::Leave 'Words' For Me::
::Followers::
Kamis, 10 Mei 2012
HELLO TO MY JI EUN [PART 4]
Author : Nur Fadhilah
Genre : Romance, friendship, comedy (a little bit)
Rating : PG-13
Length : Multi-chapter
Casts : Lee Ji Eun (IU), Lee Taemin (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Song Jieun (Secret) Hyorin (Sistar), Sandara Park (2NE1)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fanfiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)
Baca PROLOG, PART 1, PART 2, & PART 3 dulu ne...
Previous Part:
Ji Eun menghela napas sekali lagi, lalu berkata dengan mantap.
“Aku menerima perjodohan ini.”
*****
Jonghyun menarik napas lega. Ia tersenyum manis pada Ji Eun lalu tertawa kecil.
“Hwe? Kenapa songsaengnim tertawa? Aku serius,” tanya Ji Eun penasaran.
Jonghyun masih tertawa sambil menyembunyikan wajahnya.
“Coba, coba katakan sekali lagi!” ucap Jonghyun sambil tertawa cekikikan.
“Aku menerima perjodohan ini!!!” kata Ji Eun mempertegas.
“Hahahaha….. “ kini Jonghyun sudah tak kuasa untuk menahan tawanya lagi, ia kini tertawa lepas yang membuat semua mata pengunjung tertuju pada mereka berdua.
Ji Eun menjadi salah tingkah, karena bingung melihat sikap Jonghyun.
“Songsaengnim, hwe??” tanya Ji Eun memaksa.
“Mianhae, mianhae!” ucap Jonghyun mengatur napasnya dan mencoba untuk tidak tertawa lagi.
“Sama sepertimu, aku juga tidak habis pikir mengapa kau menerima perjodohan ini,” sambung Jonghyun.
“Aish… sekarang aku menagih janji songsaengnim semalam!” ucap Ji Eun kesal.
Jonghyun lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
“Kau ingat benda ini?” tanya Jonghyun setelah memperlihat sesuatu di tangannya pada Ji Eun.
“Batu?” Apa maksudnya?” balas Ji Eun tak mengerti.
“Dulu, di taman bermain ada seorang gadis kecil yang memberiikan batu ini padaku. Katanya, seekor penguin jantan akan memberikan sebuah batu hanya pada seekor penguin betina sebagai tanda cintanya. Lalu gadis itu berkata, ‘Anggap saja batu ini pemberian ommamu sebagai tanda cintanya padamu’. Kau ingat?” tanya Jonghyun sambil memperhatikan wajah Ji Eun.
Ji Eun berpikir keras. Sepertinya ia pernah mendengar kalimat itu. Tapi di mana?
FLASHBACK
“Jonghyun-ah! Jonghyun-ah!” teriak seorang pria muda memanggil-manggil sebuah nama sambil berlari ke sana kemari.
Tiba-tiba, seorang gadis kecil menghampiri pria tersebut.
“Ahjushi sedang mencali siapa?” tanya gadis itu polos.
Pria itu tersenyum, lalu berjongkok mensejajari gadis kecil itu.
“Ahjushi sedang mencari anak ahjushi. Tadi, dia bermain ayunan di sana. Apa kau melihatnya?” jelas pria itu.
“Aniyo. Mau kubantu mencalikannya untuk ahjushi?” tanya gadis itu lagi.
“Kau baik sekali mau membantu. Tapi apa orang tuamu tak khawatir?” tanya pria itu.
“Ahjushi tenang saja. Omma belum datang menjemputku. Dia bilang, dia pelgi ke suatu tempat dan akan kembali menjemputku. Aku disuluh tunggu di sini,” kata gadis itu memberi penjelasan.
“Gure. Kuromyon, kalau kau menemukannya, beri tahu ahjushi, ne? ucap pria itu seraya mengelus kepala gadis kecil itu.
“Ne…” ucap gadis itu.
Gadis itu lalu berlari meninggalkan pria itu sendirian. Ia lalu mencari di berbagai sisi. Tapi tak menemukannya. Kemudian, ia mendengar suara isak tangis tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Sepeltinya, dari pohon itu?” ucapnya seraya mendekati pohon tua yang lumayan besar.
Setelah sampai di pohon itu, di mendongak ke atas. Dilihatnya seorang anak lelaki menangis sesenggukan.
“Apa namamu Jonghyun?” tanya gadis itu.
Lelaki itu berhenti menangis sejenak.
“Ne, dari mana kau tahu?”
“Appamu mencalimu! Ayo tulun!” suruh gadis itu.
Anak itu lalu turun dari pohon tersebut.
“Kenapa menangis?” tanya gadis itu lagi.
“Aku tak mau pulang dengan aboji. Dia bilang, dia akan membawaku ke London. Aku mau di sini saja bersama ommoni,” jelas anak itu.
“London itu di mana? Ommonimu juga di mana?” tanya gadis itu polos.
“Kata aboji, London itu kota yang sangat megah dan jauh dari Korea. Kalau ommoni, kata aboji, dia sudah menjadi bintang di langit. Kalau aku ikut bersama aboji, maka aku takut tidak akan bisa melihat ommoni lagi di langit …” jawab anak itu sedih.
Gadis itu lalu pergi setelah mendengar penjelasan anak itu. Beberapa saat kemudian, dia kembali.
“Ini. Ambil!” kata gadis itu sambil menyerahkan sebuah batu pada anak lelaki tadi.
“Untuk apa ini?” tanya anak itu sambil memperhatikan batu itu. Tidak ada yang istimewa pada batu ini, pikirnya.
“Appa bilang, seekol penguin jantan akan membelikan sebuah batu hanya pada seekol penguin betina sebagai tanda cintanya. Anggap saja batu ini pembelian ommamu sebagai tanda cintanya padamu. Jadi, di mana pun kau belada dan ke manapun kau pelgi, kau selalu dapat melihat ommamu. Appa juga memberikan satu untukku,” kata gadis itu tersenyum sambil menunjukkan batu miliknya.
“Jonghyun-ah!” panggil pria yang merupakan aboji anak lelaki itu.
“Ji Eun-ah!” panggil seorang wanita yang berlari mengikuti pria itu.
“Aboji!”
“Omma!”
“Kalian di sini rupanya,” ucap pria itu lega. “Oh, kau berhasil menemukan Jonghyun. Gomawo…” ucap pria itu ramah pada gadis tadi.
“Kamsahamnida, Anda juga sudah membantuku menemukan Ji Eun,” balas wanita itu yang merupakan omma gadis itu.
“Ne… kami pulang dulu. Annyeong haseyo!” kata pria itu lalu pergi.
Anak lelaki tadi tersenyum pada gadis itu, “Annyeong!”
“Annyeong!” balasnya.
“Aboji mengenal mereka?” tanya anak lelaki itu pada pria tadi setelah mereka memasuki mobil.
“Aniyo. Tapi aboji baru saja berkenalan dengan ommoni gadis kecil itu,” jawab pria itu.
FLASHBACK END
“Otte? Kau mengingatnya?” tanya Jonghyun membuyarkan khayalan Ji Eun.
“Ah, ne… Jadi, songsaengnim adalah anak itu. Aku sama sekali tak mengenal songsaengnim. Tapi, kenapa baru mengatakannya sekarang? Songsaengnim bilang, katanya tak mengetahui tentang perjodohan ini. Seharusnya songsaengnim bisa mengenali wajah ommaku,” protes Ji Eun.
“Saat itu, ommamu memakai kacamata hitam, mana mungkin aku mengenali wajahnya. Lagipula, aboji hanya mengatakan kalau kau adalah anak teman lamanya, dia tak mengatakan bahwa kita pernah bertemu sebelumnya. Aku juga sebenarnya baru mengetahui kalau gadis itu adalah kau. Sewaktu aku dan aboji ke rumahmu, ommamu memperlihatkanku album fotomu. Lalu di album itu, aku melihat wajah seorang gadis yang memberikanku batu ini. Barulah aku tahu kalau gadis itu ternyata adalah kau. Kau tahu, semenjak kau memberikanku batu ini, aku tidak pernah menangis lagi, karena aku percaya pada kata-katamu,” kata Jonghyun tersenyum manis menerawang kenangan masa lalunya.
“Oh… aku tidak pernah berpikir kalau batu itu akan sangat berarti bagi songsaengnim,” ujar Ji Eun tersipu malu. “Lalu kenapa tidak dibuang saja sekarang? Aku saja sudah tak ingat, di mana terakhir kali aku menyimpan batu milikku.”
“Shiro! Batu ini adalah pemberianmu padaku. Kau pasti tertawa mendengar kenyataan bahwa aku masih percaya dengan kata-katamu. Setiap aku merasa senang, sedih, bimbang, aku pasti bercerita pada batu ini…” kata Jonghyun kembali tersenyum.
“Mwo? Hahahaha…. Songsaengnim kyowo, hahaha….!!!” Ji Eun tertawa lepas sambil memukul-mukul meja.
“Ya, jangan menertawaiku!” kata Jonghyun menyuruh Ji Eun diam.
“Shiro!! Hahahaha…..”
Melihat Ji Eun tertawa lepas, Jonghyun pun tak dapat menahan tawanya juga. Mereka lalu tertawa bersama, tak peduli dengan pandangan berbagai pasang mata yang terlihat risih dengan gelak tawa mereka.
*****
“Yoboseyo?” terdengar suara Nyonya Lee.
“Yoboseyo, omma…” sapa Ji Eun.
“Ji Eun-ah, bagaimana kabarmu?” tanya Nyonya Lee.
“Gwenchana,” jawab Ji Eun.
“Hwe? Apa kau sudah menemui Jonghyun?” selidik Nyonya Lee.
“Ne…” jawab Ji Eun singkat.
“Lalu, apa jawabanmu?” Nyonya Lee semakin penasaran.
“Aku menerimanya, omma…” jawab Ji Eun terdengar tak bersemangat.
“Jinjja? Syukurlah. Kuromyon, rencananya kapan pertunangan kalian akan digelar?” tanya Nyonya Lee lega.
“Terserah omma saja. Asal jangan sampai mengganggu kuliahku di sini.”
“Gure. Aku akan membicarakannya terlebih dahulu dengan Tuan Shin. Secepatnya, omma akan mengabarimu,” kata Nyonya Lee senang.
“Omma, aku melakukan semua ini karena sayang pada omma…”
“Aigoo… Omma sangat beruntung memiliki anak sepertimu Ji Eun-ah. Gomawo… Kau tahu, omma sangat bahagia.”
“Ara,” jawab Ji Eun tersenyum. “Omma, kututup dulu teleponnya. Jaga kesehatan omma dan jangan lupa minum obat!” nasihat Ji Eun.
“Ne… kau juga. Jangan tidur terlalu larut!” balas Nyonya Lee menasihati.
“Mm…”
Tiit…
*****
Apartemen Jonghyun
08.00 PM
Jonghyun baru saja pulang dari gym. Ia melemparkan tasnya begitu saja ke atas sofa dan merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Diraihnya remote AC yang tidak jauh dari jangkauannya, lalu disetel hingga dia merasa cukup dingin. Dirogohnya saku celana pendeknya untuk mencari ponselnya. Tangannya yang lincah lalu memainkan ponsel berlayar touch screen itu. Ia mencari kontak. Lalu muncullah nama seseorang. Lee Ji Eun.
Jonghyun tersenyum manis melihat nama gadis yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Ia lalu menekan tombol panggil. Jantungnya berdegup kencang menunggu Ji Eun menjawab panggilannya.
“Yoboseyo, nuguseyo?” terdengar suara Ji Eun.
Jonghyun tersenyum mendengar suara itu.
“Jonghyunyeyo…” jawabnya singkat.
“Oh, Jonghyun Songsaengnim! Jwesonghamnida, aku lupa menyimpan nomormu,” kata Ji Eun sedikit takut. Ia takut kalau Jonghyun akan marah padanya.
“Gwenchana. Ji Eun-ah, apa kau sedang sibuk?”
“Ah, aniyo. Aku… hanya sedang bermain gitar. Gwenchana. Mm, hwe? Apa ada keperluan? Sampai-sampai songsaengnim meneleponku malam-malam,” tanya Ji Eun polos.
“Aniyo. Tak ada yang penting. Aku hanya ingin…” Jonghyun menghentikan kalimatnya.
“Mendengar suaramu…” batinnya.
“Ah, aku hanya ingin meneleponmu. Suasana malam di apartemenku sangat sepi. Tak apa kan?” kata Jonghyun berbohong.
“Ah, ie…”
“Mm, Ji Eun-ah. Sabtu ini kau ada acara?”
“Sabtu ini…” perkataan Ji Eun terpotong karena sibuk mengingat jadwalnya. “Ah, jamkanman!” kata Ji Eun pada Jonghyun lalu meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Ia lalu turun dari tempat tidur dan membuka laci meja belajarnya. Diambilnya sebuah buku agenda. Ia lalu membuka dan memeriksa jadwalnya. Matanya segera tertuju pada sebuah kotak yang bertuliskan ‘Saturday’. “Oh, kosong.” Lalu diraihnya kembali ponselnya cepat.
“Sabtu ini aku tak ada acaranya, songsaengnim. Hwe?”
“Kuromyon, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Otte?” tanya Jonghyun sedikit was-was, takut ajakannya ditolak oleh Ji Eun.
“Gure,” jawab Ji Eun singkat.
“Jinjjayo?” Jonghyun tersenyum puas. “Sabtu sore kau akan kujemput. Tunggulah di sana!”
“Ne, songsaengmin…”
“Oh, Ji Eun-ah. Aku punya satu permintaan lagi.”
“Ie?”
“Tolong berhentilah bersikap formal padaku di luar kampus!” pinta Jonghyun.
“Ah… molla. Aku sudah terbiasa bersikap formal pada songsaengnim. Tapi, aku akan mencobanya!” jawab Ji Eun bersemangat.
“Gure. Kau jangan tidur terlalu larut, ne. Aku tutup dulu teleponnya. Annyeong!” kata Jonghyun mengakhiri.
Ji Eun melepaskan ponselnya yang sedari tadi menempel di telinganya. Dia tersenyum.
“Kenapa nasihatnya bisa sama dengan omma?” pikirnya bertopang dagu.
*****
“Hahahahahaha………! Terus,terus?” Ji Eun, Hyorin, dan Dara terlihat begitu antusias mendengarkan cerita Song tentang anak baru yang bekerja di kafe milik appanya, dalam perjalanan menuju halte bus.
“Anak itu cuma bisa tertunduk dan berkata, ‘Jwesonghamnida, songsaengnim…’ dengan wajah seperti ingin menangis,” ceritanya sambil menahan tawa.
“Song-ah, hentikan ceritamu! Perutku sudah sangat sakit karena tertawa, hah, hah…” ucap Hyorin mengatur napas.
“Aku juga sudah menangis,” kata Dara sambil mengelap air matanya.
“Hahahaha… Dara-ah… lihat dirimu, hahaha…!” kali ini Ji Eun yang tak dapat menahan gelak tawa melihat wajah Dara yang langsung disambut tawa Hyorin dan Song.
“Hwe?” tanya Dara tak tau apa-apa.
“Ini! Lihat wajahmu!” suruh Song sambil memberikan cermin miliknya.
“Aahhhh… eye linerku luntur…” ucap darah seperti ingin menangis.
“Nah, wajah anak baru itu ketika dimarahi appa sama persis dengan wajah Dara saat ini. Hahahaha…” perkataan Song lalu diikuti tawa Hyorin dan Ji Eun lagi.
“Ya!!! Jangan menertawaiku! Song-ah, bantu aku…” kata Dara memohon pada Song.
“Ne, ne… sini kubantu,” Song lalu membantu membersihkan mata Dara menggunakan tisu dengan masih menahan tawa.
Tiba-tiba, tawa mereka dihentikan suara seorang namja yang memanggil nama Ji Eun.
“Ji Eun-ah!” panggil Taemin yang baru keluar dari rumahnya.
Ji Eun dan ketiga sahabatnya berbalik.
“Hwe?” tanya Ji Eun ketus.
“Seharusnya aku yang bertanya, hwe? Mengapa setiap kali bertemu denganku, cara berbicaramu selalu seperti ingin menelanku hidup-hidup?” protes Taemin.
“Ini karena sejak pertama kali bertemu denganmu, kau sudah meninggalkan kesan buruk. Pertama, kau hampir menabrakku. Kedua, kau bahkan telah menabrakku. Ketiga, kau ingin menciumku. Lalu kemarin, kau ingin aku menyuapimu. Jadi, pantas saja, ketika melihat wajahmu, yang teringat hanyalah kenangan buruk saja,” jelas Ji Eun.
Hyorin, Song, dan Dara saling berpandangan satu sama lain, kaget mendengar pernyataan Ji Eun.
“Gure. Kuromyon, apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?” tantang Taemin.
Ji Eun menyeringai licik.
“Mudah saja. Perlihatkan aku sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya,” balas Ji Eun tersenyum puas karena ia yakin Taemin tak akan menyanggupi permintaannya. Memang apa yang belum pernah dilihat Lee Ji Eun. Ommanya memiliki cabang butik hampir di seluruh dunia. Sewaktu kecil, ommanya sering mengajaknya ke luar negeri untuk liburan sekaligus mengecek cabang-cabang butiknya.
“Gure, kalau itu maumu. Sabtu ini, ikutlah denganku ke suatu tempat,” kata Taemin lalu pergi meninggalkan Ji Eun dan ketiga sahabatnya.
Mereka berempat terdiam mematung.
“Mana mungkin Taemin menyanggupi permintaan konyol itu?” batin Ji Eun mengingat bila setiap namja yang tak disukainya ingin mendekatinya, maka Ji Eun akan meminta hal ini, maka namja tersebut akan langsung mundur karena merasa tak sanggup.
Hening.
“Ji Eun-ah! Kau bilang tadi, Taemin ingin menciummu? Lalu meminta kau menyuapinya?” pertanyaan Dara membuyarkan lamunan Ji Eun.
“Ah? Hah, molla, molla…” jawab Ji Eun sambil menepis pandangan tajam mata Dara yang kini sudah bersih. Lalu berjalan duluan meninggalkan ketiga sahabatnya.
Mereka bertiga kembali saling berpandangan.
“Ahh… Ji Eun-ah, ceritakan pada kami, apa yang terjadi sebenarnya!!”
“Ji Eun-ah, Ji Eun-ah!!” panggil ketiga sahabat Ji Eun yang tak dihiraukannya.
“Ya! Ji Eun-ah!!” panggil mereka lagi sambil mengejar Ji Eun yang sudah berjalan jauh meninggalkan mereka bertiga.
*****
Saturday
Jonghyun memarkir mobil Ford Fucus STnya tepat di depan sebuah toko bunga. Ia turun dari mobil dan masuk ke dalam toko tersebut.
Sesampainya di dalam, Jonghyun lalu sibuk memilih-milih bunga. Ia tidak tahu bunga apa yang disukai Ji Eun.
“Rose? Biasanya red rose disukai semua yeoja,” pikirnya.
“Annyeong haseyo!” sapa pemilik toko tersebut ramah. “Apakah Anda membutuhkan bantuan?”
Jonghyun hanya tersenyum dan membungkukkan badan.
“Sebenarnya saya tidak begitu paham dengan bunga, jadi saya bingung harus memilih yang mana,” jawab Jonghyun.
“Apakah bunganya untuk seorang yeoja?” tanya pemilik toko.
“Ne…”
“Apakah untuk kekasih Anda?”
“Ah, n, ne…” jawab Jonghyun kikuk.
“Apakah untuk kencan pertama?”
“Ne…” jawab Jonghyun malas. Pemilik toko ini terlalu banyak bertanya, pikirnya.
“Oh, kuromyon, saya sarankan Anda untuk memilih white tulip,” katanya sambil memberikan setangkai white tulip pada Jonghyun.
“Kalau boleh saya tahu, memangnya apa arti white tulip?” tanya Jonghyun penasaran.
“White tulip melambangkan cinta yang sempurna, tulus, dan suci. Saya yakin, kekasih Anda pasti lebih senang diberikan bunga ini dibanding red rose,” jelas pemilik toko.
“Oh, arasseo. Saya ambil sebucket bunga ini saja,” kata Jonghyun mengagguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Setelah membayar bunga tersebut, ia pun kembali ke mobil dan kembali ke apartemennya untuk bersiap-siap.
*****
Rumah Keluarga Lee
Taemin mematut diri di depan cermin.
“Perfect!” katanya tersenyum puas.
Ia lalu mengambil kunci mobilnya dan turun ke lantai bawah.
“Taemin-ah, mau ke mana?” tanya Tuan Lee menghentikan langkah Taemin.
“Ah, aboji. Aku… aku…,” Taemin masih sibuk mencari jawaban yang tepat. “Aku mau jalan dengan seseorang. Mungkin aku akan pulang malam. Jadi aboji dan ommoni tidak perlu menungguku untuk makan malam.”
“Apakah dengan Ji Eun?” tanya Nyonya Lee tersenyum pada Taemin.
“Eh? I, ie ommoni…” jawab Taemin kikuk.
Tuan dan Nyonya Lee saling berpandangan, tersenyum satu sama lain.
“Ohh… sampaikan salam ommoni dan aboji pada Ji Eun, ne?” ucap Nyonya Lee.
“Ah, ne… Mm, aboji, ommoni, haikke!”
“Gure…” kata Tuan dan Nyonya Lee bersamaan.
*****
“Ini cocok tidak?” tanya Ji Eun pada dirinya mematut diri di depan cermin sambil mencoba beberapa pakaian.
“Tapi sepertinya rok ini lebih cocok dengan yang ini…” katanya lagi sambil menunjuk rok berwarna cokelat selutut dan baju berwarna kuning.
Ji Eun terduduk di atas tempat tidurnya bersama beberapa pakaian yang tadi sudah dicobanya secara bergantian. Ia memikirkan pakaian apa yang kira-kira cocok untuk dipakainya sore ini.
“Mmm…” gumamnya masih berpikir. “Ah, gure, yang ini saja!”
Ji Eun melirik jam wekernya. Sudah hampir pukul 04.00. Ia harus bergegas. Lalu dikumpulkannya semua pakaian yang tergeletak di atas tempat tidur dan langsung dimasukkan ke dalam lemari.
“Aku akan membereskan kalian ketika pulang nanti, ne?” katanya pada pakaian-pakaiannya itu.
Setelah berpakaian, Ji Eun duduk mematut diri lagi di depan cermin. Ia memakai bedak tipis dan mengingat rambutnya dengan pita berwarna kuning senada dengan warna bajunya. Tak lupa dipakainya jam tangan pemberian ommanya sewaktu ulang tahunnya yang ke-18. Lalu diambilnya tas cokelat kecil yang tergantung di dalam lemari dan diselempangkan pada tubuhnya. Terakhir, ia mengenakan flat shoes berwarna krem. Dan untuk terakhir kalinya, sekali lagi Ji Eun mematut dirinya di depan cermin. Diperhatikan baik-baik dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Ah, yeppo!!!” katanya kegirangan memuji dirinya sendiri.
Ji Eun lalu keluar dari apartemennya yang berada di lantai 2 dan turun ke bawah.
“Nyonya Bom!” panggil Ji Eun ketika bertemu Nyonya Bom di lantai bawah.
“Ji Eun-ah, yeppoyo!” ujar Nyonya Bom ketika melihat penampilan Ji Eun. “Kau mau ke mana?”
“Mm… aku akan pergi ke suatu tempat dengan…” jawab Ji Eun malu-malu.
“Apakah dengan Taemin?” tebak Nyonya Bom.
“Ah? Kenapa Nyonya Bom bisa tahu?” tanya Ji Eun bingung.
“Dia dari tadi sudah menunggumu di luar,” jawab Nyonya Bom sambil menunjuk ke arah Taemin. “Kalian mau kencan?” tanya Nyonya Bom tiba-tiba.
“Ahh… hahaha…” Ji Eun tertawa garing sebagai pengganti jawaban pertanyaan Nyonya Bom yang terdengar lebih ke sebuah pernyataan.
“Oh, arasseo! Tapi kau jangan pulang terlalu larut, ne?” ucap Nyonya Bom seakan mengerti jawaban dibalik tawa garing Ji Eun.
“Ne… aku tidak akan melupakan pesan Anda,” kata Ji Eun tersenyum. “Annyeong haseyo!”
Ji Eun pun berjalan ke arah Taemin.
“Ya! Kenapa kau lama sekali? Hah, memang semua perempuan di dunia ini sama. Kalau berdandan pasti lama,” kata Taemin menyambut kedatangan Ji Eun.
“Ya! Siapa bilang aku berdandan? Aku selalu tampil seperti ini setiap hari,” sangkal Ji Eun.
“Kau bilang ini bukan berdandan?” tanya Taemin sambil memperhatikan Ji Eun dari atas hingga bawah. “Gwenchana. Usahamu tak sia-sia. Yeppoyo…” puji Taemin tersenyum manis.
Mendengar perkataan Taemin barusan, Ji Eun ingin sekali tersenyum. Tapi senyum itu ditahannya demi mempertahankan harga dirinya.
“Aish… sudah kubilang. Aku tidak akan terjebak dengan segala rayuanmu lagi. Jadi, biar kau merayuku hingga setinggi langit, aku tidak akan terpengaruh,” balas Ji Eun ketus.
“Terserah!” kata Taemin mengangkat kedua pundaknya. “Kajja, naik!” kata Taemin sambil membukakan pintu mobil untuk Ji Eun dan mempersilakannya naik.
Tiba-tiba, ponsel Ji Eun berdering.
“Ah, jamkanman!” kata Ji Eun pada Taemin. “Yoboseyo?”
“Ji Eun-ah, kau sudah siap?” terdengar suara seorang namja.
“Ha?” ucap Ji Eun kaget setelah memastikan kontak yang tertera di layar ponselnya.
Ji Eun lalu mengambil beberapa langkah menjauh dari Taemin agar tak mendengar pembicaraannya.
“Omo! Jonghyun Songsaengnim. Aku melupakan janjiku dengannya. Otteokhe?” batin Ji Eun.
“Ji Eun-ah, apa kau mendengarku?” tanya Jonghyun memastikan karena tak mendapat respon dari Ji Eun.
“N, ne…” jawab Ji Eun gugup.
“Kau sudah siap?” tanya Jonghyun sekali lagi.
“Song, songsaengnim! Kau di mana sekarang?” tanya Ji Eun tanpa menghiraukan pertanyaan Jonghyun.
“Ah, aku masih di ja…”
“Untunglah songsaengnim masih di rumah,” Ji Eun bernapas lega. “Songsaengnim, mianhae, hari ini aku kurang enak badan. Jadi kurasa, aku tidak bisa pergi dengan songsaengnim. Mianhae, songsaengnim…” bohong Ji Eun.
“Kau kurang enak badan?” terdengar ekspresi kaget bercampur khawatir Jonghyun. “Sudah kubilang, kau jangan terlalu sering begadang, inilah akibatnya. Gure, hari ini kita tidak usah pergi saja. Sebagai gantinya, aku akan menjengukmu.”
“Ah, aniyo songsaengnim. Aku hanya butuh istirahat. Sekarang, aku mau tidur saja. Songsaengnim tak usah ke sini!” cegah Ji Eun.
“Oh, gure,” kata Jonghyun sedikit kecewa. “Kau istirahatlah! Aku tutup teleponnya ne…”
Tiit.
“Nuguya?” suara Taemin mengagetkan Ji Eun.
“Ah, bukan siapa-siapa,” jawab Ji Eun tersenyum.
“Oh, kajja!”
Ji Eun pun menaiki Honda CRZ putih itu. Taemin lalu menutup pintu dan dalam beberapa detik, ia juga duduk di kursi kemudi samping Ji Eun. Mobil itu pun melaju kencang menuju tempat yang dimaksud Taemin.
*****
Tiit.
Jonghyun menutup teleponnya.
“Padahal tinggal satu belokan lagi…” ucap Jonghyun pelan.
Jonghyun menepikan mobilnya.
“Tapi kenapa Ji Eun baru mengabariku sekarang? Ah, perasaanku tidak enak. Aku akan menengoknya walaupun sebentar,” kata Jonghyun sambil menyalakan kembali mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju apatemen Ji Eun.
Jonghyun pun membelokkan mobilnya di sebuah jalan yang cukup luas. Belokan tersebut menuju apartemen Ji Eun. Namun tiba-tiba, Jonghyun memberihentikan mobilnya.
Dilihatnya Ji Eun naik ke sebuah mobil bersama seorang namja. Tak lama kemudian, mobil itupun melaju kencang berlawanan arah dengan dirinya.
Jonghyun menatap kepergian mobil itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara sedih, marah, dan kecewa. Ia lalu memukul stir kemudi mobilnya. Ia tertunduk dan tertawa kecut. Menertawai nasibnya. Kemudian diliriknya sebucket white tulip yang ia simpan di kursi sampingnya.
“Cinta yang sempurna, tulus, dan suci?” gumamnya sedih.
~to be continued~
Word List:
1. Ahjushi : paman
2. Ara : aku tahu
3. Nuguya : siapa? (informal)
Next TEASER:
“Kalau memang kau tak mau pergi denganku, katakanlah! Aku tidak memaksa.”
“Kau mau kubelikan es krim?”
Author’s NOTE:
Hai hai! Gimana PART 4nya? Semakin complicated aja kisah cinta Taemin, Ji Eun, dan Jonghyun, kan kan??? Terus, menurut kalian bagaimana?
Sebelumnya saya mau meminta maaf. Ada ralat word’s list di PART 3 yang lalu. ‘Jal jinaeseyo = selamat tidur’, saya ralat menjadi ‘jal jayo = selamat tidur’. Sudah saya edit juga kok di PART 3nya. Soalnya kata teman saya (tempat tanya-tanya bahasa Korea dalam FF ini), katanya dia kurang yakin dengan ‘jal jinaeseyo’, jadi dia nyuruh saya ganti.
Nah, layaknya drama-drama Korea yang alur ceritanya naik turun, cerita FF ini saya buat demikian juga. Saya selalu berusaha gimana caranya agar emosi pembaca tuh jadi naik turun. Ciee, kata-kata saya kok jadi seperti penulis terkenal ya. Aamiiin…
Okay. Now, please drop your comment. Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakan. Hehe… ^lol^
:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::
Categories
Fanfiction siBluuu
Rabu, 09 Mei 2012
Gedung Teater Palsu
Oleh: Nur Fadhilah
Ada dua gedung teater
Yang satu terlihat megah dengan ribuan penonton
Yang satu terlihat biasa dengan puluhan orang penonton
Kuputuskan untuk memasuki gedung teater megah
Tapi apa?
Hanya terdengar teriakan penonton
Teatermu palsu
Aktingmu palsu
Kostummu palsu
Dandananmu palsu
Musikmu palsu
Bayaranmu palsu
Dialogmu palsu
Sorot lampumu palsu
Ada apa ini?
Kini gedung itu kosong
Aku kecewa, menyesal
Kenapa memilih gedung ini?
Lalu terdengar riuh tepuk tangan penonton dari gedung sebelah
Sepertinya meriah
Ada apa ini?
Gedung teater megah dengan teater palsu
Aku kecewa, menyesal
Kenapa memilih gedung ini?
Tiket mahal untuk teater palsu
Oh, pantas saja gedung ini penuh kepalsuan
Namanya saja gedung teater palsu
Aku salah masuk!
Ada dua gedung teater
Yang satu terlihat megah dengan ribuan penonton
Yang satu terlihat biasa dengan puluhan orang penonton
Kuputuskan untuk memasuki gedung teater megah
Tapi apa?
Hanya terdengar teriakan penonton
Teatermu palsu
Aktingmu palsu
Kostummu palsu
Dandananmu palsu
Musikmu palsu
Bayaranmu palsu
Dialogmu palsu
Sorot lampumu palsu
Ada apa ini?
Kini gedung itu kosong
Aku kecewa, menyesal
Kenapa memilih gedung ini?
Lalu terdengar riuh tepuk tangan penonton dari gedung sebelah
Sepertinya meriah
Ada apa ini?
Gedung teater megah dengan teater palsu
Aku kecewa, menyesal
Kenapa memilih gedung ini?
Tiket mahal untuk teater palsu
Oh, pantas saja gedung ini penuh kepalsuan
Namanya saja gedung teater palsu
Aku salah masuk!
Categories
Puisi siBluuu
Selasa, 08 Mei 2012
HELLO TO MY JI EUN [PART 3]
Author : Nur Fadhilah
Genre : Romance, friendship, comedy (a little bit)
Rating : PG-13
Length : Multi-chapter
Casts : Lee Ji Eun (IU), Lee Taemin (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Song Jieun (Secret) Hyorin (Sistar), Sandara Park (2NE1)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fanfiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)
Baca PROLOG, PART 1, & PART 2 dulu ne...
Previous Part:
“Ya Tuhan, mana mungkin dia yang akan bertunangan denganku? Dia, dia, dia kan…” batin Ji Eun setelah melihat wajah namja itu.
“JONGHYUN SONGSAENGNIM??!” katanya tak percaya.
*****
Wajah Ji Eun memerah ketika tahu bahwa namja yang akan dijodohkan dengannya adalah Jonghyun Songsaengnim. Tidak pernah terbesit di pikirannya sedikit pun bahwa namja itu adalah songsaengnimnya sendiri. Pantas saja Nyonya Lee selalu mengelak ketika Ji Eun menanyakan nama, pekerjaan, dan rupa namja tersebut.
“Kau lihat saja nanti! Omma yakin, kau pasti akan terkejut melihat siapa dia,” kata ommanya.
“Om, omma… jadi ini alasannya kenapa omma tidak mau memberitahuku?” tanya Ji Eun. Pelupuk matanya mulai berair.
“Ji, Ji Eun-ah… maksud omma baik. Omma hanya ingin memberi kejutan untukmu…” kata Nyonya Lee membela diri.
“Aniyo omma, aniyo! Ini salah…” kata Ji Eun sambil berjalan mundur, lalu berbalik dan berlari menjauh.
BUKK!
Terdengar suara pintu kamar Ji Eun yang dibanting keras.
“Ji Eun-ah!” teriak Nyonya Lee pada Ji Eun.
Nyonya Lee bingung harus berbuat apa. Ia merasa bersalah pada Ji Eun, Tuan Shin, dan Jonghyun.
“Shin-ah, jeongmal mianhae. Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya. Aku janji, akan bicara dengan Ji Eun,” sesal Nyonya Lee pada Tuan Shin.
“Gwenchana, Gyeongsil-ah. Mungkin Ji Eun hanya kaget. Aku yakin, jika marahnya sudah redam, dia akan kembali seperti sedia kala,” kata Tuan Shin menenangkan Nyonya Lee.
“Gomawo, Shin-ah…” ucap Nyonya Lee.
“Mm, jwesonghamnida, Nyonya Lee. Boleh saya menengok Ji Eun? Mungkin dengan berbicara dengannya akan membuat dia mengerti,” kata Jonghyun meninta izin.
“Jinjja? Oh, gomawo Jonghyun-ah! Pergilah ke kamar Ji Eun!” suruh Nyonya Lee.
“Ne…” ucap Jonghyun.
Jonghyun lalu berdiri dan berjalan menaiki tangga ke lantai dua rumah itu. Lalu ditengoknya kanan dan kiri ruangan itu, mencari letak kamar Ji Eun. Lalu dilihatnya sebuah pintu yang bertuliskan ‘Ji Eun’s room’, lalu terdapat foto Ji Eun di bawah tulisan itu.
Jonghyun lalu melangkah menuju pintu itu dan mengetuknya.
“Ji Eun-ah, ini aku…”
Tak ada jawaban.
“Jebal, bukalah pintunya! Mari kita bicara…”
Masih tak ada jawaban.
“Ji Eun-ah? Gwenchana?”
Tetap tak ada jawaban.
“Ji Eun-ah, jika kau baik-baik saja, jebal menjawablah. Jangan diam. Aku akan pergi…”
Tetap saja, tak ada jawaban. Jonghyun mulai khawatir. Jangan sampai Ji Eun melakukan perbuatan nekat. Kabur dari rumah atau… atau mungkin bunuh diri. Jankanman! Bunuh diri? Jonghyun semakin khawatir. Berbagai praduga-praduga negatif kini berkecamuk di otaknya. Lalu didekatkan telinganya ke pintu. Ia sama sekali tak mendengar apa-apa.
“Jangan, jangan…” batinnya.
Jonghyun lalu mencoba mendobrak pintu kamar Ji Eun sambil memanggil namanya.
“Ji Eun-ah, Ji Eun-ah, gwenchanayo?” teriaknya.
Tiba-tiba…
“Jonghyun Songsaengnim! Apa yang kau lakukan? Aku di sini…” teriak Ji Eun dari balkon rumah.
Jonghyun lalu berbalik ke asal suara. Dilihatnya Ji Eun sedang meringkuk di sudut balkon rumahnya.
“Ji Eun-ah! Gwenchana? tanya Jonghyun yang berlari menghampiri Ji Eun.
“Ya, Songsaengnim! Kenapa menggedor-gedor pintu kamarku? Kau kira aku akan bunuh diri apa? Aku masih ingin hidup.”
“Mianhae. Aku sangat khawatir. Lagipula kau tak menjawabku…” kata Jonghyun.
“Dari tadi aku di sini. Karena aku membuka pintu balkon, angin masuk dan menutup pintu kamarku,” jelas Ji Eun seakan-akan tahu permasalahan yang membuat Jonghyun menjadi bingung.
“Ooh, hahaha…” Jonghyun tertawa lega karena pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya akhirnya terjawab, lalu duduk di samping Ji Eun.
“Ji Eun-ah…” ucap Jonghyun membuka pembicaraan sambil memandang wajah Ji Eun.
“Aku juga baru tahu kalau kaulah orangnya.”
“Mwo?” tanya Ji Eun kaget.
“Aku juga baru tahu bahwa yeoja yang akan aboji jodohkan denganku adalah kau, Ji Eun. Hah, pabo!! Padahal aku sudah menduga bahwa Ji Eun yang dimaksud adalah kau. Aku belum pernah melihat fotomu. Hanya aboji yang pernah melihatnya. Setiap ciri-ciri yang disebutkan aboji mengingatkanku padamu. Andwe! Aku selalu mencoba tak memikirkanmu. Tapi nyatanya, memang benar kaulah orangnya,” jelas Jonghyun. “Jadi kau jangan marah! Aku pun tak tahu apa-apa.”
“Jonghyun Songsaengnim, jwesonghamnida, karena telah berpikir buruk tentangmu…” sesal Ji Eun.
“Gwenchana,” ucap Jonghyun. “Kau sudah merasa baikan sekarang? Sudah tidak marah lagi kan?”
“Ne…” ucap Ji Eun tersenyum.
“Gure. Aku turun dulu,” pamit Jonghyun seraya berdiri. “Haikke!”
Ji Eun hanya membalasnya dengan senyuman.
*****
Tok tok tok…
“Ji Eun-ah! Boleh omma masuk?”
“Ne, omma…” ucap Ji Eun dari dalam kamar.
Nyonya Lee membuka pintu kamar Ji Eun dan memasukinya.
“Kenapa kau tak turun makan malam bersama omma? Kau masih marah pada omma?” tanya Nyonya Lee sambil meletakkan semangkuk sup rumput laut dan air putih di atas meja belajar Ji Eun.
“Aniyo, omma. Aku hanya tidak lapar,” jawab Ji Eun.
“Walaupun kau tak lapar, kau tetap harus makan demi menjaga kesehatanmu, meskipun hanya sesuap,” nasihat Nyonya Lee pada putri semata wayangnya itu.
“Otte?” tanya Nyonya Lee sambil duduk di samping Ji Eun di atas spring bednya.
“Apanya yang bagaimana?” Ji Eun bertanya balik karena tak mengerti maksud ommanya.
“Jonghyun…” jawab Nyonya Lee singkat.
“Oh… Molla. Aku belum memikirkannya,” jawab Ji Eun datar disertai perubahan ekspresi wajahnya.
“Kau harus cepat memberi jawaban, Ji Eun-ah! Tidak baik membiarkan seseorang menunggu suatu hal yang belum pasti terlalu lama…” ujar Nyonya Lee.
“Maksud omma apa? Aku tak paham,” tanya Ji Eun lagi.
“Jonghyun memutuskan untuk menerima perjodohan ini…” jawab Nyonya Lee.
“Mwo?”
*****
“Kau harus cepat memberi jawaban, Ji Eun-ah! Tidak baik membiarkan seseorang menunggu suatu hal yang belum pasti terlalu lama…”
Ji Eun tak bisa tidur. Kalimat ommanya tadi selalu membayang-bayangi pikirannya.
“Otteokhe?” tanyanya pada diri sendiri.
Ji Eun bingung harus berbuat apa. Ia tidak habis pikir mengapa Jonghyun Songsaengnim menerima perjodohan ini. Apakah ia harus meneleponnya untuk menanyakan hal tersebut?
“Andwe!” itu bukan pilihan yang tepat, pikirnya.
“Aaahhh… otteokhe, otteokhe?”
Hyorin. Tiba-tiba dirinya teringat Hyorin. Hyorin sangat pandai memberi nasihat. Saat ini hanya Hyorinlah yang bisa ia percaya. Ji Eun tidak mungkin meminta nasihat pada ommanya. Sementara ommanya sangat mengharapkan respon positif darinya. Song dan Dara juga sepertinya tidak bisa diharapkan, mengingat kedua sahabatnya itu sangat dekat. Ditambah lagi Dara adalah ratu gosip di kampus. Bisa-bisa, kabar ini akan tersebar hanya dalam beberapa menit jika Ji Eun memberiitahukannya pada mereka.
Ji Eun mengambil ponselnya, lalu mencari nomor ponsel Hyorin di kontaknya dan meneleponnya. Saat itu pukul 00.00. Ia tak peduli apakah Hyorin sudah tidur atau belum.
Tiit… tiit…
“Mm, yoboseyo?” Hyorin mengangkat ponsel dalam keadaan masih setengah sadar.
“Yoboseyo. Hyorin-ah…” jawab Ji Eun.
“Oh, Ji Eun-ah… Hwe?” tanya Hyorin yang belum sadar sepenuhnya dari tidurnya.
“Hyorin-ah, Jonghyun Songsaengnim…” kata Ji Eun ragu.
“Hwe? Kalau kau belum bisa menyelesaikan tugasmu, gwenchana. Katakanlah yang sejujurnya padanya. Minta tambahan waktu, jelaskan bahwa saat itu kau mengalami kec…” belum sempat Hyorin menyelesaikan nasihatnya, Ji Eun sudah lebih dulu memotong pembicaraannya.
“Aniyo, Hyorin-ah. Aku dijodohkan dengannya... Otteokhe?”
Mata Hyorin yang sedari tadi masih terpejam, langsung membulat. Ia terduduk di atas kasurnya.
“Ji, Jinjjayo?”
*****
Rumah Keluarga Lee
“Taemin-ah, ommoni perhatikan akhir-akhir ini kau menjadi kurang bersemangat,” kata Nyonya Lee setelah berhasil menelan steak sapi buatannya.
“Apa ada masalah di perusahaan? Aboji seharusnya tahu kalau ada masalah,” ucap Tuan Lee.
“Aniyo, ommoni, aboji…” kata Taemin menggeleng.
“Kuromyon, hwe? Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?” tanya Tuan Lee penasaran.
“Aniyo, aboji. Jeongmal, gwenchana. Akhir-akhir ini aku memang kehilangan nafsu makan,” kata Taemin pelan.
“Kau bahkan tidak memakan cake cokelat buatan ommoni. Padahal itu adalah cake kesukaanmu,” ujar Nyonya Lee sedikit sedih mengingat cake yang dibuatnya kemarin belum dicicipi Taemin sama sekali.
“Jwesonghamnida, ommoni. Tapi aku memang kehilangan selera makanku,” sesal Taemin.
“Kuromyon, kalau Ji Eun pergi selama sebulan, maka kau juga akan kehilangan nafsu makan selama itu?” tanya Nyonya Lee menyindir setelah menelan steak suapan terakhirnya.
“Ie? Ah, aniyo ommoni. Bukan karena itu…” kata Taemin sedikit kaget mendengar pertanyaan ommoninya.
“Taemin-ah, kau mungkin bisa membohongi orang lain, tapi tidak orang tuamu,” kata Nyonya Lee sambil melirik suaminya dan tersenyum nakal pada Taemin. “Kugol jhoahaseyo?”
“Ie? Uhuk… uhuk…” Taemin yang kaget terbatuk-batuk lalu meminum air putih di gelasnya. “Apa maksud ommoni?”
“Ah, kau tak usah berpura-pura. Kami berdua sudah tahu,” kata Nyonya Lee tersenyum.
Lalu Nyonya Lee mendekatkan wajahnya ke arah Taemin yang duduk di depannya sambil berbisik, “Kami mendukungmu 100%.”
“Mwo?” mata Taemin membulat, kaget.
“Jika kau memang benar menyukainya, maka kejarlah. Cinta tak akan datang bila didiamkan saja. Seperti ketika aboji jatuh cinta pada ommonimu,” kata Tuan Lee sambil memandang wajah istrinya yang hampir termakan usia.
*****
“Berikan ini pada Nyonya Bom, Nyonya Lee, dan sisanya boleh kau berikan pada teman-temanmu!” kata Nyonya Lee (omma Ji Eun) pada Ji Eun sambil memasukkan beberapa bungkus oleh-oleh khas Busan ke dalam sebuah kantung hitam, lalu menyerahkannya pada Ji Eun.
“Jaga dirimu baik-baik, ne!” ucap Nyonya Lee sembari memeluk Ji Eun. “Jangan lupa, kau harus memberi jawabanmu secepatnya pada Jonghyun!”
“Ne, omma…” jawab Ji Eun tersenyum. “Haikke!”
Ji Eun lalu memasuki mobil yang telah dipersiapkan untuk mengantarnya kembali ke Seoul setelah menginap selama empat hari di Busan, rumah ommanya. Ji Eun lalu membuka kaca jendela dan sekali lagi mengucapkan salam perpisahan pada ommanya. Ketika mobil itu sudah mulai melaju meninggalkan halaman rumah Ji Eun yang cukup luas, dia pun melambaikan tangan pada ommanya. Nyonya Lee juga membalasnya dengan lambaian tangan, meskipun berat harus berpisah dengan sang putri lagi.
Teringat kembali nasihat Hyorin padanya. Walaupun sudah diberi nasihat, tetap saja Ji Eun masih bingung, apakah ia harus menerima perjodohan ini atau tidak. Tapi ia sadar, ia harus mengambil keputusan secepatnya.
“Ji Eun-ah, aku tak bisa berkata banyak. Namun pesanku, ikutilah kata hatimu. Jika menurutmu perjodohan ini baik, maka terimalah. Tapi dalam mengambil keputusan, bersikaplah adil pada orang-orang di sekitarmu! Jangan egois demi dirimu sendiri! Ommamu pasti sudah memikirkan perjodohan ini dengan sangat matang, sampai akhirnya memutuskan untuk memberiitahumu. Ingat Ji Eun-ah, sesakit-sakitnya hatimu, hati ommamu tentu lebih sakit jika kau bersikap tak acuh pada perjodohan ini.”
“Hah…” Ji Eun hanya bisa menghela napasnya ketika memikirkan hal ini. Ia merasa belum siap, harus dihadapkan pada perkara rumit seperti ini.
*****
“Songsaengnim, tolong berhenti di sini!” kata Ji Eun pada supir keluarganya.
“Tapi, apartemen nona masih di depan sana,” kata supir tersebut seraya menunjuk sebuah bangunan tingkat tiga yang bertuliskan Donghook Apartment.
“Aku turun di sini saja,” kata Ji Eun sambil membuka pintu mobil. “Oh ya, apa songsaengnim tidak keberatan mengantarkan koperku ke kamar?”
“Oh, ne…”
“Ini kunci kamarku. Nanti songsaengnim tidak perlu menguncinya. Jadi kuncinya taruh saja di dalam. Aku cuma sebentar,” kata Ji Eun ketika memberiikan kunci kamar apartemennya pada supir. “Kamsahamnida…”
Mobil Maybach 62 itu pun berlalu dari hadapan Ji Eun. Ji Eun lalu menatap sebuah rumah besar bergaya Eropa di seberang jalan hadapannya. Setelah menengok kanan dan kiri, Ji Eun pun menyeberang jalan, lalu menuju pintu utama rumah tersebut. Dilihatnya kembali bungkusan yang dibawanya, oleh-oleh khas Busan dari ommanya untuk Nyonya Lee. Sebenarnya hatinya sedikit takut. Bukan takut karena ia harus menyerahkan oleh-oleh itu atau tidak. Memberikan oleh-oleh pada keluarga Lee sudah biasa baginya. Tapi… ia sedikit takut akan bertemu Taemin. Semoga, bukan Taemin yang membuka pintu.
“Hah, molla…”
Lalu ditekannya bel digital yang berada di samping pintu.
“Nuguseyo?” terdengar suara seorang wanita yang Ji Eun yakini merupakan suara Nyonya Lee.
“Annyeong haseyo, Ji Eun-imnida!” ucap Ji Eun tersenyum.
Terdengar suara derap langkah dari dalam rumah, lalu muncul sesosok perempuan yang membuka pintu, Nyonya Lee.
“Annyeong haseyo!” sapa Ji Eun kembali sambil membungkukkan badan.
“Ji Eun-ah! Kapan kau kembali?” tanya Nyonya Lee gembira.
“Baru saja. Bagaimana Anda bisa tahu kalau aku pergi?” tanya Ji Eun. Karena seingatnya, ia tidak memberi tahu siapapun selain Nyonya Bom dan beberapa temannya di apartemen.
“Taemin yang memberi tahuku. Katanya ia juga diberitahu oleh temanmu. Kalau tidak salah, namanya Da… Da…,” kata Nyonya Lee mengingat-ingat.
“Dara?” terka Ji Eun.
“Ah, ie. Namanya Dara…” ucap Nyonya Lee.
“Hah, anak itu…” umpat Ji Eun pelan. Memang suatu keputusan yang benar bila ia tidak mau menceritakan masalah perjodohannya dengan Dara. Kalau sudah menyangkut rahasia, anak itu tidak bisa dipercaya.
“Oh ya, aku membawa oleh-oleh dari omma untuk Anda,” kata Ji Eun sambil menyerahkan sebuah bungkusan.
“Gomawo. Ommamu sangat baik. Ia selalu mengirimkan oleh-oleh, padahal kami belum pernah bertemu,” kata Nyonya Lee menerima bungkusan itu.
“Anda sangat baik. Aku bercerita banyak tentang Anda.”
“Hahaha, kau bisa saja,” ucap Nyonya Lee tersipu malu. “Masuklah, Ji Eun-ah! Kemarin aku membuat cake cokelat kesukaan Taemin. Tapi dia sama sekali belum mencicipinya,” kata Nyonya Lee sedih.
“Ah, aniyo Nyonya Lee. Aku pulang saja,” kata Ji Eun menolak.
“Gwenchana. Kalau kau tak mau, maka aku akan tersinggung,” ancam Nyonya Lee.
“Ta, tapi… ah, ne…” jawab Ji Eun mengalah.
Nyonya Lee lalu menggandeng Ji Eun masuk dan mempersilakannya duduk.
“Jankanman, ne…!” kata Nyonya Lee berlalu.
Ji Eun lalu memandang rumah keluarga Lee. Baru kali ini ia masuk ke rumah ini, meskipun sudah beberapa kali datang ke rumah ini. Biasanya, ia hanya bisa melihat isi rumah ini dari luar. Tapi kini, ia dipersilakan masuk. Memang luas, sangat luas malah. Memang tak kalah luas dengan rumahnya, tapi itu tak mengurangi kekagumannya. Setiap sisi rumah dihiasi dengan berbagai pernak pernik yang ditaksirnya pasti bernilai mahal.
*****
Tok tok tok…
“Taemin-ah, buka pintunya!” bisik Nyonya Lee.
Taemin yang sedang asyik membaca buku, beranjak dari tempat duduknya menuju pintu setelah menyimpan bukunya terlebih dahulu.
“Ommoni, hwe? Kenapa berbisik seperti itu?” tanya Taemin setelah membuka pintu.
“Taemin-ah, lihat, siapa yang datang!”
Taemin yang sedikit penasaran, lalu menuju balkon lantai dua untuk melihat siapa orang yang dimaksud Nyonya Lee. Mata Taemin lalu membulat setelah mengetahui siapa yang datang.
“Turunlah!” suruh Nyonya Lee lalu pergi menuju dapur.
*****
“Mianhae, sudah menunggu lama…” kata Nyonya Lee membuyarkan lamunan Ji Eun.
“Ah, gwenchana…” kata Ji Eun tersenyum ramah.
Nyonya Lee lalu duduk di sofa depan Ji Eun. Beberapa detik kemudian, datang seorang pelayan membawa nampan yang di atasnya terdapat dua piring cake cokelat dan dua cangkir teh hangat.
“Kamsahamnida…” kata Ji Eun ramah setelah pelayan tersebut menaruh apa yang dibawanya tadi di atas meja tamu.
“Cicipilah, Ji Eun-ah!” kata Nyonya Lee mempersilakan.
“I, ie…” jawab Ji Eun sedikit ragu.
Ji Eun lalu mengambil piring yang berisi ¬cake tersebut, menyendoknya sedikit, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
“Bagaimana rasanya?” kata Taemin yang tiba-tiba muncul dan berdiri tidak jauh dari Ji Eun.
Ji Eun yang kaget langsung terbatuk-batuk.
“Uhuk, uhuk…” Ji Eun lalu meletaknya piring cake yang tadi dipegangnya ke atas meja dan meminum teh hangat yang disediakan untuknya.
Taemin yang juga kaget karena melihat Ji Eun terbatuk, lalu duduk di samping Ji Eun.
“Gwenchana? Mianhae, bila aku membuatmu kaget…” sesal Taemin.
“Ah, ne, gwenchana…” kata Ji Eun setelah menenggak teh hangatnya.
“Mm, Ji Eun-ah, aku permisi dulu. Taemin-ah, kau temanilah Ji Eun, ne?” ucap Nyonya Lee tersenyum.
“Ne, ommoni,” jawab Taemin tersenyum. Ji Eun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
“Bagaimana rasanya?” tanya Taemin kembali pada Ji Eun.
“Ie?” balas Ji Eun bertanya.
“Cakenya. Bagaimana rasa cakenya? Aku sama sekali belum mencobanya,” kata Taemin lagi setelah memperjelas pertanyaannya.
“Mm, massita. Rasanya massita…” jawab Ji Eun tanpa memandang Taemin. “Mengapa kau tak mencicipinya? Nyonya Lee terlihat sangat sedih ketika bercerita padaku kalau kau tak mau mencobanya.”
Hening beberapa saat.
“Aku mau mencobanya,” kata Taemin tiba-tiba.
“Hah? Kalau begitu cobalah!” kata Ji Eun sambil menyerahkan sepiring cake cokelat yang tadi dibawa pelayan keluarga Lee.
“Shiro! Aku mau mencobanya hanya jika…” Taemin menggantungkan perkataannya, lalu melirik nakal pada Ji Eun. “Hanya jika kau menyuapiku.”
“Mwo?” ucap Ji Eun kaget. “Shiro! Kau makan saja sendiri! Aku tidak akan terjebak olehmu lagi. Kejadian di Bukhansan adalah yang pertama dan terakhir.”
Taemin lalu tertawa melihat sikap polos Ji Eun.
“Kau yeoja aneh!” kata Taemin.
“Mwo?” Ji Eun kembali kaget mendengar perkataan Taemin.
“Kau tahu, banyak yeoja yang berlomba mendekatiku. Tapi kau, malah terkesan menjauhiku. Aku ini namja tampan, kaya, mapan pula,” ujar Taemin membanggakan diri.
“Cih, sudah. Aku pulang saja. Aku bisa sakit perut jika berada di dekatmu terus dan mendengar gombalanmu itu,” kata Ji Eun ketus.
“Tolong sampaikan salamku pada Nyonya Lee. Haikke!” sambung Ji Eun sambil mengambil tasnya dan keluar dari rumah keluarga Lee.
Taemin hanya tersenyum menatap kepergian Ji Eun.
*****
Ji Eun terus menggeliat di atas tempat tidurnya. Malam itu ia tidak bisa tidur. Bukan karena insomnia, tapi karena memikirkan masalah perjodohannya dengan Jonghyun. Kata-kata ommanya dan Hyorin kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Ditambah lagi Taemin. Namja itu kini berhasil merasuki pikiran Ji Eun. Menambah berat volume otaknya sehingga membuat Ji Eun seperti orang gila.
“Besok pagi adalah kelas Jonghyun Songsaengnim. Bagaimana aku akan bertemu dengannya? Mukaku mau ditaruh di mana? Apa yang harus kujawab jika dia bertanya padaku? Bagaimana jika dia telah menyebar berita mengenai perjodohan ini pada teman-temannya? Atau mungkin dia akan menempelnya di papan pengumuman kampus? Aish…” Ji Eun mengacak-acak rambutnya.
“Kalau begini terus, aku benar-benar akan gila!!!” sambungnya.
Ji Eun lalu bangun dan duduk di atas tempat tidurnya. Ia lalu berdiri dan mengambil ponselnya di atas meja belajar yang tak jauh dari tempat tidurnya. Ia berjalan kembali ke arah tempat tidurnya dan kembali duduk. Dibukanya kembali sms yang diterimanya sejam yang lalu.
“Ji Eun-ah, kau sudah tidur? Apa kau sudah mendengar dari ommamu? Aku menerima perjodohan ini. Mianhae karena tidak membicarakannya denganmu sebelumnya. Tentu kau ingin tahu alasanku menerima perjodohan ini. Aku akan memberiitahumu. Tapi, setelah kau memberikan jawabanmu. Jawaban apapun itu, aku akan menerimanya. Jal jayo…”
“Huft…” Ji Eun menghela napas. “Kau benar-benar membuatku penasaran, Jonghyun Songsaengnim.”
Ji Eun lalu menyimpan kembali ponselnya di atas meja belajarnya dan kembali berbaring.
“Apa aku terima saja?”
Khayalan Ji Eun masih menari-nari di atas kepalanya, hingga akhirnya terlelap dalam mimpinya.
*****
Seoul National University
“Ji Eun-ah, kenapa duduk di belakang?” tanya Dara kaget ketika mendapati Ji Eun tidak duduk di depan seperti biasanya.
“Mm, itu… itu…” kata Ji Eun sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus menjawab apa.
“Mungkin Ji Eun hanya ingin tahu saja, bagaimana rasanya duduk di bangku belakang. Selama ini kan dia selalu duduk di depan,” bela Hyorin lalu melirik Ji Eun sambil tersenyum. Ji Eun membalas senyuman itu dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Seakan-akan ia mengirim sinyal ke Hyorin yang mengatakan, “Gomawo Hyorin-ah… Kau adalah malaikat penyelamatku.”
“Kuromyon, karena Ji Eun duduk di belakang, kita juga harus duduk di belakang. Karena tanpa Ji Eun, kita bagaikan kacang tanpa kulit,” kata Song yang disambut tawa ketiga sahabatnya.
Hari ini Ji Eun datang ke kampus lebih pagi dari biasanya. Tentu ia tidak pergi secara diam-diam, seperti yang pernah dilakukan ketiga sahabatnya. Ia sengaja datang lebih pagi untuk mengecek papan pengumuman kampus, apakah berita tentang dirinya dan Jonghyun Songsaengnim benar-benar ada. Ji Eun bersyukur karena semua itu hanyalah khayalannya belaka. Ia lalu menuju kelas dan mengambil bangku di deretan belakang (atas), tidak seperti biasanya. Alasannya sederhana, ia takut bertemu dengan Jonghyun Songsaengnim. Memang, walaupun duduk di bangku paling belakang wajah Jonghyun Songsaengnim akan tetap jelas terlihat, karena bangku ditata seperti tangga. Tapi dengan begitu, Ji Eun akan sedikit terbantu, karena wajah Jonghyun Songsaengnim hanya akan dilihatnya dari jarak jauh.
Tiba-tiba, suasana kelas yang tadinya gaduh menjadi hening. Jonghyun Songsaengnim memasuki kelas.
“Annyeong haseyo!” sapa Jonghyun pada siswanya.
Dilihatnya deretan bangku depan. Ia tak menemukan Ji Eun. Lalu dilihatnya deretan-deretan bangku setelahnya. Akhirnya, ia menemukan Ji Eun dan ketiga sahabatnya di deretan bangku teratas. Tatapan matanya bertemu dengan mata Ji Eun. Jonghyun tersenyum manis.
“Baik, mari kita mulai pelajaran hari ini…”
*****
“Ji Eun-ah, mengapa kau melarangku memberi tahu Song dan Dara mengenai hal ini?” tanya Hyorin yang sebelumnya kewalahan mengejar Ji Eun, karena segera keluar kelas selepas kelas Jonghyun Songsaengnim.
“Hyorin-ah, kau seperti tak tahu sifat Song dan Dara saja. Jika aku atau kau memberi tahu mereka berdua, maka hanya dalam hitungan detik berita ini akan menyebar ke seantero kampus. Aku tak mau itu terjadi…” jawab Ji Eun yang berhenti berjalan untuk menjawab pertanyaan Hyorin. “Aku hanya memberi tahumu saja, karena bingung harus bercerita pada siapa. Jebal, jangan ceritakan masalah ini pada siapapun, ne?”
“Hah…” Hyorin menghela napas. “Ne, aku janji,” kata Hyorin akhirnya.
“Gomawo, Hyorin-ah…” kata Ji Eun tersenyum.
“Otte? Kau sudah membuat keputusan?” tanya Hyorin.
Ji Eun mengangguk pelan. Hyorin membalasnya dengan senyuman. Meraka baru saja akan melangkah pergi ketika suara seseorang menhentikan langkah mereka.
“Lee Ji Eun-ssi!!”
Ji Eun dan Hyorin berbalik ke asal suara.
“Jonghyun Songsaengnim?” ucap Ji Eun kaget.
“Kau sudah tak ada kelas lagi kan? Aku ingin bicara berdua denganmu. Ini penting…” kata Jonghyun tersengal-sengal karena berlari mengejar Ji Eun.
Ji Eun memandang Hyorin, begitupun sebaliknya. Hyorin mengaggukkan kepala.
“Pergilah, ne… Jangan lupakan nasihatku!” kata Hyorin tersenyum tipis.
*****
Coffee Prince Café
“Kau mau pesan apa?” tanya Jonghyun pada Ji Eun.
“Terserah songsaengnim saja,” jawab Ji Eun tersenyum tipis.
“Kami pesan hot cappuccino,” kata Jonghyun pada pelayan kafe yang sudah berdiri di samping meja sambil mencatat pesanan Jonghyun.
“Apa tidurmu nyenyak semalam? Aku perhatikan, kau memiliki lingkaran hitam di bawah mata,” kata Jonghyun membuka pembicaraan setelah pelayan tadi pergi.
“Ah, jinjja? Aku tidak memperhatikannya. Memang akhir-akhir ini aku kurang tidur,” jawab Ji Eun sedikit malu.
“Apa kau membaca smsku semalam?” tanya Jonghyun lagi.
“Mm…” jawab Ji Eun singkat sambil menganggukkan kepala.
“Kau sudah memikirkan jawabannya?”
“Mm…” jawab Ji Eun tak berani membalas tatapan mata Jonghyun yang sedari tadi memandanginya.
Hening beberapa saat.
“Ap, apa jawabanmu?” tanya Jonghyun sedikit gugup.
Hening kembali.
“Aku… aku…” Ji Eun tiba-tiba menghentikan kalimatnya ketika melihat pelayan yang tadi mencatat pesanan mereka datang.
“Ini pesanan Anda, dua gelas hot cappuccino,” katanya ramah sambil menaruh gelas-gelas tersebut di atas meja. “Apa masih ada keperluan lain?”
“Aniyo,” jawab Jonghyun menggeleng. “Kamsahamnida.”
“Gure. Selamat menikmati!” kata pelayan lalu pergi meninggalkan Ji Eun dan Jonghyun.
Suasana kembali hening.
“Otte?” tanya Jonghyun kembali.
Jantung Ji Eun berdegup kencang. Tangannya dingin. Tenggorokannya kering. Lidahnya terasa keluh. Ji Eun lalu mengambil gelas yang berisi cappuccino di depannya dan meminum beberapa teguk. Kini tenggorokannya telah basah. Dia siap untuk berbicara.
“Jwesonghamnida songsaengnim, karena terlalu lama membuat keputusan. Jujur, aku sangat kaget ketika mengetahui bahwa songsaengnim menerima perjodohan ini. Aku sudah memikirkannya. Aku tidak tahu apakah keputusanku ini akan membuat keadaan menjadi lebih baik atau sebaliknya, menjadi lebih rumit,” jelas Ji Eun.
“Lalu?” tanya Jonghyun tak sabar ingin mendengar jawaban Ji Eun.
“Aku… aku…, hah…” Ji Eun menghela napas.
“Ayo Ji Eun, kau pasti bisa!” batinnya.
Ji Eun menghela napas sekali lagi, lalu berkata dengan mantap.
“Aku menerima perjodohan ini.”
~to be continued~
Word’s List:
1. Jebal : tolong
2. Otteokhe : aku harus bagaimana?
3. Jal jayo : selamat tidur
4. Kugol jhoahaseyo? : apa kau menyukainya?
5. Kuromyon : jika begitu
Next TEASER:
“Jinjja? Syukurlah. Kuromyon, rencananya kapan pertunangan kalian akan digelar?”
“Gure, kalau itu maumu. Sabtu ini, ikutlah denganku ke suatu tempat.”
Author’s NOTE:
Hai hai!! PART 3 sudah selesai nih. Bagaimana pendapat kalian? Ceritanya semakin seru atau membosankan? Di part ini, lebih banyak bercerita tentang kegalauan Lee Ji Eun. Bagian Jonghyun juga sudah mulai banyak. Sengaja di part-part sebelumnya, peran Jonghyun tidak terlalu ditonjolkan. Tujuannya agar pembaca surprise saja ketika mengetahui bahwa Jonghyun ternyata punya peran besar dalam cerita ini.
Makasih ya, buat pembaca yang sudah mau comment. Walaupun sedikit, tapi saya tetap merasa senang. Senang ketika mengetahui ternyata fanfic ini mendapat respon positif dari pembaca. Tahu tidak, saya tuh kalau baca comment-comment kalian, bacanya sambil senyam-senyum nggak jelas dan lompat-lompat kegirangan di atas tempat tidur. Hihihi..
Okay. Now, please drop your comment. Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakan. Hehe… ^lol^
:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::
Categories
Fanfiction siBluuu
Sabtu, 05 Mei 2012
HELLO TO MY JI EUN [PART 2]
Author : Nur Fadhilah
Genre : Romance, friendship, comedy (a little bit)
Rating : PG-13
Length : Multi-chapter
Casts : Lee Ji Eun (IU), Lee Taemin (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Song Jieun (Secret) Hyorin (Sistar), Sandara Park (2NE1)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fanfiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)
Baca PROLOG & PART 1 dulu ne...
Previous Part:
“Apa bus kalian sudah datang?” tanyanya sambil tersenyum. “Kalau belum, tawaranku yang tadi masih berlaku. Itu pun jika teman kalian, Ji Eun-ssi, tidak keberatan.”
*****
“Hah? Dari mana kau tahu namaku?” tanya Ji Eun yang kaget mendengar namanya disebut.
“Itu tidak penting dari mana aku tahu. Sekarang yang terpenting, kalian mau tidak aku antar?” balas Taemin.
“Kau tidak dengar jawabanku tadi. Sekali tidak, ya tidak!” jawab Ji Eun ketus.
“Ji Eun-ah, kau jangan memikirkan dirimu sendiri. Mungkin jika kau tidak mengikuti pelajaran Jonghyun Songsaengnim tidak apa-apa. Kau kan pintar. Tapi kami? Otak kami kan standar…” ucap Dara yang juga sudah mulai kesal dengan sikap kekanak-kanakan Ji Eun.
“Dara ada benarnya juga, Ji Eun-ah. Apa kau mau dipanggil ke ruangan Jonghyun Songsaengnim karena dua kali tidak menghadiri kelasnya?” akhirnya Hyorin angkat bicara. Hyorin tahu, Ji Eun pasti akan mendengar nasihatnya.
“Aish, gure, gure! Aku kalah! Kalian naiklah bersama namja itu!” ucap Ji Eun sedikit kesal karena Hyorin berhasil melunakkan hatinya.
“Jinjja? Hahaha, horeee!! Kajja, kajja!” ungkap Dara senang sambil melompat-lompat.
Melihat pemandangan itu, Taemin hanya bisa tertawa kecil. Lalu membukakan pintu depan untuk Ji Eun.
“Aku tak mau duduk di sampingmu. Dara-ah, duduklah di depan!”
“Jinjja yo? Gu… hmpphhh!!!” tiba-tiba mulut Dara ditutup oleh Song agar tidak melanjutkan perkataannya.
“Ji Eun-ah, tadi Dara bilang, dia mau duduk bersama kami di belakang. Kau duduk saja di depan!” kata Song yang masih mendekap mulut Dara dan memaksa Dara untuk duduk di kursi belakang.
“Shiro! Aku mau duduk di belakang juga.”
“Ji Eun-ah, sudah sempit…” kata Hyorin yang sudah masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.
“Aish…! Kalian ini…” umpat Ji Eun.
Dia lalu berbalik menghadap Taemin. Terlihat namja itu masih berdiri di posisinya sambil memegang pintu mobilnya dan segera mengisyaratkan Ji Eun untuk naik. Tak ada pilihan lain. Ji Eun terpaksa mengikuti ajakan itu dan naik ke mobil. Taemin lalu tersenyum dan menutup pintu. Lalu berlari kecil memutari depan mobil dan naik ke mobil juga. Ia pun duduk dan mengenakan sabuk pengaman.
“Mau berkenalan?” tanyanya pada Ji Eun memecah keheningan sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ji Eun hanya melirik dengan ekor matanya.
“Hyorin-ah!” panggil Ji Eun.
“Ie?”
“Pukul berapa sekarang?”
“Oh,” Hyorin lalu melirik jam tangan Song yang berada di sampingnya. “Pukul 08.50…”
“Kau dengar itu? Ini bukan waktunya untuk berkenalan. Apa kau memang berniat mengantar kami?” kata Ji Eun sedikit meledek.
Taemin yang salah tingkah hanya tersenyum lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menggunakan tangann yang tadi dia ulurkan untuk bersalaman. Lalu berbalik ke kursi belakang.
“Perkenalkan! Nae-ga Taeminyeyo, Lee Taemin.”
“Aigooya! Kenapa nama depan kalian bisa sama? Nama depan Ji Eun juga Lee,” sergah Song.
“Song-ah, itu hanya kebetulan,” sangkal Ji Eun cepat.
“Jamkanman! Jangan-jangan, kau anak Nyonya Lee ya? Yang baru pulang dari London beberapa hari yang lalu?” tanya Dara penasaran.
“Ie…” jawab Taemin singkat.
“Omo! Ah! Nae-ga Darayeyo, Sandara Park,” ucap Dara cepat sebelum didahului oleh teman-temannya yang lain. Tak lupa, ia juga mengulurkan tangannya agar bisa bersalaman dengan Taemin. Taemin pun menyambut tangan Dara.
“Nae-ga Songyeyo, Song Jieun. Namaku memang hampir sama dengan Ji Eun.”
“Nae-ga Hyorinyeyo,” ucap Hyorin yang sekaligus menutup pembicaraan mereka saat itu.
Taemin hanya tersenyum. Senyum yang dapat membuat Dara meleleh. Ia pun menghadap kemudi dan menyalakan mobil. Mobil Honda CRZ itupun melaju kencang.
Tak cukup 5 menit, mobil itu kini sudah menepi di depan Seoul National University. Ji Eun dan ketiga temannya turun dari mobil. Taemin lalu menurunkan jendela bagian depan.
“Kamsahamnida!” ucap Hyorin, Song, dan Dara bersamaan, segera setelah turun dari mobil Taemin.
Hyorin lalu menyikut lengan Ji Eun yang tidak ikut mengucapkan terima kasih bersama mereka.
“Ji Eun-ah…” bisik Hyorin.
Ji Eun lalu melirik Hyorin seakan-akan menanyakan 'ada apa?'. Hyorin lalu memberi isyarat agar Ji Eun mengucapkan terima kasih.
“Oh, kamsahamnida!” ucap Ji Eun akhirnya walaupun tidak dengan wajah yang tulus.
“Ne…, oh, Ji Eun-ssi! Tanganmu, gwenchana?” tanya Taemin.
“Ne, gwenchana. Sekali lagi kamsahmnida…” jawab Ji Eun.
“Gure. Haikke. Annyeong kyeseyo!” kata Taemin sambil berlalu.
“Annyeong!!” balas yeoja-yeoja itu, kecuali Ji Eun, sambil melambaikan tangan.
Taemin hanya menyaksikannya dari kaca spion. Matanya tertuju pada Ji Eun sambil tersenyum tipis.
“Lee Ji Eun,” ucapnya samar.
*****
Tok tok tok…
“Ji Eun-ah…!!” panggil ketiga sahabat Ji Eun dari luar kamarnya.
Ji Eun yang sedang menonton tv, terpaksa melangkahkan kaki mungilnya menuju pintu, walaupun malas rasanya.
“Hwe?”
”Kami membawa film baru. Aku baru meminjamnya tadi. Dijamin, kau pasti suka,” kata Song.
“Memangnya film apa?” Tanya Ji Eun penasaran.
“Tadaaa!! A Thousand Words. Film baru lho!!”
“Wah!” Ji Eun lalu merampas kaset itu. “Eddie Murphy,” lalu berbalik masuk ke kamarnya sambil membaca sinopsis cerita yang tertera di belakang tempat kaset. “Kajja, masuk!” ajaknya pada teman-temannya.
Setiap akhir pekan, Song selalu meminjam kaset di tempat penyewaan kaset langganannya untuk ditonton bersama teman-temannya. Berhubung di antara mereka berempat hanya Ji Eun yang memiliki VCD/DVD Player, maka kamar Ji Eun yang selalu digunakan untuk menghabiskan akhir pekan mereka.
“Seperti biasa, mari kita suit untuk menetukan siapa yang akan pergi membeli camilan untuk nonton,” Hyorin membuka pembicaraan.
“Ok!” ucap ketiga sahabatnya.
“Hana, dul, set…”
“Ji Eun-ah, kau kalah!”
“Hah! Selalu seperti ini tiap akhir bulan. Kalian pasti sudah bekerja sama lagi kan agar aku yang kalah dan membelikan kalian camilan?? Aish… seharusnya aku sudah tahu dan tidak membawa kalian masuk ke kamarku,” kata Ji Eun kesal mengetahui persekongkolan sahabat-sahabatnya.
“Kekeke… Tapi Ji Eun-ah, kau harus sportif! Kau kan jelas-jelas sudah kalah…” ucap Dara.
“Gure, gure! Aku akan pergi membeli camilan. Ingat, kalian jangan berbuat onar di kamarku! Arasseo??” kata Ji Eun member penekanan.
“Arasseo!!” jawab ketiga sahabatnya.
Ji Eun lalu bergegas ke supermarket setelah mengambil pink coatnya. Udara sangat dingin ketika malam tiba. Saat itu pukul 08.00 malam. Ji Eun memilih untuk mengambil jalan memutar karena lebih terang dan ramai. Dibanding jalan kompas yang lebih gelap dan sepi. Ia jadi teringat cerita seniornya yang hampir diperkosa oleh namja-namja mabuk ketika melewati lorong itu. Semenjak saat itu, yeoja-yeoja di apartemen tempat tinggalnya tidak pernah melewati jalan itu lagi ketika hari sudah gelap. Nyonya Bom juga sudah memperingatkan mereka.
Langkah Ji Eun terhenti sebentar ketika melewati rumah keluarga Lee. Dilihatnya mobil Honda CRZ putih yang terparkir di depan rumah megah tersebut.
“Mau berkenalan?”
“Perkenalkan! Nae-ga Taeminyeyo, Lee Taemin.”
Teringat kembali kata-kata Taemin sewaktu mengantarnya dan ketiga sahabatnya ke kampus.
“Jadi, namanya Lee Taemin…” ucapnya masih memandangi mobil itu. “Aish… apa yang aku lakukan di sini??” ucap Ji Eun setelah sadar dari lamunannya. Ia lalu memasukkan tangannya ke dalam kantung coatnya. Pertanda udara malam yang semakin dingin.
*****
“Popcorn, wafer, coklat, biskuit, keripik, minuman…” kata Ji Eun sambil menunjuk-nunjuk belanjaannya yang ada di keranjang. “Gure! Semua sudah. Tinggal membayarnya.”
Ji Eun lalu berjalan menuju kasir. Terlihat seorang namja yang sedang membayar belanjaannya.
“Ah, Jonghyun Songsaengnim! Annyeong haseyo!” ucap Ji Eun refleks setelah menyadari namja yang berada di depannya adalah Jonghyun Songsaengnim.
“Eh, Lee Ji Eun-ah. Annyeong haseyo!” balasnya. “Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Di mana teman-temanmu?” tanyanya sembari mencari-cari keberadaan tiga sahabat Ji Eun.
“Malam ini kami akan menonton film. Aku bertugas membeli camilan. Berhubung supermarket ini yang terdekat dengan apartemenku, maka aku membeli camilan di sini,” jelas Ji Eun. “Songsaengnim sendiri?”
“Aku baru pulang dari gym. Tapi tiba-tiba merasa haus, jadi aku mampir untuk membeli minuman.”
“Oh…”
Ji Eun lalu memberikan belanjaannya kepada kasir. Baru Ji Eun akan mengeluarkan dompetnya, tapi ditahan oleh Jonghyun Songsaengnim.
“Biar aku yang bayar,” katanya.
“Hah? Andwe, Songsaengnim. Biar aku saja,” cegah Ji Eun.
“Gwenchana. Anggap saja aku mentraktirmu dan ketiga temanmu,” ucapnya seraya memberikan selembar uang 10.000 won kepada kasir.
“Kamsahamnida, Songsaengnim!” ucap Ji Eun setengah membungkuk.
“Ah, gwenchana. Tak usah sungkan.”
Merekan pun berjalan beriringan keluar dari supermarket.
“Kau naik apa?” tanya Jonghyun Songsaengnim memecah keheningan.
“Ah, jalan kaki,” jawab Ji Eun.
“Oh, biar aku antar!”
“Ah, gwenchana! Apartemenku tidak terlalu jauh.”
“Lee Ji Eun-ssi, apa kata orang kalau melihatku membiarkan seorang yeoja jalan sendirian malam-malam begini? Sebaiknya biar kuantar. Aku juga sudah mau pulang,” kata Jonghyun Songsaengnim meyakinkan Ji Eun.
“Emm, gure,” jawab Ji Eun setelah berpikir beberapa saat, lalu naik ke mobil Jonghyun Songsaengnim.
“Di mana apartemenmu?” tanya Jonghyun Songsaengnim setelah menyalakan mesin mobil.
“Lurus saja, lalu belok kiri di pertigaan,” jelas Ji Eun.
Mobil Ford Focus ST itu lalu melaju kencang di hiruk-pikuk malam.
“Di sini?” tanya Jonghyun Songsaengnim setelah menepikan mobilnya di depan sebuah bangunan yang bertuliskan Donghook Apartment.
“Ne, Songsaengnim!” jawab Ji Eun lalu turun dari mobil tersebut. “Kamsahamnida!”
“Ne. Haikke…”
Ji Eun pun menatap kepergian mobil itu hingga menghilang di belokan jalan. Setelah itu, ia masuk ke dalam apartemennya. Ji Eun tidak menyadari. Ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya dari jauh. Taemin memicingkan matanya. Berharap orang yang mengantar Ji Eun akan keluar dari mobilnya agar dia bisa melihat siapa orang tersebut. Tapi sia-sia. Hanya Ji Eun yang turun dari mobil.
“Sepertinya seorang namja…” lirihnya.
*****
Tok tok…
“Nuguseyo?” teriak Hyorin dari dalam kamarnya.
“Ji Eunyeyo...”
“Oh, jamkanman!” Hyorinlalu menghentikan aktivitas bersih-bersihnya lalu membuka pintu apartemennya. “Hwe, Ji Eun-ah?”
“Aku mau pergi jalan-jalan sambil mencari inspirasi untuk laguku. Kau tahukan, lagu yang pernah kutulis hilang akibat kejadian beberapa hari yang lalu. Pabo, aku tak menyimpan duplikatnya. Jadi semua hilang begitu saja. Aku harus menyetornya secepat mungkin pada Jonghyun Songsaengnim. Aku mengetuk kamar Song dan Dara tapi sepertinya mereka belum bangun. Jadi aku pamit padamu saja. Aku mungkin akan pulang sore,” jelas Ji Eun panjang lebar.
“Oh, ne. Hati-hati di jalan. Jangan sampai kau tertabrak lagi. Hahaha…” tawa Hyorin meledek.
“Aish… jinjja! Kau tak ada bedanya dengan Song dan Dara. Bahagia sekali jika menggangguku.”
“Hahaha, mian, mian… Kau pergilah ne, tulis lagu yang bagus!”
“Haikke!”
*****
Tok tok tok…
“Nuguseyo?” tak ada jawaban.
Tok tok…
“Nuguseyo?” tetap tak ada jawaban.
“Aish…” kesalnya.
Taemin yang kesal akhirnya bangun dari tidur di hari Minggunya dan dengan malas berjalan menuju pintu.
“Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida, saranghano Lee Taemin, saengil chukkahamnida…” tiba-tiba Tuan dan Nyonya Lee muncul dari balik pintu menyanyikan lagu saengil chukkahamnida sambil membawa sebuah kue ulang tahun berlapis coklat kesukaan Taemin.
“Aigoo! Ommoni, Aboji, kamsahamnida!” ucap Taemin senang sambil memeluk dan mencium pipi kedua orang tuanya itu. “Aku sendiri lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku.”
“Aigoo! Umurmu baru genap 22 tahun, tapi kau sudah pelupa,” canda Tuan Lee.
“Hahaha…” canda Tuan Lee disambut tawa renyah Nyonya Lee dan Taemin.
“Taemin-ah, bagaimana kalau kita merayakan ulang tahunmu? Kau kan sudah 3 tahun tak merayakan ulang tahunmu bersamaku,” bujuk Nyonya Lee.
“Aniyo, ommoni. Aku ini sudah bukan remaja berusia belasan tahun yang setiap ulang tahunnya harus dirayakan,” tolak Taemin.
“Ya! Maksudku bukan begitu. Kita cukup merayakan bertiga. Mumpung ini hari Minggu. Kajja, kita piknik di Bukhansan National Park. Kita sudah lama sekali tidak piknik bertiga. Otte?” ajak Nyonya Lee.
“Apakah ommoni akan mengajakku hiking?” tanya Taemin kaget mendengar Nyonya Lee akan mengajaknya dan Tuan Lee piknik di Bukhansan National Park. Setahunya, tempat itu terkenal dengan mountain land typenya, sehingga banyak wisatawan dalam dan luar Seoul datang ke sana untuk hiking.
“Gwenchana. Bukhansan saat ini juga sering digunakan sebagai tempat piknik keluarga,” Tuan Lee mengklarifikasi pernyataan istrinya.
“Oh, gure. Sepertinya itu ide menarik,” kata Taemin tersenyum senang.
“Gure. Kalau begitu, ommoni akan menyiapkan bekal piknik. Kau mandilah, bersiap, dan turun untuk sarapan. Kami akan menunggumu,” kata Nyonya Lee lagi.
“Ne, ommoni…” balas Taemin.
*****
Nee gin saeng.meori nan hwanghol.hae
Nal seuchyeogal ddae ajjil.han geol nan
Geureol ddaemada nan nee yeppeun eereumeul
Bulleobogo shipeo eereok.hae
.
.
.
(I’m entranced by your long, straight hair
I feel dizzy when you pass me by
Whenever that happens
I want to call out your pretty name
Like this)
_SHINee-Your Name_
Ji Eun tampak menikmati alunan lagu lewat MP3 Playernya dalam bus menuju Gyeonggi-do, tempat Bukhansan National Park berada. Dia berencana hiking hingga mencapai Sungai Han, duduk di tepi sungai, dan menulis lagu. Dia tersenyum tipis ketika mendengar lagu itu. Dia berharap, suatu hari nanti dia akan bertemu dengan namja seperi dalam lagu ini. Mencintainya dengan tulus. Perlahan, mata Ji Eun mulai tertutup dan terbang ke dunia mimpi.
*****
“Omo! Ommoni, Aboji, kenapa kalian berpakaian seperti itu?” ucap Taemin kaget melihat Tuan dan Nyonya Lee sudah berpakaian ala pemanjat tebing profesional. Jaket, training, sarung tangan, kupluk, dan sepatu olahraga.
“Taemin-ah, kami berubah pikiran. Selain pikinik, kami juga mau hiking,” jawab Tuan Lee.
“Tapi.. tapi.., otte? Apa ommoni dan aboji kuat?” ucap Taemin khawatir.
“Tentu kami masih kuat. Ommoni dan aboji memang sudah tua, tapi kami masih kuat untuk hiking,” ucap Nyonya Lee.
“Gure. Jamkanman, aku akan berganti pakaian,” ucap Taemin berlalu meskipun masih sedikit khawatir.
*****
“Hah, hah, hah!!” terdengar Nyonya dan Tuan Lee yang sesak napas karena sudah tak kuat mendaki.
“Taemin-ah! Jamkanman! Aboji sudah tak kuat mendaki lagi,” teriak Tuan Lee pada Taemin yang sudah jauh meninggalkannya dan Nyonya Lee.
“Ommoni juga sudah tak kuat, Taemin-ah! Hosh… hosh…” ucap Nyonya Lee menimpali teriakan suaminya.
“Kajja, ommoni, aboji! Sedikit lagi kita sampai. Kita bisa melihat pemandangan seluruh Seoul dari atas puncak,” teriak Taemin jauh di depan kedua orang tuanya.
“Ommoni benar-benar sudah tak kuat, Taemin-ah!” ucap Nyonya Lee setengah berteriak.
Nyonya dan Tuan Lee masih tetap melanjutkan pendakian mereka walaupun dengan langkah yang tertatih-tatih. Namun tiba-tiba Nyonya Lee terjatuh karena kakinya sudah tak kuat menopang berat tubuhnya. Sementara Taemin masih asyik mendaki jauh dari orang tuanya.
“Aaaahhh!!” lirih Nyonya Lee.
“Chaeyeong-ah!” ucap Tuan Lee kaget. “Gwenchana?”
“Omo! Kakikuh. Hosh.. hosh.. Kakikuh, hosh.. sakith sekalih, hosh.. hosh..” jawab Nyonya Lee tersengal-sengal.
“Sepertinya kakimu terkilir, Chaeyeong-ah…” kata Tuan Lee sembari memeriksa kaki kiri istrinya. Lalu dicarinya Taemin. Tapi sayang, Taemin sudah terlalu jauh untuk dipanggil. Walaupun berteriak, Taemin takkan mendengar teriakan Tuan Lee karena suaranya akan teredam suara arus Sungai Han yang tidak jauh dari tempatnya. Namun, Tuan Lee tetap mencobanya. “Taemin-ah!!!!!” Ia berteriak sekuat tenaga, tapi suaranya dikalahkan suara arus sungai. Tepat seperti dugaannya.
Kepala Ji Eun yang tadinya tertunduk menatap kertas, tiba-tiba tegak setelah mendengar suara itu. Suara itu meneriakkan nama Taemin, orang yang hampir dan telah menabraknya. Lalu dicarinya asal suara itu. Kemudian dilihatnya sepasang suami istri yang sudah tak asing lagi baginya.
“Omo! Itu Tuan dan Nyonya Lee! Apa yang mereka lakukan di sini?” tanyanya sembari membereskan kertas dan pulpennya lalu berdiri dan berlari menghampiri mereka.
“Annyeong haseyo!” sapa Ji Eun ramah.
“Oh, kau?” tunjuk Tuan Lee.
“Chonun Lee Ji Eun-imnida. Aku tinggal di apartment Nyonya Bom di seberang jalan rumah Anda,” jelas Ji Eun seakan mengerti maksud Tuan Lee yang sudah lupa akan dirinya.
“Ah, ne! Aku ingat. Kau sering membawa makanan ke rumah jika mendapat kiriman dari ommonimu.”
“Ie…” jawab Ji Eun tersenyum. Lalu dilihatnya Nyonya Lee yang merintih kesakitan. “Oh, apa yang terjadi dengan Nyonya Lee?”
“Sepertinya kaki kirinya terkilir. Tolong bantu aku membawanya ke sana!” ucap Tuan Lee sambil menunjuk tempat yang tadi diduduki Ji Eun.
“Oh, gure. Kajja!” kata Ji Eun lalu membantu Tuan Lee memapah istrinya ke tempat duduknya tadi.
Setelah duduk, Tuan Lee lalu meluruskan kaki Nyonya Lee dan mengurutnya perlahan. Terdengar rintihan kecil Nyonya Lee. Bingung apa yang harus dilakukannya, Ji Eun lantas memijit-mijit lengan Nyonya Lee.
“Apa sekarang sudah baikan?” tanya Tuan Lee memastikan keadaan istrinya.
“Ne… sakitnya sudah berkurang. Gomawo…” ucap Nyonya Lee lirih. “Gomawo, Ji Eun-ah…”
Ji Eun pun tersenyum ramah.
“Mana Taemin?” tanya Nyonya Lee pada suaminya.
Tiba-tiba Taemin muncul dan berlari ke arah orang tuanya. Sebelumnya, ia sempat panik mencari keberadaan orang tuanya dan akhirnya memutuskan untuk kembali menuruni gunung.
“Ommoni, Aboji!” panggil Taemin.
Nyonya dan Tuan Lee serta Ji Eun segera melihat ke asal suara. Taemin yang tadinya berlari, tiba-tiba berhenti melihat keberadaan Ji Eun di antara orang tuanya.
“Kau?” tunjuk Taemin.
“Ya! Kau ke mana saja? Untung ada Ji Eun yang membantuku memapah ommonimu ke sini,” ucap Tuan Lee sedikit kesal.
“Jwesonghamnida, Aboji, Ommoni. Aku sudah sangat lama tidak ke tempat ini, jadi aku sangat menikmati pemandangannya, sampai-sampai melupakan aboji dan ommoni,” jelas Taemin. “Kamsahamnida, Ji… Eun…-ssi! ucap Taemin ragu.
Tak disangka, Ji Eun lalu tersenyum manis pada Taemin.
“Ne, gwenchana!”
Mata Taemin membulat. Senyum tadi benar-benar ditujukan untuk dirinya. Ia belum pernah melihat Ji Eun tersenyum padanya semenjak pertama kali bertemu. Yang diingatnya hanyalah wajah Ji Eun yang marah dan kesal padanya. Taemin menjadi sedikit salah tingkah. Lalu menghampiri ommoninya.
“Gwenchana?”
“Ne…” jawab ommoninya lirih. “Mianhae Taemin-ah. Gara-gara aku, kita tidak jadi piknik di puncak gunung.”
“Gwenchana, ommoni. Kesehatan ommoni lebih penting. Kita piknik di sini saja. Di samping Sungai Han juga bagus, tak kalah indah dengan pemandangan di atas,” kata Taemin menghibur Nyonya Lee.
“Gure. Sekarang bantu aboji menyiapkan segala sesuatunya. Biarkan ommonimu istirahat,” kata Tuan Lee.
“Ji Eun-ah, kau ikutlah piknik bersama kami!” kata Nyonya Lee.
“Ta, tapi…”
“Tak boleh menolak, kali ini aku memaksa!” timpal Nyonya Lee.
“Gu, gure…” ucap Ji Eun seraya tersenyum. “Err, aku akan membantu Tuan Lee menyiapkan perlengkapan.”
“Ne…” kata Nyonya Lee mengiyakan.
Ji Eun pun membantu menggelar tikar, menata bekal, dan menuangkan minuman. Sementara Tuan Lee dan Taemin menyalakan api unggun. Walaupun masih pagi, tapi udara di pegunungan sangatlah dingin. Sesekali, Taemin melihat Ji Eun, mengawasi setiap gerak-geriknya. Setelah semua siap, Ji Eun pun membantu Nyonya Lee berjalan menuju tempat digelarnya tikar. Mereka lalu duduk melingkar. Taemin dan Ji Eun duduk berdampingan.
“Oh, apa kalian sudah saling mengenal?” tanya Nyonya Lee memecah keheningan saat itu.
“Ne, ommoni. Kami sudah beberapa kali bertemu. Tapi…” Taemin lalu melirik Ji Eun.
“Tapi apa?” tanya Tuan Lee penasaran.
“Tapi… kami belum sempat berkenalan secara resmi,” ujar Taemin sambil melemparkan tawa nakal pada Ji Eun.
Ji Eun yang merasa dirinya sedang dikerjai oleh Taemin menjadi salah tingkah. Tiba-tiba, Taemin mengulurkan tangannya pada Ji Eun.
“Nae-ga Lee Taeminyeyo. Kau?” ucapnya masih dengan senyum nakalnya.
Mau tak mau, Ji Eun menyambut uluran tangan Taemin dengan sedikit terpaksa.
“Nae, nae-ga Lee Ji Eunyeyo,” ucap Ji Eun sedkit malu.
Nyonya dan Tuan Lee hanya tersenyum melihat Taemin dan Ji Eun. Mereka seakan-akan paham pada sorot mata Taemin.
“Ji Eun-ah, ajaklah Taemin berkeliling di sekitar sini. Taemin sudah bertahun-tahun tidak mengunjungi tempat ini. Tempat ini sudah banyak berubah…” pinta Nyonya Lee.
“Hah? Ah, ne…” kata Ji Eun mengiyakan.
Mendengar hal tersebut, Taemin lalu berdiri dan merapikan pakaiannya. “Kajja!”
Ji Eun pun memandang Taemin dengan sedikit malas dan akhirnya berdiri juga. Setelah pamit pada Tuan dan Nyonya Lee, mereka pun pergi.
Ji Eun mengajak Taemin menyusuri Sungai Han. Ji Eun berjalan dengan malas, sebaliknya, Taemin berjalan dengan penuh semangat.
“Taemin-ssi, sebenarnya tujuan utamaku ke sini adalah agar aku bisa menulis lagu. Pengganti lagu-laguku yang terbang terbawa angin sewaktu kau hampir menabrakku tempo hari. Jadi, jika kau mau jalan-jalan, tolong kau lanjutkan sendiri. Aku akan berhenti di sini dan melanjutkan laguku,” jelas Ji Eun.
“Shiro! Kalau kau tidak mau melanjutkan perjalanan, maka aku juga tidak mau. Aku akan menemanimu di sini.”
“Hah, terserah kau saja,” ujar Ji Eun lalu duduk di atas batu tepat di pinggir Sungai Han.
Taemin pun duduk di sampingnya.
“Jadi, kau mahasiswa jurusan musik?”
“Ne…” jawab Ji Eun malas.
“Apa judul lagumu?”
“Molla, aku belum tahu,” jawab Ji Eun tanpa melihat Taemin, karena ia sudah asyik melanjutkan tulisannya.
“Apa lagunya tentang cinta?” tanya Taemin lagi setelah melihat lirik lagu yang ditulis Ji Eun.
“Ne…”
“Apakah kau mendapatkan inspirasimu dari sungai ini?” Taemin menerka-nerka.
“Ne…”
“Bagaimana caranya? Inikan hanya sungai…”
“Ya! Bagaimana aku dapat menyelesaikan laguku kalau kau terus bertanya? Aigoo, kau menghilangkan moodku untuk menulis lagu,” kata Ji Eun sembari membereskan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Mianhae… Aku tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang, silakan lanjutkan lagumu!” sesal Taemin.
“Shiro! Moodku sudah hilang!” balas Ji Eun ketus.
“Aigooya, sekarang kau menampakkan wajah marahmu lagi. Padahal beberapa menit yang lalu, kau tersenyum di hadapanku.”
“Aish… sudahlah! Kajja! Kita lanjutkan perjalanan,” ajak Ji Eun yang telah berdiri
“Shiro! Di sini saja. Pemandangan di sini juga indah. Aku menikmatinya,” kata Taemin yang menutup matanya dan tersenyum tulus.
DEG. Jantung Ji Eun tiba-tiba berdegub kencang ketika melihat wajah polos Taemin. Mengapa tiba-tiba namja di depannya itu terlihat… terlihat…
“Aish… apa yang aku pikirkan?” kata Ji Eun tiba-tiba.
“Hwe?” balas Taemin kaget dengan suara Ji Eun.
“Aniyo!” jawab Ji Eun yang telah duduk kembali.
“Kau tahu? Hari ini adalah ulang tahunku,” ucap Taemin.
“Jinjja? Saengil chukkae…” ucap Ji Eun lalu tersenyum tipis.
“Mana hadiahnya?”
“Ya! Aku saja baru tahu kalau hari ini ulang tahunmu. Mana sempat aku membelikanmu hadiah?”
“Kau harus memberiku hadiah sekarang!”
“Otte?” tanya Ji Eun sedikit penasaran. Pikirnya namja ini sudah gila menyuruhnya memberikan hadiah.
“Nyanyikan sebuah lagu untukku!”
“Shiro! Kau bernyanyi saja sendiri!” tolak Ji Eun.
“Kalau tidak mau, aku akan menciummu,” kata Taemin sambil memandang wajah Ji Eun dengan tatapan serius.
“M, mwo?” Ji Eun menjadi gugup.
Taemin mendekatkan wajahnya ke wajah Ji Eun.
“Andwe! Aku akan menyanyikan sebuah lagu,” kata Ji Eun cepat sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Taemin memundurkan wajahnya sambil tersenyum senang.
Sigyel bomyeo soksagineun bimildeul
Ganjeolhan nae mamsok iyagi
Jigeum nae moseubeul hechyeodo joha
Nareul jaechokhamyeon halsurok joha
Nae ireum bulleojwo
.
.
.
(The whispered secrets as I look at the clock
The sincere story in my heart
It’s okay if I am hurt
The more I am pushed, the better
Please call out my name)
_IU-You & I_
*****
Keesokan harinya…
Triit… triit…
Ponsel Ji Eun bergetar.
“Omma?”
“Yoboseyo, omma!” sapa Ji Eun. “Tumben meneleponku.”
“Ji Eun-ah. Minggu depan kau libur kan?”
“Ne… Hwe?”
“Pulanglah ke rumah minggu depan dan menginap di sini beberapa hari.”
“Hah? Memangnya ada apa? Apa omma sakit?” tanya Ji Eun sedikit khawatir. Mengingat ommanya hanya tinggal bersama seorang pelayan yang sudah menemani ommanya bahkan sebelum Ji Eun lahir. Appanya telah lama meninggal dunia.
“Aniyo. Hanya… ada suatu hal yang harus omma bicarakan padamu.”
“Apa tidak bisa bicara lewat telepon saja? Aku sepertinya tidak bisa pulang karena ada beberapa tugas yang harus kuselesaikan.”
“Aigoo, Ji Eun-ah! Apa kau tidak rindu dengan omma? Sudah lama sekali kau tidak pulang. Lagi pula kau bisa mengerjakan tugasmu di sini.”
“Hah… baiklah omma. Aku akan pulang minggu depan,” ucap Ji Eun akhirnya.
“Bagus. Nanti omma akan mengirim supir untuk menjemputmu.”
“Ne, omma.”
Tiit. Telepon ditutup.
*****
“Ji Eun-ah, memangnya berapa lama kau akan pergi?” tanya Dara sedih.
“Molla,” jawab Ji Eun singkat.
“Cepatlah kembali Ji Eun-ah, kami akan merindukanmu…” ucap Song yang juga sedih.
“Ya! Kenapa kalian bersedih? Aku pasti akan segera kembali ketika urusanku sudah selesai.”
“Memangnya ommamu tak memberitahumu urusan apa itu?” kali ini giliran Hyorin yang bertanya.
“Aniyo. Dia tidak mengatakan apa-apa.”
Setelah berpelukan dengan ketiga sahabatnya, Ji Eun pun menaiki mobil yang dikirim khusus untuk menjemputnya. Maybach 62 keluaran terbaru.
“Annyeong!!!” ucap Ji Eun sambil melambaikan tangan ketika mobilnya mulai berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya.
Ketiga sahabatnya balas melambaikan tangan. Ketika mobil Ji Eun sudah hilang di belokan jalan, mereka kembali masuk ke apartment.
“Sepertinya dia akan pergi lama. Tapi ke mana?” tanya Taemin pada dirinya ketika melihat perpisahan Ji Eun dan sahabat-sahabatnya dari balkon kamarnya.
*****
“Omma!!” teriak Ji Eun ketika memasuki rumahnya, berjalan cepat sambil mencari-cari keberadan ommanya.
“Ji Eun-ah!” terdengar suara seorang perempuan memanggil nama Ji Eun.
Ji Eun mendongak ke lantai dua. Ternyata ommanya di sana. Dengan cepat, Ji Eun berlari menaiki tangga dan langsung memeluk ommanya melepas rindu ketika ia sudah berada di depan ommanya.
“Omma… aku merindukanmu!!”
“Omma juga merindukanmu, sayang…”
“Omma, ada apa tiba-tiba menyuruhku pulang?” tanya Ji Eun sembari melepaskan pelukannya.
“Ada yang ingin omma bicarakan denganmu. Duduklah!” kata Nyonya Lee menyuruh anak semata wayangnya duduk (omma Ji Eun juga adalah Nyonya Lee, karena almarhum suaminya memiliki nama depan Lee).
“Ji Eun-ah…”
Ji Eun tampak serius mendengarkan ommanya.
“Umurmu sudah 20 tahun. Sebentar lagi kau akan lulus dari universitas. Kau tahukan, kalau omma sudah tua? Omma juga sering sakit. Omma tidak tahu kapan akan menyusul appamu…”
Nyonya Lee berhenti sejenak, mengambil napas panjang.
“Omma tidak akan pernah bisa tenang jika meninggalkanmu sendiri. Maka dari itu, omma berencana menjodohkanmu dengan anak teman omma…”
Ji Eun yang sedari tadi mendengarkan ommanya dengan serius, terlihat kaget mendengar kalimat terakhir ommanya. Dia akan dijodohkan.
“Apa maksud omma aku akan dijodohkan?” suara Ji Eun mulai meninggi.
“Ini baru rencana, Ji Eun-ah. Kau lihat dulu, kalau kau tidak suka, kau boleh menolaknya. Omma tidak akan memaksamu.”
“Tapi omma, aku masih kuliah…”
“Kalian baru akan bertunangan, itu pun jika kau suka.”
Ji Eun terlihat lemas mendengar perkataan ommanya.
“Dia namja yang tampan, baik, pintar, juga mapan. Omma sudah beberapa kali bertemu dengannya. Dia lulusan luar negeri, salah satu universitas di London,” jelas ommanya.
Melihat ekspresi wajah Ji Eun yang tidak senang dengan berita ini, Nyonya Lee menjadi sedikit merasa bersalah dengan keputusannya.
“Kau boleh menolaknya jika kau merasa tidak suka. Tapi, setelah kau bertemu dengannya. Besok, dia dan appanya akan datang ke sini untuk bertemu denganmu.”
Ji Eun diam saja menanggapi perkataan ommanya. Setelah meminta izin pada ommanya, dia pun berjalan memasuki kamarnya untuk beristirahat yang juga terletak di lantai 2.
“Pikirkanlah baik-baik, Ji Eun-ah!” ujar ommanya ketika Ji Eun akan memasuki kamarnya.
Ji Eun hanya mengangguk pelan tanpa memandang wajah ommanya.
*****
“Aigoo, kenapa cepat sekali datangnya? Padahal aku masih belum selesai bersiap-siap,” kata Nyonya Lee (omma Ji Eun) ramah menyambut tamunya.
“Hah, kau tidak perlu repot. Memangnya aku tamu seperti apa? Kita kan teman lama. Hahaha…” kata Tuan Shin sembari tertawa.
“Annyeong haseyo!!” sapa seorang namja yang berjalan di belakang abojinya.
“Omo! Kenapa setiap kali aku bertemu denganmu kau terlihat semakin tampan?” puji Nyonya Lee.
“Anda terlalu memuji,” balas namja itu seraya tersenyum manis.
“Oh, kajja! Silakan duduk. Ji Eun masih di kamarnya. Dia baru tiba kemarin.”
“Aku sudah lama tidak bertemu Ji Eun. Terakhir kali, sewaktu dia masih di kinderganten sebelum akhirnya kami pindah ke London,” kata Tuan Shin.
“Ah, aku sudah pernah berjanji akan memperlihatkan foto Ji Eun padamu. Mianhae, aku selalu lupa membawa fotonya jika akan bertemu denganmu,” ujar Nyonya Lee pada namja itu. “Jamkanman, aku akan mengambil album fotonya.”
Nyonya Lee berjalan menuju sebuah lemari buku, membukanya, dan mengambil sebuah album foto yang cukup besar, lalu memberikannya ke namja itu.
Namja itu lalu menerimanya dan membuka sampul album itu.
“Itu foto ketika ia masih bayi…” ujar Nyonya Lee.
“Kyowo,” kata namja itu yang lalu disambut senyum Nyonya Lee dan Tuan Shin.
Namja itu terus membuka lembar demi lembar album tersebut sampai akhirnya ia menemukan wajah yang sudah tidak asing lagi baginya. Wajah Ji Eun yang dikenalnya.
“Ini… ini… Lee Ji Eun?” tanya namja itu memastikan pada Nyonya Lee.
“Ne, yeppo yo?”
Namja itu diam seribu bahasa. Ia sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Pantas saja ketika abojinya memberitahukan nama gadis yang akan dijodohkan dengan dirinya, dia agak kaget. Ternyata dugaan-dugaannya selama ini benar. Ji Eun yang dimaksud adalah Lee Ji Eun yang dikenalnya.
*****
“Apa dia sudah datang?” ucap Ji Eun merasa tidak tenang sambil berjalan bolak-balik di depan pintunya.
“Apa aku mengintip saja? Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah namja yang akan dijodohkan denganku. Aish… kenapa omma lama sekali? Katanya ia akan segera memanggilku ketika namja itu datang…”
Ji Eun merasa semakin tak tenang. Jantungnya serasa ingin berhenti berdetak karena rasa penasarannya yang sudah mencapai stadium lanjut.
“Aish… aku akan mati penasaran kalau begini terus. Aku akan mengintip, memastikan apakah namja itu sudah datang atau belum. Ya, aku akan keluar,” kata Ji Eun mantap.
Ji Eun lalu membuka pintu perlahan. Berjalan mengendap-endap menuju balkon lantai dua. Bersembunyi di samping lemari dan mencoba mengintip.
“Aish… kenapa dia harus duduk di situ? Aku jadi tak dapat melihat wajahnya,” kata Ji Eun kesal karena nyatanya namja itu duduk membelakanginya.
“Nah, itu Ji Eun! Ji Eun-ah, turunlah!” perintah ommanya.
Kaget karena Nyonya Lee menyadari keberadaanya, sontak Ji Eun lalu menutup sebelah wajahnya. Dia pun berjalan menuruni tangga.
Mendengar perkataan Nyonya Lee, Tuan Shin dan anaknya itu langsung berbalik menatap Ji Eun. Ternyata benar, itu Ji Eun yang namja itu maksud.
“Ji Eun-ah, kenapa menutup wajah seperti itu? Kau tak usah malu, sayang…” ujar Nyonya Lee.
Perlahan, Ji Eun yang menunduk malu menurunkan tangannya dan mengangkat wajahnya. Matanya langsung ditujukan pada namja yang akan dijodohkan dengannya. Sret! Sepasang mata mereka tepat bertemu membentuk satu garis lurus.
“Ya Tuhan, mana mungkin dia yang akan bertunangan denganku? Dia, dia, dia kan…” batin Ji Eun setelah melihat wajah namja itu.
“JONGHYUN SONGSAENGNIM??!” katanya tak percaya.
~To be continued~
Word’s List:
1. Ie : Ya
2. Nae-ga …yeyo : perkenalan diri (informal)
3. Haikke : aku pergi
4. Annyeong kyeseyo : selamat tinggal
5. Hwe? : kenapa?
6. Hana, dul, set : 1, 2, 3
7. Arasseo : mengerti, paham
8. Nuguseyo? : siapa itu?
9. Saengil chukkahamnida : selamat ulang tahun
10. Saranghano : kami mencintaimu
11. Otte? : bagaimana?
12. Molla : tidak tahu
13. Kyowo : lucu
14. Yeppo : cantik
Next TEASER:
“Apa kau menyukainya?”
“Apa aku terima saja?”
Author’s NOTE:
Hai, hai! Jumpa lagi. Terima kasih karena sudah mau membaca hingga ke PART 2. Bagaimana ceritanya? Semakin seru tidak? Oh ya, di PART 1 ada yang berhasil nebak next teasernya nggak? Gimana, tebakannya benar tidak?? (#ngareep!!)
PART 2 ini memang lebih banyak dari PART 1. Dua kali lipatnya malah. Soalnya, teaser yang saya kasih minggu lalu salah. Saya pikir cerita di PART 2 akan lebih singkat, nyatanya panjang. Jadi, karena tidak mau mengecewakan pembaca (cieee…), jadi saya panjangin saja sekalian ceritanya hingga mencapai bagian yang dimaksud.
Berhubung ada permintaan khusus dari seorang teman, maka saya menambahkan word’s list mulai dari prolog hingga part ini. Tapi, word’s list yang sudah tertulis di bagian sebelumnya tidak akan kutulis lagi di bagian selanjutnya.
Okay. Now, please drop your comment. Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakan. Hehe… ^lol^
:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::
Categories
Fanfiction siBluuu
Kamis, 03 Mei 2012
HELLO TO MY JI EUN [PART 1]
Author : Nur Fadhilah
Genre : Romance, friendship, comedy (a little bit)
Rating : PG-13
Length : Multi-chapter
Casts : Lee Ji Eun (IU), Lee Taemin (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Song Jieun (Secret) Hyorin (Sistar), Sandara Park (2NE1)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fanfiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)
Baca PROLOG dulu, ne...
Tok tok tok…
“Ne, masuk!”
“Ya, Ji Eun… apa kau sibuk?”
“Lumayan. Kenapa?"
“Tolong bantu aku mengaransemen lagu ini. Aku sudah janji pada Jonghyun Songsaengnim untuk mengumpulnya minggu depan. Aku benar-benar bingung, lagu ini harus diapakan. Otakku lagi blank…”
“Hah, kau ini! Kita sudah hampir 4 tahun di universitas, masa mengaransemen lagu saja kau masih bunging?”
“Sudahlah, Ji Eun. Kumohon… bantu aku, ne, ne??”
“Huft, gure. Masuk!”
*****
Rumah keluarga Lee
“Sudah sampai, tuan muda!”
“Tidak banyak yang berubah dengan lingkungan ini semenjak kepergianku 3 tahun yang lalu.”
“Memang tidak banyak. Hanya saja di sebelah sana telah dibangun apartemen khusus yeoja 2 tahun yang lalu,” kata Dongyeop Songsaengnim seraya menunjuk sebuah bangunan tingkat 3 tidak jauh dari rumah keluarga Lee.
“Oh…”
Setelah mobil Lamborghini Urus SUV merah keluaran terbaru itu berhenti di depan beranda rumah keluarga Lee yang bergaya khas Eropa, namja itu pun turun dari mobil dan langsung memeluk ommoni dan abojinya yang telah menunggu di beranda rumah.
“Aigoo, Taemin-ah. Anak kesayangan ommoni. Ommoni sangat merindukanmu.”
“Ya, jangan terlalu lama memeluknya. Aku juga sudah rindu dengannya.”
“Ya! Aku lebih rindu kepadanya dibanding kau. Kau tidak pernah mengizinkan aku untuk pergi menjenguk Taemin di selama di kuliah London. Kau sudah sering bertemu dengannya jika kau ada pertemuan perusahaan di sana.”
“Ommoni, Aboji… kalian jangan bertengkar! Aku merindukan kalian berdua!” kata Taemin sambil memeluk kedua orang tuanya itu. “Kajja, kita masuk! Ommoni pasti sudah memasak untukku, kan? Aku sudah sangat lapar.”
“Tentu saja. Kau pasti merindukan masakan ommoni!”
*****
Keesokan harinya
“Ya, ya! Ada gosip baru. Kalian harus mendengar yang satu ini!” Teriak seorang yeoja yang sukses membuat yeoja-yeoja yang saat itu sedang belajar di kamar Lee Ji Eun.
“Aigooya, ada apa? Kau membuat kami takut dengan teriakanmu,” sergah Song Jieun.
“Hahaha, mianhae. Aku terlalu bersemangat.”
“Memangnya ada apa, Dara-ah?” tanya Hyorin penasaran.
“Kalian masih ingat kan cerita tentang keluarga Lee yang mempunyai seorang anak yang kuliah di London?”
“Maksudmu, keluarga Lee yang rumahnya di sebelah sana?” tanya Hyorin sambil menunjuk asal.
“Gure. Rumah bergaya Eropa di seberang jalan itu…” jelas Song.
“Ada apa sih? Cepat ceritakan! Kau mengganggu waktu belajar kami,” kata Ji Eun yang sedari tadi diam.
“Mian, mian! Aku dengar-dengar, anaknya itu sudah pulang kemarin. Dan yang lebih mengejutkan lagi, katanya, dia itu namja tampan.”
“Hah? Benarkah?” ucap Song dan Hyorin bersamaan.
“Cih, gosip begitu saja kau besar-besarkan. Memangnya kau dengar dari mana?” tanya Ji Eun yang tampak tidak tertarik dengan gosip tersebut.
“Ya! Sudah berapa lama kalian mengenal diriku? Baru kemarin kah? Hahaha… Jangan pernah panggil aku Sandara Park, kalau aku tidak tahu mengenai gosip terbaru di negeri ini, hahaha….”
“Ya, lalu kami harus memanggilmu apa? Sandara Park memang namamu!” tantang Ji Eun.
“Oh, gure. Kau benar, aku lupa. Hahaha…”
“Huh, pabo!!” cibir ketiga temannya.
*****
Sore itu Taemin sedang berdiri di balkon kamarnya ketika seseorang mengetuk kamarnya. Taemin berbalik kaget. Nyonya Lee masuk ke kamar Taemin.
“Hah, ommoni membuatku kaget.”
“Haha, mianhae. Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Nyonya Lee sambil berjalan menuju balkon kamar Taemin.
“Oh, aniyo. Hanya melihat pemandangan sore.”
“Ohh…”
“Oh ya, ommoni. Aku sedikit penasaran dengan apartemen yang di seberang jalan itu. Siapa pemiliknya?”
“Oh, apartemen itu. Itu dibangun 2 tahun yang lalu. Hanya terkhusus untuk yeoja. Yeoja-yeoja yang tinggal di sana rata-rata masih kuliah. Mereka baik dan sopan. Ommoni tidak pernah melihat ada teman lelaki yang berkunjung hingga larut. Pemiliknya adalah Nyonya Park Bom. Ada apa memangnya? Apakah ada seorang yeoja yang menarik perhatianmu?”
“Hah? Apa? Andwe, ommoni. Aku hanya bertanya. Oh ya, apa ada yang ommoni ingin bicarakan denganku?”
“Bukan ommoni, tapi abojimu. Dia ingin membicarakan masalah perusahaan. Temuilah aboji di ruang tengah!”
“Oh, ne ommoni. Kajja!”
Taemin pun menggandengan tangan ommoninya ke ruang tengah.
“Taemin-ah, duduklah di samping aboji!”
“Ne, aboji. Ada apa?”
“Taemin-ah, kau adalah anak aboji dan ommoni satu-satunya. Kini, kau juga telah lulus dan meraih predikat terbaik di universitasmu. Kau pun sudah cukup umur. Sekarang, tolong bantulah aboji di perusahaan. Agar kelak, kau dapat menggantikan posisi aboji di perusahaan. Apa kau bersedia?”
“Tentu saja, aboji. Bukankah sejak kecil aku memang sudah dipersiapkan untuk menggantikan aboji kelak?”
“Haha, Taemin-ah. Kau memang sudah dewasa sekarang,” tutur Tuan Lee disambut tawa hangat Nyonya Lee dan Taemin.
*****
“Hah, jinjja! Tega-teganya mereka meninggalkanku. Sahabat macam apa mereka? Mengetuk pintu untuk membangunkanku saja tidak. Hah, jinjja, jinjja, jinjja!!”
Ji Eun terlihat sangat kesal dan mengumpat berkali-kali dalam perjalanannya menuju universitasya, Seoul National University. Untung saja, letak universitasnya hanya memakan waktu 15 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki dari apartemennya. Universitasnya berada di seberang jalan. Berarti dia harus menyeberang. Sangat banyak pejalan kaki yang hendak menyeberang saat itu. Sampai-sampai mereka harus berdesak-desakan menunggu lampu hijau menyala tanda boleh menyeberang. Ji Eun pun bergabung di tengah kerumunan manusia tersebut. Mereka semua terlihat sama terburu-burunya dengan Ji Eun. Ketika lampu hijau menyala, maka Ji Eun pun berlari di antara hiruk-pikuk pejalan kaki yang menyeberang dari arah yang berlawanan. Ji Eun melirik jam tangannya.
“Omo! 5 menit lagi kelas dimulai. Jonghyun Songsaengnim pasti tidak membolehkanku masuk karena terlambat.”
BUK!
Ji Eun menabrak seorang namja. Namja itu sangat kasar dan langsung membentak Ji Eun.
“Ya! Hati-hati kalau jalan!”
“Jwesonghamnida!” kata Ji Eun sembari membungkukkan badan. Dia lalu berjongkok merapikan kertas-kertas lagunya yang berserakan. Tidak jarang, ada pejalan kaki yang mengomeli Ji Eun jarena dianggap menghalangi jalan mereka.
“Jwesonghamnida, jwesonghamnida…” berkali-kali kata itu terucap dari mulut Ji Eun jika terdapat pejalan kaki yang mengomel pada dirinya.
Tak terasa, suasana zebra cross mulai sepi, pertanda sebentar lagi nyala lampu hijau akan digantikan dengan warna merah. Tapi, Ji Eun masih berjongkok merapikan kerta-kertas lagunya yang berserakan bahka terbang ke mana-mana.
“Hah, selesai juga, huft…”
Ji Eun merasa lega karena telah berhasil mengumpulkan kertas-kertasnya. Ia lalu berdiri tanpa menyadari ada mobil yang melaju ke arahnya.
TIN TIIIINN!!!!
“AAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!”
BRUK!
Mobil Honda CRZ putih tiba-tiba berhenti ketika seorang namja yang mengendarainya mengerem secara mendadak.
“Omo!” ucap Taemin kaget.
Ji Eun masih berdiri mematung seakan syok dengan kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu. Kerta-kertas lagu yang dengan susah payah ia kumpulkan, kini terjatuh lagi, berserakan di jalan bahkan ada beberapa yang terbang mengikuti arah angin.
“Hah, hah!” Ji Eun hanya bisa melongo, kaget.
Setelah memarkir mobil di pinggir jalan, Taemin segera turun dari mobilnya. Segera, ia memeriksa bumper depan mobil yang baru dibelikan abojinya itu.
“Syukurlah, tidak lecet.”
Taemin lalu berbalik kea rah yeoja yang hampir ditabraknya itu. Terlihat yeoja itu masih berdiri mematung.
“Gwenchana? Jwesonghamnida! Aku benar-benar tidak melihatmu. Tadi kau langsung muncul begitu saja dan membuatku kaget.”
“G, gwe, gwenchana… hah, hah…” jawab Ji Eun yang masih syok.
“Jwesonghamnida! Emm, kertas-kertasmu, mau aku bantu memberieskannya?” tawar Taemin.
“Ha? Kertas? Omo! Tugas-tugasku!” ucap Ji Eun yang baru saja tersadar sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia pun langsung berjongkok dan memberieskan kembali kertas-kertasnya.
Melihat hal tersebut, Taemin langsung membantu Ji Eun danberjongkok di depannya.
“Omo! Oh, tidak!”
Ji Eun lalu berdiri dan mengejar beberapa kertasnya yang terbang tertiup angin. Ia kini sudah tidak peduli lagi dengan klakson kendaraan karena hampir menabraknya. Melihat hal itu, Taemin buru-buru memberieskan kertas-kertas yang ada di hadapannya. Ia lalu berlari kecil mengejar Ji Eun.
“Jwesonghamnida, jwesonghamnida!” katanya sembari membungkukkan badannya kepada beberapa pengendara yang terpaksa menghentikan kendaraannya karena ulah Ji Eun.
Taemin lalu menarik tangan Ji Eun. Ji Eun yang kaget karena tangannya ditarik, langsung berlari kecil mengikuti langkah Taemin yang lebar.
“Ya! Kau mau mati, berlarian seperti itu di tengah jalan?” ucap Taemin sedikit berteriak.
“Ha? Jwesonghamnida… Tapi, kertas-kertasku???” ucap Ji Eun sedih memandangi beberapa kertasnya yang kini terbang menjauh meninggalkan dirinya. “Ya! Kenapa jadi aku yang minta maaf? Seharusnya kau bertanggungjawab atas apa yang terjadi padaku,” ucap Ji Eun marah setelah menyadari apa yang terjadi.
Taemin yang merasa bersalah mengingat sebagian dari kejadian ini adalah salahnya pun meminta maaf. “Gure, jwesonghamnida! Aku juga tidak hati-hati menyetir mobil sampai hampir menabrakmu. Tapi aku sudah bertanggung jawab dengan mewakilkanmu meminta maaf kepada pengendara-pengendara yang dibuat marah olehmu tadi.”
“Begitukah? Gure. Tapi tetap saja, kau tidak bisa mengembalikan kertas-kertasku. Padahal lagu-lagu itu sudah susah payah kuaransemen sebagai… Omo! Jam berapa ini?” kata Ji Eun sambil melirik jam tangannya. Jam 09.15.
“Aigoo!!!” kata Ji Eun melemas.
“Ada apa?” tanya Taemin penasaran.
“Aku terlambat masuk kelas. Jonghyun Songsaengnim tidak akan membiarkan siswa terlambat memasuki kelasnya. Aigoo!! Pabo, pabo!” sesal Ji Eun sambil memukul-mukul kepalanya.
”Kau masih kuliah?”
“Menurutmu??! Ini semua gara-gara kau. Aish, jinjja!!”
“Ya! Aku kan sudah meminta maaf. Lagi pula tidak semua dari kejadian ini adalah murni kesalahanku. Kau juga salah.”
“Aish, sudahlah. Tak perlu berdebat. Aku mau ke kampus.”
“Chankamman! Biar kuantar!”
“Shiro. Kampusku sudah dekat. Kamsahamnida karena telah meminta maaf kepada para pengendara tadi atas namaku.” kata Ji Eun sambil berlalu.
“Ta, tapi…” Taemin mencoba menahan lagi yeoja itu, tapi yeoja itu sudah berlari menjauh.
“Hmm..” tersungging senyum tipis di wajah namja itu. “Aku belum menanyakan namanya.”
Taemin melirik jam tangannya.
“Omo! Aboji! Aku terlambat.”
*****
“Awas kalian! Tunggu saja sampai Jonghyun Songsaengnim keluar dari kelas. Kalau bertemu kalian, akan kuremuk-remuk tulang kalian dan kucincang-cincang tubuh kalian. Sungguh sahabat-sahabat tega, tidak berperasaan, meninggalkanku, tidak membangunkanku. Hhhhh!!” ucap Ji Eun kesal sambil meremas-remas tangannya.
Tidak lama kemudian, terlihat Jonghyun Songsaengnim keluar dari kelas. Lalu berjalan ke arah Ji Eun yang sedang bersembunyi di balik tembok. Melihatnya, Ji Eun merapatkan diri ke tembok agar tidak terlihat oleh Jonghyun Songsaengnim. Berhasil. Jonghyun Songsaengnim tidak melihatnya. Ji Eun kembali mengintip dari balik tembok. Terlihat Hyorin, Song, dan Dara berjalan beriringan keluar dari kelas.
“Itu mereka! Awas saja!”
Ji Eun lalu berjalan cepat mengejar ketiga sahabatnya itu.
“Ya! Hyorin, Song, Dara!! Mau kabur ke mana kalian???!”
Hyorin, Song, dan Dara berhenti berjalan. Mereka diam mematung. Ada sedikit ketakutan mendengar suara marah Ji Eun. Perlahan, mereka membalikkan badan mereka ke asal suara.
“Eh, Ji Eun-ah. Annyeong!! Hehe…” terdengar tawa garing mereka menyusul ketakutan luar bisaa melihat wajah marah Ji Eun. Mereka tahu, Ji Eun sangat susah dibujuk jika sudah marah. Padahal mereka selalu bergantung pada Ji Eun. Selain berasal dari keluarga kaya, Ji eun termasuk mahasiswa cerdas di kampus mereka. Dia juga sering membantu mereka mengerjakan tugas. Khususnya, tugas mengaransemen lagu. Kalau sudah menyangkut masalah itu, Lee Ji Eun lah ahlinya.
“Ya! Gara-gara kalian, aku tidak mengikuti kelas Jonghyun Songsaengnim karena terlambat. Tertinggal bus, sehingga harus berjalan kaki ke kampus. Tugas-tugasku hilang diterbangkan angin. Ditambah lagi, aku tadi hampir mati ditabrak mobil seorang namja.” Ucap Ji Eun marah. Ji Eun kalau marah, pasti bicaranya secepat kereta api.
“Mwo? Ditabrak?” ucap ketiga sahabatnya bersamaan.
“Apa kau terluka?”
“Mana yang sakit?”
“Namjanya tampan tidak?”
“Heh? Dara!!!!!!!!!!” ucap Ji Eun, Hyorin, dan Song hampir bersamaan.
“Jadi, namja itu lebih penting daripada aku?” tanya Ji Eun semakin kesal.
“Oops, mianhae. Hehe… Tentulah Ji Eunku yang paling penting di dunia ini.”
“Hahaha, sudahlah. Tidak ada gunanya marah dengan kalian. Ke kantin, yuk! Aku lapar.”
“Eh, tumben.”
“Mau tidak?” Tanya Ji Eun memperjelas.
“Mauu!!”
*****
Tok, tok…
“Masuk!”
Seorang sekretaris memasuki ruangan, lalu membisikkan sesuatu pada Tuan Lee.
“Oh, suruh dia masuk!” perintah Tuan Lee.
“Ne, Songsaengnim.”
Sekretaris itu lalu keluar dari ruangan tersebut, lalu mempersilakan seorang namja memasuki ruangan.
“Kamsahamnida!” ucap Taemin setengah membungkuk.
“Ne…” balas sekretaris Tuan Lee.
Tok, tok…
“Ne, masuklah!”
Taemin lalu memasuki ruangan tersebut dan menutup pintu. Kemudian ia berbalik dan membungkuk memberi hormat pada abojinya dan rekan-rekan meetingnya.
“Ee, perkenalkan! Dia adalah anakku. Dia baru saja pulang dari kuliahnya di London. Dia berhasil meraih lulusan terbaik dengan nilai yang sangat memuaskan. Mulai hari ini dan seterusnya, dia akan selalu datang ke perusahaan ini untuk membantu. Nah, perkenalkan dirimu!” suruh Tuan Lee pada Taemin.
“Annyeong haseyo!” Taemin kembali membungkukkan setengah badannya. “Sebelumnya saya memohon maaf atas keterlambatan saya. Berhubung saya menemui sedikit masalah di jalan. Chonun Lee Taemin-imnida. Saya lulusan London School of Business and Management. Mohon kerjasamanya.” Kembali Taemin membungkukkan badannya, disambut tepuk tangan para peserta meeting.
*****
“Ya, Ji Eun-ah! Kenapa jalanmu cepat sekali? Tunggu dong!” teriak Hyorin.
“Ya, kau marah ya?” susul Song.
“Iya, aku marah,” jawab Ji Eun ketus.
“Kenapa baru marah sekarang? Padahal kemarin kau baik-baik saja. Malah kau mentraktir kami makan di kantin. Dasar aneh!” ucap Dara menimpali perkataan teman-temannya.
“Aku juga mau kalian merasakan penderitaan yang aku alami kemarin. Puas??” teriak Ji Eun sambil berbalik menghadap teman-temannya.
TIIINNNNNN…
“AAAAAAA!!!”
BRUK!
“Ji Eun-ah…!!!!!” seru ketiga sahabat Ji Eun bersamaan.
Mendengar suara tabrakan, di pengemudi mobil langsung mengerem mobilnya dan segera turun untuk memastikan apa yang ditabraknya. Apakah seorang manusia? Karena sempat terdengar jeritan seorang yeoja tadi.
Namja itu berlari kecil menuju belakang mobilnya. Ternyata benar. Ia menabrak seorang yeoja.
“Ji Eun!!” teriak ketiga sahabatnya seraya menghampiri Ji Eun yang jatuh terduduk.
“Gwenchana yo?” tanya Hyorin sambil memeriksa tubuh Ji Eun kalau-kalau ada yang lecet atau terluka. Ternyata tangan kirin Ji Eun lecet.
“Ya! Kau ini, kalau menyetir ha…ti-hati…” suara Dara menciut setelah melihat namja yang berdiri di depannya. Wajahnya yang semula memerah karena marah, tiba-tiba berubah menjadi warna pink merona. Ia yang semula ingin berteriak pada orang yang telah menabrak sahabatnya, berubah menjadi senyum mengembang di wajahnya setelah melihat wajah tampan namja itu.
“Dara-ah… apa yang kau lakukan? Kenapa tak jadi memarahi namja itu?” bisik Hyorin di telingan kanan Dara.
“Ah, sudahlah. Dara lemah terhadap namja tampan. Biar aku yang melakukannya,” timpal Song seraya berdiri di samping kiri Dara. “Ya! Jangan mentang-mentang kau punya mobil bagus, lalu seenaknya menabrak Ji Eun, sahabat kami!”
“Jwe, jwesonghamnida. Jeongmal, aku tadi tidak melihat siapapun di belakang mobilku. Aku sudah memperhatikan kaca spionku. Tapi tiba-tiba yeoja itu muncul dan aku sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi. Sekali lagi, jwesonghamnida!” sesal Taemin sambil membungkuk. Dalam dua hari ini, dia sukses membuat nyawa orang lain hampir melayang. “Apa dia baik-baik saja? Apa perlu dibawa ke rumah sakit? Aku sepenuhnya akan bertanggungjawab atas biaya rumah sakit.”
“Aku, aku sepertinya mengenal suara ini. Tapi siapa?” batin Ji Eun. Secepatnya, ia mengangkat wajahnya dan melihat siapa namja yang telah berani menabraknya.
“Eh? Kau namja yang kemarin!” menunjuk Taemin.
“Heh? Kau yeoja yang kemarin!” menunjuk Ji Eun.
Ucap mereka setelah saling berpandangan satu sama lain.
Ji Eun lalu berdiri. “Ya! Kau sudah dua kali hampir membunuhku dengan cara yang sama,” cercah Ji Eun yang sudah melupakan tangan kirinya yang lecet karena tertindih tubuhnya sewaktu jatuh.
“Sudahlah, Ji Eun. Dia kan sudah meminta maaf. Apa kau tak melihat raut wajahnya yang penuh penyesalan? Maafkan saja!!” nasihat Hyorin.
“Ya sudah. Kajja. Kalau tidak cepat, kita bisa ketinggalan bus. Aku tak mau berjalan kaki, karena siapa tahu akan ditabrak oleh namja ini lagi. Untung Tuhan masih menyayangiku. Kalau tertabrak untuk yang ketiga kalinya, aku pasti sudah mati. Hah, hah!” ucap Ji Eun sambil terengah-engah dengan air muka yang memerah. Sementara Taemin bingung harus berbuat apa, karena dikeroyok oleh keempat yeoja ini.
Keempat sahabat itu pun berlalu. Dara harus ditarik-tarik oleh Song karena pandangan matanya tak mau lepas dari namja itu.
“Chamkamman! Biar kuantar. Kalian mungkin akan ketinggalan bus,” tahan Taemin.
“Benarkah kau akan mengantar kami?” tanya Dara centil.
“Mwo? Shiro!” kata Ji eun sambil melemparkan pandangan marahnya pada Taemin.
“Aigoo! Ji Eun-ah, kita akan ketinggalan bus. Lagi pula pagi ini adalah kelas Jonghyun Songsaengnim lagi. Jika kita terlambat, otte?” rajuk Dara.
“Biar saja kita terlamabat. Biar kalian juga merasakan apa yang aku rasakan kemarin. Kajja! Kalau kita terus di sini, kita benar-benar akan ketinggalan bus,” kata Ji Eun sambil menarik tangan Hyorin di tangan kanannya dan Song di tangan kirinya.
“Ya! Tunggu aku!” teriak Dara sambil mengejar ketiga sahabatnya. “Daah, tampan! Sampai jumpa di lain waktu! Mmuaahhh!!” taeriak Darah pada Taemin dan melemparkan ciuman genitnya. Taemin menjadi geli dibuatnya. Taemin hanya memandang kepergian keempat yeoja itu. “Jadi, namanya Ji Eun...” Tiba-tiba, ia berlari kecil dan masuk ke mobilnya lalu menancap gas mengambil jalan memutar.
*****
“Hah, jam berapa ini? Kita benar-benar akan terlambat!” gerutu Dara. “Seharusnya kita menerima saja tawaran namja tadi.”
“Kalau begitu, kau kembali saja sana dan menumpang di mobilnya! Biar kami menunggu bus di sini.” kata Ji Eun kesal.
“Ya, sudahlah! Kalian tidak perlu bertengkar hanya gara-gara seorang namja,” nasihat Hyorin. Hyorin memang paling bijak di antara sahabat-sahabatnya.
Ji Eun dan Dara hanya memajukan bibir mereka tanda kesal dengan nasihat Hyorin.
TIN, TIINN…
Seorang namja turun dari mobilnya.
“Apa bus kalian sudah datang?” tanyanya sambil tersenyum. “Kalau belum, tawaranku yang tadi masih berlaku. Itu pun jika teman kalian, Ji Eun-ssi, tidak keberatan.”
~To be continued~
Word’s List:
1. Ya : hei! (bukan kata sapaan)
2. Gure : baiklah
3. Kajja : ayo!
4. Pabo : bodoh
5. Aniyo, andwe : tidak
6. Jinjja : sungguh, benar-benar
7. Omo : astaga
8. Jwesonghamnida : maaf (formal)
9. Gwenchana : aku baik-baik saja
10. Jamkanman : tunggu sebentar
11. Mwo? : apa?
12. Kamsahamnida : terima kasih (formal)
13. Chonun …-imnida : perkenalan diri (formal)
14. Shiro : tidak mau, tidak usah
Next TEASER:
“Apa maksud omma aku akan dijodohkan?”
“Ya Tuhan, mana mungkin dia yang akan bertunangan denganku? Dia, dia, dia kan…”
Author’s NOTE:
Hai, hai! FF ini adalah FF pertamaku. Lantaran terlalu sering baca FF, jadi terbesit niat untuk membuat FF sendiri. Akhirnya, niat itu terlaksana juga ^^
Awalnya, FF ini mau saya publish di salah satu blog khusus FF tempat saya sering baca FF. Tapi persyaratannya kok rumit ya? Salah satunya, harus punya akun twitter. Saya sih pernah punya, tapi ID dan passwordnya lupa. Malah saya nggak tau cara menggunakannya. Ckckck… (lho, kok jadi curhat ya??)
FF ini, lebih didominasi dialog antartokoh. Saya sengaja membuatnya demikian, agar tampak unik saja. Tidak ada alasan lain. Karena mungkin selama ini, semua FF yang telah saya baca lebih didominasi ke pendeskripsian. Saya ingin bisa mendeskripsikan segala sesuatunya lebih lewat dialog antartokoh. Tapi ini tergantung penilaian pembaca. Semoga dapat feelnya, yah! Kalau nggak suka maupun yang suka, comment saja di bawah. Insya Allah saya menerima dengan lapang dada.
Saya maklumi, kalau mungkin nanti pembaca FF ini agak kurang, karena ini baru pertama kalinya. Lagi pula saya bikin blog nggak pernah ada niat mau publish FF. Banyak atau sedikit comment yang masuk, saya akan tetap melanjutkan FF ini hingga tamat. Soalnya benar-benar ingin membuat FF sendiri. Oh ya, jadi lupa, I’m a shawol, but not a fanatic one.
Karena saya baru di dunia per-fanfic-an, so please drop your comment! Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakam. Hehe… ^lol^
:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::
Categories
Fanfiction siBluuu
HELLO TO MY JI EUN [PROLOG]
Author : Nur Fadhilah
Genre : Romance, friendship, comedy (a little bit)
Rating : PG-13
Length : Multi-chapter
Casts : Lee Ji Eun (IU), Lee Taemin (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Song Jieun (Secret) Hyorin (Sistar), Sandara Park (2NE1)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fanfiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)
Incheon International Airport, Seoul, South Korea
“Hah, tiba juga…”
Triit, triit…
“Yoboseo, ommoni?”
“Kau sudah tiba?”
“Ne, ommoni…”
“Mianhae, ommoni tidak bisa menjemputmu. Sebagai gantinya, ommoni sudah mengirim supir untuk menjemputmu. Apa kau sudah bertemu dengannya?”
Namja itu lalu meninggikan lehernya di antara penumpang-penumpang lainnya. Terlihat ada sebuah kertas yang bertuliskan nama dirinya.
“Ne, ommoni. Aku sudah melihatnya.”
“Baguslah. Cepat pulang! Ommoni dan aboji sudah tak sabar ingin bertemu denganmu…”
“Ne…”
Tiit. Telepon ditutup. Namja itu lalu berjalan menuju lelaki yang bekerja sebagai supir di keluarga Lee.
“Annyeong haseyo, Songsaengnim!” serunya sambil membungkukkan badan.
“Oo, tuan muda sudah tiba. Aigoo, tuan muda terlihat semakin tampan.”
“Hahaha, Songsaengnim terlalu memuji.”
“Hahaha, ya sudahlah. Tuan dan Nyonya Lee sudah menunggu kehadiran tuan muda.”
~To be continued~
Word’s List:
1. Yoboseyo : Halo (telepon)
2. Ommoni : ibu
3. Aboji : ayah
4. Ne : iya
5. Mian/Mianhae : maaf (informal)
6. Namja : pemuda (laki-laki)
7. Yeoja : pemuda (perempuan)
8. Annyeong haseyo : halo (sapaan formal)
9. Annyeong : halo (sapaan informal)
10. Songsaengnim : pak
11. Aigoo : astaga
Author’s NOTE:
Saya tidak mau banyak berkata-kata dulu. Jika Anda suka dengan prolognya, merasa tertarik, atau penasaran, silakan lanjut ke Part 1. Kita akan bertemu lagi di sana. Annyeong!!
:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::
Categories
Fanfiction siBluuu
Langganan:
Postingan (Atom)





