu, ayo kita turun bersama. Ayah dan kakek menunggumu di bawah. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan padamu.”

Jin Ri meremas tangannya gelisah. Ia sepertinya tahu apa yang akan dibicarakan padanya.

“Membicarakan hal apa, Bu?”

“Ah, itu… biar kita bicarakan di bawah…”

Min Ah menarik tangan Jin Ri untuk turun bersamanya. Jin Ri mengepalkan satu tangannya. Ia tahu, sekarang ia berada dalam sebuah masalah.

*****

Tit.. tit.. tit..

Yuri melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. ‘Minho Sayang’.

Ia tersenyum.

“Halo! Ada apa kau menelepon pagi-pagi?”

“Kau mau sarapan bersama? Ada yang ingin kubicarakan padamu.”

“Harus sepagi ini?” Yuri kaget dan segera melihat jam yang baru menunjukkan pukul 8.

“Kenapa? Kau ada jadwal pemotretan?”

“Ah, tidak… hanya saja aku jadi penasaran. Kira-kira apa yang akan kau bicarakan padaku hingga mengajakku untuk sarapan bersama.”

“Aku akan menunggumu di kafe dekat perusahaan. Tak apa bila kau datang sendiri?”

“Baiklah. Setengah jam lagi aku ke sana,” jawab Yuri sambil melirik jam dinding di kamarnya.

“Ok. Aku tutup teleponnya…” kata Minho mengakhiri.

Tit.

Yuri mengernyitkan keningnya. Ia lalu berjalan ke depan cermin riasnya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

“Semoga bukan hal yang buruk. Feeling wanita tidak pernah salah…” pikirnya seraya menghela napas panjang.

*****

Jin Ri dan Min Ah menuruni tangga rumah. Jantung Jin Ri semakin berdegub kencang.

Jin Ri duduk berhadapan dengan Kim Myungsuk, sedangkan Min Ah duduk di samping Kim San.

“Apa yang akan ayah dan kakek bicarakan?” Jin Ri mengatur nada bicaranya agar tidak gugup.

“Kami hanya ingin tahu bagaimana perkembanganmu…” Kim San mencoba mengalihkan pembicaraan namun dipotong oleh ayahnya.

“Kami ingin menjodohkanmu,” sambung Kim Myungsuk.

“Ayah!” Kim San kaget dengan perkataan ayahnya.

Min Ah berpindah tempat duduk. Akan lebih baik bila ia duduk di samping Jin Ri untuk menguatkannya.

Jin Ri meremas-remas tangannya.

“Di… dijodohkan? De… dengan siapa?” tanyanya gugup.

“Dengan cucu teman kakek. Kau masih ingat dengan rumah yang kemarin kita datangi bersama?” jawab kakeknya.

Jin Ri mengangguk pelan.

“Kalau kau bersedia, aku akan mengurus semuanya. Dia adalah anak yang tampan. Aku sudah melihat fotonya. Ia sekarang bekerja di perusahaan ayahnya untuk menggantikan ayahnya yang sakit. Aku tak mungkin sembarangan memilihkanmu jodoh. Aku sudah mengamati anak itu melalui…”

“Kakek,” Jin Ri memotong pembicaraan kakeknya.

“Aku tidak mau. Maafkan aku! Tapi aku tidak mau dijodohkan, apalagi dengan orang yang belum kukenal sama sekali.”

*****

Yuri berlari-lari kecil setelah turun dari taksi. Ia memasuki sebuah kafe, lalu mencari-cari sosok lelaki yang dicintainya di dalam kafe.

Minho melambaikan tangannya. Yuri tersenyum lalu berjalan mendekat.

“Maaf, aku membuatmu menunggu.”

“Aku juga baru tiba beberapa menit yang lalu. Maaf juga karena telah membuatmu menemuiku pagi-pagi.”

“Tidak apa. Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Sebaiknya kita memesan makanan dulu. Apa kau tidak lapar?” tanya Minho sambil tertawa kecil.

“Siapa bilang aku tidak lapar. Kau harus mentraktirku banyak-banyak, karena aku sangat lapar.”

Mereka berdua tertawa. Lalu memanggil pelayan untuk memesan pancake dan teh panas.

“Sekarang apa yang ingin kau bicarakan?”

“Akan lebih baik bila kita makan terlebih dahulu.”

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Kau membuatku penasaran…”

“Kau akan mengetahuinya segera setelah kita selesai makan.”

Tak lama kemudian pesanan mereka datang.

“Janji kau akan memberitahuku setelah kita makan?” tanya Yuri memastikan.

“Aku janji…”

Mereka pun menikmati makanan mereka.

“Sekarang ayo bicara!” tagih Yuri setelah ia meneguk tehnya.

Minho meraih tangan Yuri dan menggenggamnya erat.

“Ada apa?” tanya Yuri lagi.

“Aku akan menikah…” ucap Minho dingin.

Yuri menghela napas.

“Aku kan sudah pernah bilang padamu. Aku belum siap menikah saat ini. Apa kau tidak bisa bersabar?”

“Bukan denganmu, tapi dengan orang lain…”

Yuri menelan ludahnya. Ia melepaskan tangannya dari tangan Minho.

“Apa maksudmu?”

“Sebelum meninggal kakek mengatakan padaku kalau ia pernah berjanji dengan temannya akan menjodohkan aku dengan cucu temannya. Kemarin kakek itu datang ke rumah dan membicarakan hal ini dengan ayah dan ibu,” jelas Minho sambil terus menatap dalam mata Yuri.

“Dan kau setuju?”

“Aku tidak mungkin menolak. Ini permintaan terakhir kakek padaku. Kau tahu kan, aku sangat dekat dengan kakek sewaktu beliau masih hidup.”

“Tap… tapi…”

Minho meraih tangan Yuri lagi.

“Aku tidak akan mengecewakanmu. Asal kau mau menunggu, aku akan menyelesaikan masalah ini lalu kembali padamu. Kau percaya kan?”

Yuri menarik paksa tangannya.

“Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan ini balasanmu? Kau pernah menyuruhku untuk tidak mengecawakanmu, tapi kini kau yang mengecewakanku. Kau mengkhianati cintaku.”

“Bukan begitu. Aku berjanji akan…”

“Kita putus!” Yuri menatap mata Minho tajam.

“Kurasa tak ada gunanya lagi kita meneruskan hubungan kita. Toh, kau juga akan segera menikah…” sambungnya.

“Yuri, jangan seperti ini! Dengarkan aku dulu…”

“Lepaskan aku…” Yuri menarik tangannya yang ditahan Minho.

Ia lalu berjalan keluar kafe tanpa menoleh sedikit pun pada Minho.

Minho menghela napas, lalu meneguk tehnya lagi hingga habis.

*****

Suasana hening.

Min Ah, Kim San, dan Kim Myungsuk kaget mendengar jawaban Jin Ri.

“KAU INI…!!!” Kim Myungsuk berdiri dan bersiap untuk menampar Jin Ri.

Jin Ri menutup matanya erat-erat. Min Ah memeluknya. Kim San berdiri hendak menenangkan ayahnya.

“Arrggghhh…”

BRUK!

“Ayah!”

Jin Ri membuka matanya, lalu didapatinya Kim Myungsuk ambruk.

“Sepertinya penyakit jantung ayah kambuh. Cepat hubungi ambulance!” Kim San memberi perintah.

Dengan sigap, Min Ah berdiri lalu menelepon ambulance.

Tangan Jin Ri gemetaran. Ia tidak tahu kalau perkataannya akan membuat penyakit jantung kakeknya kambuh.

“Jin Ri, untuk apa kau duduk di situ? Cepat bangunkan Ki Bum!” perintah ayahnya lagi.

Jin Ri mengangguk. Ia lalu berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar Ki Bum tanpa mengetuk terlebih dahulu.

“Hei… hei… kau? Apa yang kau lakukan? Aku sedang berpakaian…” Ki Bum kaget karena Jin Ri masuk begitu saja.

Mata Jin Ri berair.

“Kenapa menangis?”

“Kak… kakek…” suara Jin Ri serak.

“Ka… kakek kenapa? Ada apa dengan kakek?” Ki Bum mulai khawatir.

“Sakit jantungnya kumat. Semua gara-gara aku…”

Ki Bum terdiam. Ia segera memakai baju kaos yang dipegangnya sewaktu Jin Ri memasuki kamar. Ia dengan cepat keluar dari kamarnya dan meninggalkan Jin Ri sendirian.

Jin Ri terduduk. Sungguh, ia sangat takut. Air matanya mengalir begitu saja. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Kim Myungsuk.

*****

“Kau sungguh-sungguh akan pergi menemui Kim San sendiri? Aku tak perlu ikut?” Tae Jinah bertanya pada suaminya.

“Mm. Kau tak perlu ikut.”

“Baiklah. Hati-hati…”

Choi Hyunmoo mencium kening istrinya lalu memasuki mobil.

Ini adalah kali pertama Choi Hyunmoo datang menemui Kim San secara pribadi. Selama ini mereka berdua hanya dipertemukan dalam pertemuan besar untuk membahas pemenangan proyek. Perusahaannya dan perusahaan Kim San adalah 2 perusahaan besar di Seoul yang selalu bersaing untuk memenangkan proyek. Itulah mengapa hubungan kedua perusahaan tersebut tidak begitu baik.

Choi Hyunmoo turun dari mobilnya. Ia memasuki perusahaan Kim San.

“Aku Choi Hyunmoo, direktur Choi Moo Group. Apa Direktur Kim San sudah datang?” tanya Choi Hyunmoo pada sekertaris Kim San.

“Apa Anda telah membuat janji?”

“Ah, tidak. Hanya aku memiliki beberapa urusan penting yang mesti kubicarakan dengannya.”

“Maaf, Pak. Pak direktur tidak masuk hari ini. Semua pertemuannya juga dibatalkan hari ini.”

“Kalau aku boleh tahu, ke mana dia pergi?”

“Ayah pak direktur sedang dirawat di rumah sakit. Jadi beliau tidak dapat datang hari ini.”

“Oh, baiklah. Tolong beri tahu beliau bahwa aku datang menemuinya. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya.”

“Baik, Pak.”

“Terima kasih.”

*****

“Kau sebaiknya tidak usah ikut,” kata Min Ah sambil membelai sayang rambut Jin Ri.

“Tapi aku ingin melihat keadaan kakek, Bu…” Jin Ri merengek.

“Kondisi kakek masih buruk. Ia masih sangat marah padamu. Walaupun sudah sadar, belum tentu kakek mau menemuimu. Lebih baik tunggu kondisi kakek sampai membaik. Ayah dan ibu akan menenangkan kakek. Setelah itu kau belum bertemu dengannya. Kau mengerti?”

Jin Ri mengangguk pelan. Bulir-bulir air mata masih membasahi pipinya.

“Kau jangan terlalu bersedih. Bukan salahmu karena kau menolak perjodohan ini. Itu adalah hakmu. Kami juga kurang setuju dengan tindakan ayah…” Kim San ikut menenangkan Jin Ri.

“Kami pergi dulu, sayang. Hati-hati di rumah,” Min Ah mengecup kening Jin Ri.

Kim San dan Min Ah ikut bersama kakek menaiki mobil ambulance, sedang Ki Bum mengendarai mobilnya.

Jin Ri masuk ke dalam rumah. Air matanya terus saja mengalir. Ia terus menyesali kebodohannya. Ia seharusnya tahu kalau kakekknya mengidap penyakit jantung.

Kepala Jin Ri pusing. Ia terduduk. Dunia serasa berputar dalam pandangannya. Ia masih terus menangis.

Tok.. tok.. tok..

Jin Ri berusaha bangkit dan membuka pintu.

Dilihatnya seorang lelaki berdiri di depan pintu. Ia tak dapat mengenali wajahnya. Semua terlihat berputar dan samar.

“Kau… baik-baik saja?” tanya orang itu khawatir melihat keadaan Jin Ri.

Pandangan Jin Ri tiba-tiba berubah menjadi gelap.

BRUK!

Jin Ri ambruk.

To be continued


Author’s NOTE:

Hai hai.. aduh, capek tenan nih ketikan dikebutin. Gimana ceritanya? Di part ini sengaja ceritanya pada tegang semua. Saya yang ngetik lehernya jadi ikutan tegang juga…

Ayo tebak… siapakah lelaki yang datang ke rumah Jin Ri saat Jin Ri hampir pingsan? Kekeke… pasti sudah pada tahu nih.. ya sudah gak usah panjang-panglah lah ya kata sambutannya. Jari-jariku udah pada pegal ngetik dari matahari masih tidur sampai sudah mandi kayak gini. Tetap diikutin ya ceritanya. Dijamin bagus dan seru deh… *plak, maksa amet…

Okay. Now, please drop your comment. Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakan. Hehe… ^lol^

:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::

Minggu, 13 Januari 2013

MAKAN SETENGAH JUTA

Posted by Nur Fadhilah at 6:53:00 AM 0 comments
Wah, dari judulnya aja nih menarik banget (pedenyaaa)! Tapi jangan ketipu. Setengah juta yang kumaksud di sini adalah total keseluruhannya. Tentunya yang makan bukan hanya saya (gila, perut karet kali yak?), tapi bersama keluarga. Yang seru tuh bukan makan setengah jutanya, tapi bagi pengalaman ke readers yang belum pernah masuk restoran Jepang. Kalau sudah pernah, mendingan STOP DI SINI! TIDAK USAH DILANJUTKAN! Aku malu booo… :’(

Jumat, 4 Januari 2013. Kakakku ngajakin saya, kakaku yang lainnya, suami kakakku, dan 2 keponakanku makan di luar (bukan luar rumah loh!!). waktu itu dia memang pernah janji ke saya kalau dia akan ngajakin makan ke restoran Jepang yang belum lama buka di Lippo Plaza Kendari, XO Suki.

Saat itu saya ada kuliah sore di kampus. Jadi selepas kuliah, saya langsung menyusul ke sana. Eh, setibanya di sana, kakakku dan rombongan belum tiba. Jalan-jalanlah saya sendirian keliling Lippo nggak jelas. Sejam kemudian, kakak saya nelpon kalau dia ada di lobi.

Selepas Maghrib, kami lalu menuju ke TKP. Wah, deg degan juga nih. Soalnya seumur hidup barusan kakiku nginjak restoran Jepang. Pas masuk, kami langsung disambut dengan senyuman yang hangat dari para pegawainya. Terus managernya nyambangin kita (cieile… serasa orang penting gitu, yang disambut langsung managernya).

“Berapa orang, Bu?” tanyanya.

Eits, pertanyaan itu bukan untuk saya. Saya kan masih chibi-chibi, haha :D

Kakakku ngitung pasukan dulu.

“6 orang, Mas…”

“Oh, silakan duduk di sini!” katanya sambil menggabungkan 2 meja.

Jadi setiap meja tuh punya roda di bawahnya (iyalah, di bawah, masa di atas??). Jadi bisa disorong-sorong gitu.

“Harus di sini Mas, gak bisa di sana?” Suami kakakku nanya sambil nunjuk tempat di sudut yang ada sofanya.

“Oh, yang di sudut sana kompornya lagi bermasalah, Pak.”

“Oh… ya sudah, di sini saja.”

Maka, duduklah kami di kursi yang disediakan khusus untuk kami.

Managernya datang lagi.

“Ibu, kompor yang mau dipakai berapa? 1 atau 2?” (sekali lagi pertanyaan ini bukan untuk saya!!)

“1 saja,” jawab kakakku.

“Yang ini atau yang itu?”

“Yang ini saja…”

Lalu sang manager mengangkat kompor ‘itu’ dan memindahkannya. Terus, mejanya dibalik. Aduh, susah banget ngejelasinnya kalau gak pakai gambar nih. Jadi gini, setiap meja itu ada bagian yang kosong di tengahnya berbentuk persegi 4 untuk tempat kompor. Nah, kalau kompornya diangkat, maka bagian yang kosong itu bisa dibalik sehingga tertutup semuanya. Jadinya sudah gak kosong lagi di tengah. Sudah seperti meja pada umumnya.

Kemudian seorang pelayan mendatangi kami dengan membawa menu. Kakakku memesan beberapa minuman. Lalu datang seorang pelayan lagi, dia menawarkan kakakku paket keluarga. Katanya kalau gak ambil paket, harganya bisa lebih mahal dari harga paket. Harga paketnya saja sudah hampir 400rb. Okelah, ambil paket saja.

Setelah itu, dia ngajak kami untuk memilih suki-suki yang kami inginkan. Suki itu semacam sushi. Hanya saja tidak bisa langsung dimakan. Harus digoreng atau direbus dulu. Ada semacam rak makanan yang terbuat dari kaca. Di dalamnya terhampar banyak sekali jenis suki denga warna, bentuk, dan rasa yang berbeda-beda. Setiap tingkatan suki mempunyai warna wadah yang berbeda-beda. Ada pink, hijau, kuning, biru, de el el. Semua suki berbahan dasar ayam, daging, kepiting, cumi-cumi, dan ikan. Saya memilih suki yang bentuknya aneh dan lucu. Bahkan, suki berbentuk angry bird pun ada. Hehe.. kakakku memilih suki pangsit. Kata kakakku,a rasanya sih enak.

Setelah memilih-milih suki, si pelayan nanya lagi.

“Bu, paketnya mau yang ayam atau bebek?”

Kompak kami menjawab bebek. Soalnya belum pernah ada yang makan bebek sih…

Setelah duduk, ada lagi pelayan yang datang. Dia meminta izin untuk mengambil panci kaca yang ada di atas kompor. Katanya mau diisi kaldu. Terus datang lagi pelayan yang lain. Dia bertanya untuk memastikan suki yang mana saja yang mesti digoreng dan direbus.

Tidak lama kemudian pelayan yang membawa pergi panci kami tadi kembali. Dia langsung menaruh panci tersebut di atas kompor. Tunggu hingga mendidih.

Minuman pesanan kami pun datang. Saya dan kakakku memesan minuman yang lupa apa namanya. Pokoknya semacam milk shake cokelat trus dicampur dengan biskuit oreo yang diblender halus. Sebagai pemanis ditambahkan cherry. Lalu dia juga membawakan kami nasi dalam mangkuk kecil ala orang Jepang.

Air kaldunya pun mendidih. Pelayan yang lain lagi datang membawa suki pesanan kami. Dia memasukkan suki-suki itu ke dalam rebusan air kaldu tadi. Tunggu sebentar dan siap disantap. Ahh… akhirnya makan juga setelah melewati proses yang sangat panjang. Jadi, kalau misalnya readers sudah kelaparan banget alias starving, jangan makan di tempat seperti ini. Prosesnya lama. Yang cocok tuh, kalau mau santai-santai bareng keluarga, nah inilah tempat yang cocok.

Wah, sudah berasa di Jepang nih, makan suki + pakai sumpit. Haha… kami lalu menikmati makanan. Di tengah tenggelamnya kami di dunia penikmatan makanan, eh, bebeknya datang. Langsung saja kuserbu. Ingin tahu, bebek itu rasanya gimana yak? Kukunyah perlahan. Mmm…. Jadi gini rasanya? Enak enak enak… beda dengan ayam loh walaupun sama-sama unggas. Hahaha…

Setelah makanannya ludes, seorang pelayan datang membawa desert buah-buahan. Ada melon, pepaya, dan apel. Wah, yummy

Karena terlalu enaknya makan, akhirnya saya melupakan satu ritual wajib setiap saya pergi ke tempat baru. Berfoto! Akhirnya saya minta tolong ke kakakku buat fotoin. Itu pun buru-buru. Soalnya managernya keburu datang membawa tagihan. Setelah membayar, rencananya mau foto-foto lagi, tapi pelayannya keburu datang mau membersihkan meja kami. Yah… tidak jadi berfoto deh. Nyesal aku :(


Sebelum kami keluar, managernya memberikan kami kupon diskon makan di XO Suki lagi. Wah, senangnya, kapan-kapan makan di sini lagi ya, kak. Hehe… tekor kakakku, bayarnya setengah juta lebih. Tapi sebanding kok dengan pelayanannya dan makanannya. Mau ke restoran Jepang lagi dong!!!

LOVEY DOVEY COOKEY [PART 3]

Posted by Nur Fadhilah at 12:20:00 AM 2 comments

Author : Nur Fadhilah
Genre : Comedy romantic (comrom)
Length : Series
Rating : PG-13
Main casts : Choi Jin Ri (Sulli f(x)), Choi Minho (Minho SHINee), Kwon Yuri (Yuri SNSD), Kim Ki Bum (Key SHINee)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fan fiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)

Baca PART 2 dulu ne...


Previous part:

Ning nong.. ning nong..

Minho menekan bel rumah keluarga Kim.

Jin Ri berlari menuju pintu utama.

“Iya, tunggu sebentar…”

Klek. Jin Ri membuka pintu. Kedua bola matanya membulat. Mulutnya tak bisa mengeluarkan suara.

“Semoga ini mimpi. Untuk apa dia datang kemari?” batin Jin Ri.


*****

“Siapa?” tanya Ki Bum ketika keluar dari dapur.

Ki Bum menengok.

“Oh, Minho. Masuklah!”

Jin Ri kaget. Ia tidak menyangka kalau Ki Bum kenal dengan laki-laki di depannya ini.

“Siapa yang datang?” Min Ah juga ikut-ikutan menengok dari pintu dapur.

“Dia temanku di universitas, Bu. Dia yang sering aku ceritakan padamu.”

“Perkenalkan, aku Minho, Choi Minho. Senang bertemu dengan Anda,” Minho membungkukkan sedikit badannya.

“Ah… kau benar-benar tampan. Persis seperti yang diceritakan Ki Bum padaku,” puji Min Ah yang saat itu sudah berdiri di antara Jin Ri dan Ki Bum.

“Apakah dia kekasihmu? Cantik sekali…” lanjutnya.

“Ah,dia…”

“Benar, aku kekasihnya. Namaku Yuri, Kwon Yuri,” Yuri memotong perkataan Minho.

Minho kaget mendengar pengakuan Yuri. Yuri tersenyum.

“Baiklah… kenapa kalian berdua tidak mempersilakan mereka masuk?” tanya Min Ah pada Jin Ri dan Ki Bum.

“Si… silakan masuk…!” Jin Ri tertunduk malu, lalu berlari ke dapur.

“Kalian bertiga silakan mengobrol. Maaf, suasananya tidak begitu nyaman. Kami sedang bersih-bersih. Besok kakek Ki Bum akan berkunjung ke Korea,” jelas Min Ah.

“Baiklah…” ucap Minho sopan.

“Silakan duduk!” Ki Bum mempersilakan.

Ki Bum sengaja duduk berdekatan dengan Minho.

“Kenapa kau mengajaknya? Bukankah…?” bisik Ki Bum.

“Kami sudah baikan…” jawab Minho.

Yuri yang merasa dirinya menjadi bahan pembicaraan tersenyum manis pada Ki Bum. Ki Bum yang merasa tak enak pada Yuri balas tersenyum.

Tak lama kemudian, Jin Ri datang membawa nampan berisi minuman dan kue kering hangat yang baru saja keluar dari oven. Tangannya gemetaran.

“Kau kenapa?” Ki Bum heran melihat tangan Jin Ri yang gemetaran ketika meletakkan minuman dan toples berisi kue kering di atas meja.

“A… aku… aku tidak apa-apa…” jawab Jin Ri gugup.

Jin Ri lalu berbalik hendak kembali ke dapur. Namun tangannya ditarik oleh Ki Bum.

“Kau mau ke mana?”

“Ke dapur…”

“Duduk di sini saja… aku akan memperkenalkanmu dengan temanku…” ucap Ki Bum santai.

“Apa? Ti… tidak mau!!!” Jin Ri menarik tangannya.

Ki Bum mulai menatap Jin Ri dengan tatapan mautnya, seakan-akan berkata, “Awas kau Jin Ri kalau tak mau duduk!”

Jin Ri menghela napas.

“Baiklah…” Jin Ri pasrah.

“Minho, ini adikku Jin Ri. Dia ini yang kau kira laki-laki. Meskipun perilakunya kadangkala menjengkelkan, tapi dia cantik kan? Kan? Kan?”

Wajah Jin Ri memerah.

“Ulurkan tanganmu! Kau ini sungguh tak sopan pada tamu!” perintah Ki Bum pada Jin Ri.
Jin Ri mengulurkan tangannya dengan enggan.

Jin Ri mengangkat sedikit wajahnya yang sedari tadi ditundukkannya. Minho menatapnya tajam. Dia menyambut uluran tangan Jin Ri.

“Jin… Jin Ri. Choi Jin Ri…”

“Choi?”

“Ah… penjelasannya panjang…” sambung Ki Bum cepat.

“Ehm…” Yuri berdehem.

Minho baru sadar kalau tangannya masih berjabat dengan tangan Jin Ri, begitu pun Jin Ri. Mereka berdua cepat-cepat melepaskannya.

“Aku ingin pulang sekarang!” Yuri membisiki telinga Minho.

Minho mengangguk.

“Ki Bum, sebenarnya tujuanku kemari hanya untuk memberikanmu ini,” Minho mengeluarkan sepucuk surat dari kantung jaketnya.

“Amber?” Ki Bum tersentak.

“Sebenarnya surat itu bukan untukmu, melainkan untukku. Tapi menurutku, ada baiknya kalau kau tahu apa isi suratnya.

“Ah, baiklah. Terima kasih…”

“Oke. Mm… aku pulang ya.”

“Cepat sekali…”

“Aku harus mengantarnya pulang,” Minho menunjuk Yuri.

“Oh, baiklah…”

“Katakan pada ibumu kalau aku pulang.”

“Beres!”

Ki Bum dan Jin Ri lalu mengantar Minho dan Yuri menuju mobil Minho. Sebelum masuk ke mobil, Minho sempat melempar senyum ke arah Ki Bum dan Jin Ri. Yuri melihatnya. Dia juga tersenyum pada Ki Bum, namun tidak pada Jin Ri.

“Dah!!” Ki Bum melambaikan tangan.

*****

“Kau sepertinya tertarik pada adik temanmu itu,” kata Yuri tajam.

“Kau ini bicara apa sih?” Minho balik bertanya. Pandangannya masih fokus ke depan.

“Perasaan perempuan tidak pernah salah.”

“Lalu apa perasaanmu mengatakan padaku bahwa aku tidak mencintaimu?”

Yuri melirik Minho yang masih fokus mengemudikan mobil.

“Maksudku tidak seperti itu… Tentu saja kau mencintaiku…”

“Lalu apa masalahnya? Kau tahu bahwa aku mencintaimu dan begitu pun sebaliknya. Kau paham?”

Yuri mengangguk. Terdiam.

“Baguslah kalau kau paham. Kuharap kau pun tidak mengecewakanku. Karena kau sendiri tahu, aku tidak akan mengecewakanmu.”

*****

Usai melambaikan tangan, Jin Ri lalu menarik tangan Ki Bum masuk ke dalam rumah.

“Ada apa sih?” tanya Ki Bum sambil melepaskan tangannya.

“Maksud kakak tadi menyuruhku duduk itu apa?” anya Jin Ri marah-marah.

“Aku hanya mau memperkenalkanmu dengan Minho. Kau ini kenapa sih? Maksudku kan baik. Aku jadi tidak mengerti kau marah-marah kepadaku.”

“Asal kakak tahu ya, dia itu laki-laki yang aku tuduh mencuri dompetku!”

“Apa?” Ki Bum kaget.

“Apa?” Min Ah yang sedang berjalan dari dapur ke ruang makan turut kaget mendengar pernyataan Jin Ri.

Sejenak suasana hening.

“Hahahahahahaha!” Ki Bum tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh ibunya.

Wajah Jin Ri memerah.

“Pantasan wajahmu tadi mirip udang rebus sewaktu kusuruh berkenalan dengan Minho,” ungkap Ki Bum.

“Tangannya juga gemetaran sewaktu menyiapkan minuman tadi,” sambung Min Ah.

“Ahh… Sudah ah…!”

Jin Ri berlari masuk ke kamarnya diiringi suara tawa Ki Bum dan ibunya.

*****

'Dear Minho…’

‘Hi, how’s your life? How’s Seoul? Err… Ki Bum? :)’


Ki Bum tersenyum.

“I’m fine…”

‘Tinggal di Amerika tidak begitu menyenangkan. Tak ada kau dan Ki Bum. Kau tahu, betapa pun menyebalkannya orang itu, aku tetap merindukannya.’


“Aku juga merindukanmu…”

‘Apa Ki Bum sudah punya kekasih? Dapatkah kau memberiitahuku bagaimana rupanya? Bisa kutebak, dia pasti lebih baik dariku.’

“Belum ada yang bisa menggantikanmu di hatiku, Amber…”

‘Mungkin tidak tepat mengirimkan surat ini padamu. Tapi aku membutuhkan teman curhat. Tak ada yang bisa memberiikanku solusi terbaik selain dirimu.’

‘Apa suratku terlalu singkat? Ya, isinya tidak sebanding dengan besarnya biaya yang aku keluarkan untuknya. Tapi aku tetap berharap kau membalas suratku. Tolong sertakan juga alamat emailmu. Beberapa hari yang lalu, komputerku terkena virus. Semua datanya hilang. Hal itu membuatku sangat frustasi. Kejadian itu membuat darah tinggiku naik.’


Ki Bum tertawa.

‘Oh ya, satu hal yang paling penting dan tidak pernah lupa kutulis di setiap akhir suratku. Jangan beri tahu apa-apa pada Ki Bum. Kau tahu aku mencintainya. Tapi rasa sakitku masih tetap mengalahkan rasa cintaku padanya.’

‘Take care, Minho. Bye…’

‘Amber’


Ki Bum menghela napas panjang saat membaca paragraf terakhir. Sebenci itu kah Amber padanya? Dia bahkan belum sempat menjelaskan apa pun sebelum kepergiannya ke Amerika.

‘Tapi rasa sakitku masih tetap mengalahkan rasa cintaku padanya.’

Kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.

*****

Keesokan harinya…

“Kau yakin tak ingin ikut?” tanya Kim San pada putrinya.

“Tidak. Aku ingin mempersiapkan diri di rumah bersama ibu…” jawab Jin Ri kaku.

“Kita sekarang punya robot hidup di rumah. Lihat! Kau berbicara seperti robot,” ejek Ki Bum.

Jin Ri memonyongkan bibirnya.

“Ki Bum…” Min Ah memperingati Ki Bum.

“Hehehe…” Ki Bum cekikikan.

“Kau tak usah terlalu tegang! Ayah tidak sekejam yang kau pikirkan…” kata Kim San menenangkan.

“Tapi Kak Ki Bum selalu mengatakan kalau…”

“Kau tahu kan, Ki Bum selalu menambahkan bumbu pemanis di setiap perkataannya,” potong Min Ah.

Jin Ri lalu melirik Ki Bum. Ki Bum memasang wajah tanpa dosanya. Ia lalu bersiul-siul tidak jelas. Karena kesal, Jin Ri lantas meninju bahu kanan Ki Bum.

“Adaoww….!!”

“Sudahlah… jangan seperti anak kecil! Sebaiknya kita berangkat sekarang. Kalian tahu kan, perjalanan dari sini ke Incheon membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Kurang dari itu, pesawat kakek sudah akan mendarat di bandara. Jadi sebaiknya kita cepat kalau tak mau mendapat omelan!” jelas Kim San.

*****

“Tolong bawa piring-piring itu ke meja makan!” Min Ah memberi perintah.

Jin Ri bergegas mengangkat piring-piring makanan dan mengaturnya di meja makan.

Ning… nong… ning… nong…

“Ha? Siapa yang datang? Ayah tidak mungkin datang secapat ini,” Jin Ri keheranan.

“Siapa yang datang, Jin Ri?” tanya Min Ah.

“Tidak tahu. Akan kubuka pintunya!”

Jin Ri berlari menuju pintu utama. Dibukanya pintu. Dilihatnya sesosok lelaki tua dengan penampilan modis remaja masa kini dan menenteng dua koper besar di tangan kanan dan kirinya.

“Maaf, Anda mau mencari siapa?” tanya Jin Ri sopan.

“Kau siapa?” balas lelaki tua itu.

“Aku? Aku anak pemilik rumah ini…” jawab Jin Ri curiga.

“Anda siapa?” sambungnya.

“Kau tidak tahu siapa aku?”

Jin Ri menggelengkan kepala. Ditatapnya kakek itu dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas.

“Kakek ini aneh sekali. Lihat pakaiannya! Topi bundar, baju kembang-kembang merah, celana pendek, sepatu keds. Memangnya dia mau pergi ke pantai? Sok bertanya-tanya lagi. Apa mungkin dia orang gila?” batin Jin Ri.

Kring… kring…

Min Ah menjawab telepon.

“Halo!”

“Sayang, aku dan Ki Bum tak bisa menemukan ayah,” kata Kim San panik.

“Hah? Bagaimana bisa?” tanya Min Ah tak kalah panik.

“Aku juga tidak tahu…”

“Apa mungkin pesawatnya belum tiba?”

“Tidak mungkin. Kata petugas bandara, pesawatnya sudah tiba sejak sejam yang lalu. Lebih cepat dari biasanya.”

“Baiklah, teruskan saja mencari ayah! Jangan sampai dia tersesat…”

Tit.

“Sayang…” panggil Min Ah pada Jin Ri sambil berjalan menuju pintu utama.

“Tadi ayah menelepon kalau kakek…” tiba-tiba Min Ah berhenti bicara.

“Ayah?!” katanya setengah tak percaya.

“Kakek?” Jin Ri sedikit bingung.

“Astaga, ayah! Kenapa ayah bisa langsung ke sini? Padahal Kim San dan Ki Bum datang menjemput ayah di bandara,” kata Min Ah sambil membantu mertuanya masuk ke dalam rumah.

“Jin Ri… ayo, angkat tas kakekmu!” sambungnya.

“Kakek?” Jin Ri masih bingung.

“Iya, dia ini kakekmu!”

Jin Ri lalu memperhatikan sekali lagi wajah kakeknya dengan wajah yang terpampang di foto keluarga besar Kim. Sungguh berbeda. Kakek telah mencukur kumisnya. Pantas saja Jin Ri tak mengenalinya.

Jin Ri tersadar dari segala pikirannya. Ia memasang wajah takut, lalu berlari mengangkat koper-koper kakeknya.

“Aduh… betapa bodohnya diriku ini…! Inilah kesan pertama kakek terhadapku setelah berlatih dengan susah payah. Aduh!!!” gerutu Jin Ri dalam hati.

“Ayah, duduk di sini! Ayah pasti capek sekali,” kata Min Ah pada ayahnya, Kim Myungsuk.

“Siapa anak tadi?” tanya Kim Myungsuk.

“Dia itu yang selalu aku dan Kim San ceritakan pada ayah. Dia Choi Jin Ri.”

“Oh, anak temanmu yang kau angkat menjadi anakmu?”

“Iya, ayah.”

Kim Myungsuk menarik ujung bibirnya. Dia tersenyum kecil.

Jin Ri lalu kembali datang dengan membawa dua cangkir teh panas. Dia berjalan penuh ketakutan. Kepalanya ditundukkan. Wajahnya memerah karena malu.

“Si… silakan diminum, kek!” kata Jin Ri ragu-ragu.

Kim Myungsuk lalu menyeruput teh buatan Jin Ri. Jantung Jin Ri serasa berhenti berdetak menantikan komentar kakeknya tentang teh buatannya.

“Kau ini bodoh atau apa? Kau menyuruhku meminum teh sepanas ini? Kau ingin membakar lidahku? Sejak kapan aku mulai minum teh panas…” Kim Myungsuk jengkel.

Min Ah memukul kepalanya.

“Gawat! Aku lupa memberiitahu Jin Ri kalau ayah tidak suka teh panas.”

“Ah, ayah… tolong maafkan Jin Ri! Aku yang salah karena tak memberiitahunya. Kalau saja dia tahu, dia pasti tidak akan melakukannya,” bela Min Ah.

Jin Ri mengangguk tanda perssetujuan dengan perkataan ibunya.

“Kau jangan menyalahkan dirimu! Dia yang salah! Mengapa dia tak bertanya padamu? Hah…”

Jin Ri semakin menundukkan kepalanya.

“Maafkan aku, kek…” ucapnya lirih.

“Kak, kek, kak, kek… memang aku kakekmu? Sejak kapan aku jadi kakekmu?”

Jin Ri dan Min Ah kaget mendengar perkataan Kim Myungsuk.

“Tapi… aku kan…” Jin Ri ingin membela diri.

“Sudahlah! Sekarang aku mau makan,” potong Kim Myungsuk.

“Oh, aku dan Jin Ri sudah menyiapkan makanan spesial untuk ayah,” Min Ah mencoba membangkitkan suasana kembali.

“Dia?” Myungsuk sedikit tidak percaya.

“Aku hanya membantu sedikit. Ibu yang mengerjakan hampir seluruhnya…” kata Jin Ri.

“Hah, sudah kuduga. Mana mungkin kau yang memasak semua ini?”

Jin Ri mendesah. Kakek sepertinya tidak terlalu menyukainya.

“Apa ayah tidak mau menunggu Kim San dan Ki Bum dulu?” tanya Min Ah.

“Memang mereka siapa sehingga seorang Kim Myungsuk harus menunggu mereka dulu untuk makan? Aku yang tertua di sini. Lagipula siapa suruh mereka terlambat menjemputku di bandara. Aku sekarang menjadi sangat marah dengan mereka. Tunggu saja kalau mereka pulang, tak akan kuizinkan makan!” omel Myungsuk.

“Kakek ini galak sekali! Kan ayah yang punya rumah, tapi kenapa kakek yang sok berkuasa?” umpat Jin Ri dalam hati.

“Hei, kenapa menatapku seperti itu? Kau juga mau tak kuizinkan makan?” tantang Myungsuk.

“Ah, ti… tidak, kek…”

“Sudah kubilang jangan panggil aku kakek! Aku ini bukan kakekmu!”

“I… iya, kek…”

“Kau menantangku?” Myungsuk menatap Jin Ri marah.

“Ah, ti… tidak! Maafkan aku, k…” Jin Ri hampir saja mengucapkan kata ‘kek’ lagi.

“Ayah, sudahlah… tidak baik marah-marah di meja makan…” tahan Min Ah.

“Ah, kau benar! Anak ini membuat darah tinggiku naik.”

Min Ah mengambilkan nasi untuk ayahnya.

“Ayah, cobalah daging ini! Rasanya sangat enak,” promosi Min Ah.

“Benarkah? Baiklah…”

Myungsuk lalu mengambil daging tersebut dengan sumpitnya.

“Mm… ini benar-benar enak. Dagingnya empuk sekali. Bisa kupertimbangkan untuk dimasukkan dalam daftar menu restoranku. Kau tak berubah, Min Ah. Kau pandai sekali memasak!” puji Myungsuk.

“Daging itu buatanku! Aku sendiri yang memasaknya tanpa bantuan ibu. Aku telah berlatih untuk memasaknya secara sempurna selama berhari-hari. Apa benar rasanya enak, kek? Kapan kakek akan memasukkannya dalam daftar menu kakek? Kalu kakek suka, aku akan memasakkannya lagi untuk kakek nanti,” ucap Jin Ri panjang lebar.

“Jadi ini buatanmu?”

Jin Ri mengangguk dan tersenyum.

Myungsuk memandang Min Ah. Min Ah juga mengangguk.

“Dia telah berlatih keras agar berhasil membuat masakan ini khusus untuk kakek. Jadi kuharap kakek mau menghabiskannya!”

“Pasti ini pengaruh teh panas yang kau buatkan tadi. Kini lidahku terbakar sehingga aku tak bisa membedakan mana makanan yang enak dan tidak. Seandainya saja lidahku tak terbakar, aku pasti sudah membuang daging ini dari tadi,” Myungsuk menyembunyikan rasa malunya.

Jin Ri dan Min Ah tersenyum.

“Kami datang!”

Kim San dan Ki Bum memasuki rumah dengan tergesa-gesa.

“Mana ayah?” Kim San lalu celingukan mencari ayahnya.

“Ada apa kalian mencariku?” Myungsuk keluar dari ruang makan.

“Ayah baik-baik saja?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Syukurlah… kami tadi sangat panik ketika mengetahui pesawat kakek sudah mendarat sejam yang lalu sebelum kami tiba di bandara. Untunglah kakek masih mengingat jalan pulang,” ungkap Ki Bum.

“Aku sangat lapar. Kalian bertiga sudah makan? Ayo, Ki Bum, kita makan! Ibumu pasti memasak banyak makanan enak hari ini,” ajak Kim San.

“Siapa yang memperbolehkan kalian makan? Kalian tidak dapat makan siang karena sudah membiarkanku pulang sendirian. Kalian tahu? Aku sangat marah pada kalian berdua.”

“Ah, kakek… kami kan juga lapar…” rengek Ki Bum.

“Terserah kalian saja!”

Kim San dan Ki Bum pun terduduk lemas di kursi ruang tamu. Kakek kalau ngambek memang seperti itu kelakuannya. Seperti anak kecil.

“Jin Ri…!” Myungsuk memanggil Jin Ri.

“Pergilah! Biar ibu yang bereskan semuanya. Nanti ayah marah lagi,” suruh Min Ah yang sedang membereskan meja makan bersama Jin Ri.

“Jin Ri…!”

“Iya, kek… aku datang!!!”

“Kau bisa mengendarai mobil?”

“Bisa, kek.”

“Kalau begitu ganti pakaianmu sekarang! Antar aku ke suatu tempat!”

“Baik, kek.”

Jin Ri lalu berlari memasuki kamarnya di lantai 2 untuk berganti pakaian.

“Ayah mau ke mana? Apa ayah tidak capek?” tanya Kim San yang masih terduduk lemas bersama Ki Bum.

“Aku harus ke suatu tempat yang penting untuk menepati janji lama.”

“Janji apa?”

“Untuk itu kau tak perlu tahu! Kalian berdua boleh makan saat aku pergi. Mengerti?”

Kim San dan Ki Bum saling berpandangan senang.

“Kami mengerti!”

*****

“Berhenti! Berhenti! Ya, di sini! Berhenti di sini!” Myungsuk memberi perintah.

“Apa alamatnya sudah benar, kek?” tanya Jin Ri.

Myungsuk mencocoknya alamat dan nomor rumah dengan rumah mewah yang terpampang di hadapannya.

“Ya, benar, ini dia! Setelah 13 tahun, semuanya menjadi begitu berbeda.”

“Jadi kakek akan bertemu dengan teman lama kakek yang sudah berpisah dengan kakek selama 13 tahun?”

“Iya.”

“Wah, kakek hebat! Aku berharap persahabatanku dan Sujin juga bisa selanggeng kakek dan teman kakek.”

“Jangan pernah samakan diriku denganmu! Juga jangan panggil aku kakek! Bukankah sudah kubilang padamu tadi?”

“Eh… iya. Maafkan aku…”

“Kau tunggu di sini sampai aku kembali!” perintah Myungsuk.

“Iya, kek. Ups, maksudku iya…”

Myungsuk pun memasuki rumah itu.

*****

“Maaf, tapi mungkin Anda belum mendengar kabar ini. Ayah saya, Choi Soo Hyun, sudah meninggal belum lama ini,” kata Choi Hyunmoo.

“Aku turut berduka cita…” kata Kim Myungsuk.

“Tapi apa benar Anda yang bernama Kim Myungsuk?” tanya Tae Jinah hati-hati.

“Ya, benar itu aku. Aku adalah sahabat Choi Soo Hyun.”

Choi Hyunmoo dan Tae Jinah saling berpandangan.

“Apa Choi Soo Hyun pernah meninggalkan pesan sebelum dia meninggal?”

“Sebenarnya…” Choi Hyunmoo mulai bercerita panjang lebar.

“Maaf sebelumnya, tapi bukankah Anda tidak mempunyai cucu perempuan?” tanya Tae Jinah lagi.

“Siapa yang mengatakan hal itu?”

“Oh, hahaha… kami tentunya giat mencari informasi.”

“Kalau begitu, informasi yang kalian dapat mungkin keliru.”

“Apa maksud Anda?”

“Anakku mengangkat seorang putri ketika dia masih berumur 5 tahun. Namanya Kim Jin Ri. Dia yang akan aku jodohkan dengan anak kalian, cucu Choi Soo Hyun.”

To be continued


Author’s NOTE:

Hai hai… Happy New Year 2013! Ini adalah postingan pertamaku di tahun penuh berkah ini (aamiiin…). Maaf atas keterlambatanku yang sudah tidak bisa ditolerir ini lagi yak! Maklum, mahasiswa baru alias maba 2012 Universitas Haluoleo ini sibuknya minta ampun. Tugas di mana-mana… belum lagi tidurnya kalau orderan tugas lagi sepi. Belum lagi stres kalau dosennya marah-marah gitu. Memang dunia perkuliahan adalah dunia yang kejam. Waspadalah bagi readers yang tahun ini Insya Allah lulus UAN dan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

PART 3 ini sebenarnya sudah sangat lama tersimpan di lappyku. Tapi dasar malas dan kehabisan ide, jadi tidak kulanjutin. Maaf ya kalau misalnya part ini kurang gregetan. Istilahnya kalau dalam ilmu literatur, part 1-3 ini masih berupa exposition alias perkenalan (jiahhh… mengaplikasikan ilmu yang didapat dari kelas literatur nih yeee :p).

Okay. Now, please drop your comment. Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakan. Hehe… ^lol^

:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::
 

Dhilah siBluuu Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review