Selasa, 08 November 2011

KTP Chukkahamnida ^^

Posted by Nur Fadhilah at 6:20:00 PM 0 comments
Selasa, 8 November 2011. Hari ini adalah hari aku membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). Ya, walaupun sebenarnya hari ini umurku belum ‘ganjil’ 17 tahun, tapi tak apalah.
Awalnya sih aku tidak mau, padahal sudah dibujuk 1000 macam rayuan oleh ayahku tercinta (cie ile…), tapi hatiku tak goyah. Aku ingin membuat KTP tepat di usia 17 tahun (sebulan lagi, sebulan lagi!!). Ternyata, keluarga besarku akan mengurus KTP hari ini. Jadi, kalau tidak mau ngurus sendiri ya harus ikut, deh.
Ayahku berkata, kalau ada pelajaran yang kosong, aku disuruh pulang ke rumah. Nah, kebetulan sekali, ada pelajaran kosong di jam terakhir. Yee, kan enak bisa sekalian pulang ke rumah terus nggak balik-balik lagi ke sekolah. Hehe..
Jadilah aku pulang pukul 12.00 Wita. Sampai di pos satpam, aku menunjukkan surat izin yang kuambil di BK. Terus pak satpam bertanya, “Kamu mau pulang naik ojek?” Kujawab, “Sepertinya begitu, pak.” “Nih ada ojek, naik saja!” Wah, Alhamdulillah ya, sesuatu banget. Langsung deh aku naik ojek itu.
Tiba di rumah. Ternyata, ayahku terlambat ngambil nomor di Kantor Camat Kadia. Dapat nomor sih, tapi nomor 96. Wow. Nomor 96 kira-kira sore baru mendapat giliran. Eh, tadinya izin pulang ke rumah buat ngurus KTP, jadinya buat tidur. Hahaha…
Pukul 16.00 Wita, kami sekeluarga (ayah, ibu, kakak I, dan keponakanku Aiz) pergi ke P2ID. Ayahku naik motor, sedangkan sisanya naik taksi (SISA???!!). Ketika taksi masuk ke gerbang P2ID, jadi terbayang masa lalu. Terakhir kali aku ke sini sekitar usia TK. Dahulu kala, P2ID digunakan sebagai tempat promosi dan pameran budaya. Tempatnya juga unik. Pernah ke Keraton Buton tidak?? Hehe, aku juga belum pernah. Tapi pernah penelitian di sana (aduh gimana ceritanya tuh???). Tapi lagi, bukan aku yang pergi, tapi (lagi-lagi) temanku. Aku hanya melihat keadaan di sana lewat video yang direkam oleh temanku. Tapi sayang, ternyata tanah di P2ID bermasalah. Makanya hingga sekarang, P2ID sudah tidak difungsikan lagi. Keberadaannya juga yang jauh dari keramaian membuat tempat ini seperti tidak pernah ada.
SUDAH!! Kembali ke ceritaku tadi. Suasana di P2ID mirip dengan suasana di Keraton Buton. Gerbang P2ID dibangun ala benteng pertahanan, seperti Keraton Buton. Di dalam P2ID juga terdapat beberapa rumah masyarakat. Banyak rumah-rumah adat (asli) yang ada di sini. Ada juga lho tiruan tiang bendera Keraton Buton. Hanya kalau di keraton kan tiang benderanya setinggi 20 meter. Kalau tiruannya kukira tidak mencapai 10 meter. Terdapat lapangan bola juga, yang ramai dikunjungi baik dari kalangan anak-anak dan remaja laki-laki.
Nah, di samping lapangan bola itulah letaknya Kantor Camat Kadia. Di sebelahnya masih terdapat satu kantor lagi, yaitu Kantor Pariwisata. Di atas pintu masuk Kantor Camat Kadia, terdapat spanduk bertuliskan KTP elektronik bla bla bla (maaf aku tidak hapal ^^).
Ternyata giliran kami belum tiba. Masih ada beberapa nomor lagi. Ketika tiba giliran kami, datang tetangga belakang rumah bersama keluarganya. Sayang, gilirannya sudah lewat. Masuklah kami ke suatu ruangan. Ruangannya lumayan luas, tapi penataan perabot yang kurang tepat sehingga terlihat sangat sempit. Terdapat 4 kursi tunggu dan 4 petugas. Dua perempuan dan dua laki-laki. Kedua perempuan itu bertugas sebagai petugas yang melayani masyarakat apabila ada masalah, sedangkan kedua laki-laki itu sebagai tukang foto.
Pertama, foto giliran ayahku, lalu ibuku, terakhir aku. Proses pembuatan KTP elektronik ini sangat berbeda dengan pembuatan KTP biasa (ya iyalah..). Selain foto wajah, petugas juga meminta sidik jari dan memfoto bagian mata. Pengalaman ini membuatku deg-degan. Soalnya ini kan pengalaman pertama dan terakhir. Sewaktu di rumah, aku sengaja memilih pakaian yang bagus. Karena kalau di foto, foto itu yang akan ku pakai seumur hidup. Jadi harus cantik dong fotonya. Hehe..
Lalu tiba-tiba, seorang petugas laki-laki masuk bersama seorang perempuan. Ternyata perempuan itu adalah tetangga dekat rumah yang baru datang tadi. Ternyata dia protes karena ada seorang perempuan yang baru datang tapi kok tidak ngantri, langsung masuk ke ruangan pengambilan foto. Oh ya, sewaktu kami masuk ke ruangan ini, kami diikuti oleh seorang perempuan juga. Sebenarnya aku sempat mendengar percakapan antara perempuan itu dan salah satu petugas perempuan di ruangan tersebut. Sepertinya mereka adalah kerabat. Tidak adilnya, si petugas ini memperbolehkan kerabatnya itu masuk duluan tanpa nomor antrian. Jadi, wajar dong kalau ada yang protes.
Ya, sekianlah pengalamanku membuat KTP. Sebenarnya tadi tidak ada minat buat nulis di blog, makanya aku tidak menyertakan foto P2ID, karena memang aku tidak mengambil foto sewaktu di sana. Tapi kupikir, ini adalah pengalaman yang perlu ditulis. Jadi kutulis saja. Semoga Anda suka..

Minggu, 06 November 2011

SEPI, GO….!!!!!!

Posted by Nur Fadhilah at 8:48:00 PM 0 comments
Minggu, 6 November 2011. Happy Idul Adha Day 1432 H, Guys! Alhamdulillah, Allah masih memberi kita umur sehingga bisa melaksanakan lebaran haji hari ini.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillah Ilhamd.” Sayup-sayup sudah mulai berkumandang sejak tadi malam. Menandakan bahwa Hari Raya Idul Adha telah tiba.
Sekitar pukul 06.00 Wita, aku, mama, kakak, keponakan (Aiz), dan suami kakakku (kecuali ayahku. Beliau lebih memilih untuk shalat di Masjid Ummushabri yang jaraknya lebih dekat dari rumah) menuju Masjid Agung Al-Kautsar untuk menunaikan Shalat Id. Masjid Agung Al-Kautsar adalah masjid paling besar dan mewah di Kendari. Tapi sayang, sepagi ini ternyata sudah terlalu terlambat untuk mengambil tempat paling depan. Orang-orang seperti tertumpah ruah di masjid yang super luas ini. Karena padatnya manusia dan kendaraan, suami kakakku berinisiatif untuk memarkir mobil di depan Bank Mandiri Syariah. Lalu kami berjalan menuju masjid.
Alhamdulillah, masih ada tempat kosong. Kami pun mengambil tempat di halaman masjid dekat tangga masuk, sedangkan suami kakakku mengambil tempat di halaman bagian depan masjid (maaf ya fotonya nggak ada, malas bawa kamera sih).
Tepat pukul 06.30 Wita, ritual Shalat Id dimulai. Dimulai dari pembacaan tata cara shalat, shalat, hingga khotbah Idul Adha. Jujur, aku sih melaluinya dengan tidak terlalu khusyuk. Penyebabnya bermacam-macam. Ketika shalat, banyak suara anak kecil yang menangis (ada yang menyuruh mamanya untuk berhenti shalat, ada yang ingin beli balon, ada yang ingin beli es krim, ada yang haus, dan ada yang takut nggak tahu kenapa. Alhamdulillah, Aiz tumbenan tenang banget, nggak rewel) dan suara handphone berdering.
Pulang pun ribet banget. Akses untuk keluar masjid sangat susah. Karena harus berdesak-desakan dengan manusia-manusia lain. Ada yang ingin minta sumbangan atas nama masjid, panti asuhan, dan pribadi. Belum lagi penjual-penjual yang berlomba-lomba menawarkan barang-barangnya demi menggaet hati anak kecil (Dhil, bukan penjual namanya kalau nggak begitu [==”]).
Akhirnya, setelah melalui berjuta-juta rintangan (lebay), akhirnya sampai juga di tempat parkir. Ternyata eh ternyata, mobil nggak bisa keluar. Karena banyak banget mobil lain yang ngantri dibelakangnya. Waduh, mau nunggu sampai jam berapa nih??
30 menit kemudian…
Akhirnya, kami bisa pulang juga. Ketika sampai di perempatan MTQ, suami kakakku mengambil haluan kanan, karena kondisi jalan di depan Ummushabri terlihat masih macet. Tiba di depan perempatan Masjid Nurul Huda, ternyata jalan di depan masjid itu juga macet. Kakakku pun berkata, “Lebih baik kita lewat di depan Ummushabri saja, biar pun agak macet, jalan di daerah itu lebih lebar.” Akhirnya kami belok kembali. Tiba di Ummushabri, ternyata mobil sama sekali tidak bisa bergerak. Macet total. Sepertinya kondisi jalan di sini lebih parah dibanding jalan di depan Masjid Nurul Huda tadi. Hah, akhirnya kami mengambil jalan memutar lewat MTQ, pasar bunga, dan belok di jalan samping Kantor Departemen Agama. Seharusnya, waktu tempuh dari Masjid Al-Kautsar ke rumahku hanya sekitar 10 menit. Gara-gara insiden ini, waktunya menjadi dua kali lipat.
Setibanya di rumah, ternyata ayahku belum datang. Kunci rumah kan ada sama beliau!! Ya, nunggu lagi deh. Padahal, cacing-cacing di perutku sudah berdemo meminta hak makan mereka. Ternyata, aku masih harus menunggu lagi sampai makanan benar-benar siap.
Alhamdulillah, akhirnya makan juga. Dengan lahap, aku pun menyantap makanan yang dimasak oleh mamaku. Ada buras, ketupat, kari ayam, ayam masak kelapa, dan ayam lilit laksa (makanan favoritku). Sebagai makanan penutup, tersedia pie dan salad buah. Mmm, yummy (slurp)…
Setelah agak kenyang, aku pun kembali bersiap-siap untuk ke sekolah. Eit, bukan untuk belajar, tapi aku diamanahkan untuk menjadi panitia qurban seksi dokumentasi. Alhamdulillah, ayahku yang baik hati bersedia mengantarku ke sekolah.
Tiba di sekolah, sudah lumayan banyak orang berkumpul. Terlihat ada dua sapi yang menunggu ajalnya tiba (hehe..). Heh, sapinya berwarna coklat, kebetulan banget aku juga pakai pakaian serba coklat mulai dari kerudung hingga sepatu. Hah, memang jodoh ya nggak ke mana (Haha, just kidding ><)!! Setelah absen, aku dan teman-teman pun menuju lokasi pemotongan sapi. Aku senang banget. Soalnya ini kali pertama aku mendengar suara "mooooo..." sapi secara langsung. Hehe, maklum, orang kota nggak pernah bergaul sama sapi (jangan tersinggung ya :)) Setelah itu, aku memulai aktivitasku menjadi fotografer gadungan. Berbekal kamera merek Nikon baruku (huuu, pamer. Astaghfirullah!!), aku mulai jepret sana, jempret sini, jempret itu, jempret ini. Hehe…. Foto sapi di awal cerita juga merupakan salah satu hasil jepretanku. Oh, aku dan teman-teman juga sempat berfoto sama sapi. Sudah bergaya bagus banget nih. Senyum lebar-lebar, lesung pipi harus kelihatan, ekspresi oke, pokoknya posisi sudah bagus banget nih, termasuk posisi sapinya. Tapi, ketika di foto, mungkin sapinya kaget lihat blitz kali, sapinya langsung melompat. Kami sangat kaget. Tapi hasilnya boelh juga kan?? Salut buat sang fotografer :)


Pemotongan sapi pun dimulai. Para guru dan siswa terlihat bekerjasama. Adapun yang bertindak sebagai penggali lubang tutup lubang adalah Pak Petaho (tata usaha SMAN 4 Kendari), sebagai algojonya adalah Drs. Haddad Yahya (guru agama SMAN 4 Kendari), sebagai seksi dokumentasi versi guru adalah Drs. Sahama (guru bahasa Inggris SMAN 4 Kendari), sebagai seksi potong-potong daging adalah pak satpam, sebagai seksi timbang-menimbang adalah Pak Mangalisu (guru kimia SMAN 4 Kendari),sebagai pengasah pisau dan parang adalah Soekarno, sebagai pengangkat daging adalah Mukarram Rifai, dll. Hehe, peace…
Uhh, bosan juga foto-foto sapi melulu. Aku dan Lia (temanku) pun mengasingkan diri ke gazebo kelas XI Olimpiade. Di sana kami foto-foto menarsiskan diri. Sayang, foto-fotonya sudah terkena sensor nih, jadi tidak dapat ditampilkan. Hihi ^^
Sekitar pukul 11.00 Wita, aku dan Lia pamit pulang. Awalnya kami dicegah Munir (anggota OSIS). Katanya, tunggu sebentar lagi karena ada pembagian daging. Tapi kami menolak untuk untuk diberi. Aku mempertimbangkan bahwa keluargaku kurang suka makan daging. Lia menolak karena di rumahnya juga ada sapi yang katanya sebentar siang akan dipotong. Akhirnya kami pun pulang dengan tangan kosong.
Kami pun berjalan menuju gerbang kedua. Astaghfirullah, aku lupa bawa uang untuk pulang. Soalnya waktu datang ke sekolah, ayahku yang mengantarku, jadi lupa bawa deh. Alhamdulillah, Lia dengan senang hati meminjamkanku uangnya. Thank you, Lia..
Tiba di rumah, aku disambut keluargaku dengan pertanyaan, “Mana dagingnya??” Aku pun dengan santai menjawab, “Tidak ku ambil. Soalnya ku pikir tidak ada yng suka makan daging, palingan mama. Eh, bukannya ada pembagian dari masjid belakang rumah?” Ternyata ayahku juga menolak pemberian daging itu dengan alasan yang sama denganku.
Hahaha… sontak seluruh keluargaku tertawa. Mamaku bilang, ya sudah, nanti besok kita beli daging di pasar saja. Yaa, ada yang gratis malah beli.
Tapi belum berhenti sampai di situ. Sekitar pukul 13.00 Wita, pintu rumahku diketuk. Aku pun membukanya. Ternyata yang datang adalah remaja masjid dekat rumah. Dia mengantarkan jatah daging keluargaku. Ku kira hanya satu kantung. Eh, ternyata aku diberi lima kantung. Kaget aku. “Lho, kok banyak sekali?” “Sudah begini jatahnya. Memang banyak.”
Hahaha… Alhamdulillah. Allah selalu mendatangkan rezeki dari arah yang tidak terduga-duga. Dua kilo daging ditolak, yang datang malah lima kilo. Hah, sekarang mamaku jadi bingung. Daging segini banyaknya mau diapakan?? Bisa-bisa sampai bulan depan makan daging terus nih. Haha.. Sepi, go…!!

Sabtu, 29 Oktober 2011

24 JAM

Posted by Nur Fadhilah at 8:44:00 PM 0 comments
Oleh: Nur Fadhilah

Aku baru tahu berartinya 24 jam
Padahal kalian seenaknya memeras 24 jamku yang aku sendiri tak tahu untuk apa
Kenapa tidak ambil hariku saja?
Agar aku tak usah hidup sekalian
Kini aku sadar..

Aku tak menggunakan 24 jamku hanya untuk manusia-manusia tak berguna seperti kalian
Aku juga punya 24 jam sendiri yang bisa ku gunakan untuk hal yang lebih berguna
Aku bukan ibu yang mengurus anaknya selama 24 jam
Aku juga bukan ayah yang mencari nafkah selama 24 jam
Aku hanya mau 24 jamku sendiri
Tak ada yang boleh mengganggu 24 jamku

Andai aku bisa menambah sejam lagi
Pasti sejam itu hanya ku gunakan hanya untukku
Untukku lagi
Karena 24 jam yang Tuhan berikan tidak cukup untuk mengganti 24 jam-24 jam sebelumnya yang aku sia-siakan untuk manusia-manusia tidak berguna seperti kalian

Aku hanya ingin 24 jamku sendiri
Jangan ganggu 24 jamku
24 jamku sendiri

Telah dimuat di Harian Kendari Pos edisi 7 Desember 2011

Jumat, 28 Oktober 2011

Puisi Orang Kecil

Posted by Nur Fadhilah at 8:46:00 PM 0 comments
Oleh: Nur Fadhilah

Ini hanya puisi orang kecil
Jadi tak perlu didengar
Aku hanya orang kecil
Jadi tak usah dipedulikan

Bukankah begitu dunia ini?
Orang kecil bagaikan bemo dan bajaj
Tak boleh parkir sembarangan
Dunia tak adil pada orang kecil
Orang besar bagaikan limosin
Boleh klakson sembarangan

Katanya roda selalu berputar
Tapi kapan orang kecil duduk di atas?
Sebab orang besar yang duduk di atas tidak mau turun lagi

Enak betul jadi orang besar
Segala sesuatu terhidang di meja
Sementara kami?
Mengetuk kaca mobil pun belum tentu dibuka
Memang enak jadi orang besar
Kalau jalan, semua membungkuk
Barangkali takut gajinya dipotong
Kasihan orang kecil
Kalau jalan, semua bersembunyi
Takut pintu rumahnya diketuk
Menunggu diberikan sepeser keikhlasan

Ini hanya puisi orang kecil
Kenapa didengar?
Aku hanya orang kecil
Kenapa dipedulikan?

Telah dimuat di Harian Kendari Pos edisi 7 Desember 2011

Selasa, 27 September 2011

Lomba Foto PLN 2011

Posted by Nur Fadhilah at 8:20:00 PM 0 comments

Dalam rangka menyambut Hari Listrik Nasional (HLN) pada tanggal 27 Oktober 2011 mendatang, PLN mengadakan lomba foto PLN 2011 tingkat nasional dengan tema 'Listrik Menggerakkan Kehidupan Bangsa'yang berhadiah total puluhan juta rupiah. Yuk, buruan ikut! Berikut ketentuan lombanya..
1. Lomba terbuka untuk umum seluruh warga Negara Indonesia dan tidak dipungut biaya.
2. Foto adalah hasil karya sendiri yang memotret dunia kelistrikan di Indonesia. Obyek foto tidak terbatas : mulai dari pembangkit listrik, jaringan transmisi, pelayanan pelanggan/konsumen (pelayanan gangguan, pekerjaan pemeliharaan jaringan, pelayanan di loket/kantor PLN) hingga penggunaan/pemanfaatan listrik dalam kehidupan masyarakat mulai dari pemanfaatan untuk kegiatan ekonomi, industri kecil, penerangan, pendidikan, budaya, sosial dan pemanfaatan listrik lainnya.
3. Foto dibuat dalam jangka waktu 3 tahun terakhir.
4. Materi yang diikutsertakan dalam lomba adalah foto berwarna, tidak diperkenankan menggunakan teknik infra-merah atau metoda pengubahan warna lainnya.
5. Olah digital diperkenankan, sebatas pada perbaikan kualitas foto (sharpening, cropping, color balance) tanpa mengubah keaslian objek foto.
6. Peserta adalah satu-satunya pemilik sah atas hak kekayaan intelektual dari foto yang dikirimkan yang dinyatakan dengan surat pernyataan.
7. Model dan property release sepenuhnya menjadi tanggungjawab peserta.
8. PT PLN (Persero) dan pelaksana lomba tidak bertanggungjawab atas pihak lain sehubungan dengan materi foto yang dikirimkan.
9. Foto pemenang lomba dapat dipergunakan PT PLN (Persero) untuk seluruh kegiatan publikasi dan advertorial untuk jangka waktu 5 tahun.
10. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan/mengikutsertakan maksimal 5 (lima) buah materi foto.
11. 40 karya foto terpilih akan dipamerkan dalam Pameran Foto Kelistrikan 2011 dalam rangka Hari Listrik Nasional (HLN).
12. Dewan juri dan keluarga besar PLN tidak diperkenankan mengikuti lomba.
13. Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat serta tidak melayani korespondensi.
14. Materi foto yang dikirimkan harus berupa file elektronik dengan format JPG High Resolution dalam bentuk CD dengan menyertakan: judul foto, nama lengkap, alamat lengkap, nomor telepon/HP yang mudah dihubungi dan alamat email dalam amplop tertutup dengan mencantumkan tulisan LOMBA FOTO PLN 2011 di pojok kiri atas amplop. Dikirimkan ke alamat:
PANITIA LOMBA FOTO PLN 2011
BIDANG KOMUNIKASI KORPORAT PT PLN (PERSERO)
Kantor PLN Pusat
Gedung Utama Lantai 3
Jl. Trunojoyo Blok M / 135
Jakarta Selatan

Paling Lambat tanggal 16 Oktober 2011 (Cap Pos).

HADIAH
1 (Satu) Hadiah Pertama : Rp15.000.000 + Trophy.
1 (Satu) Hadiah Kedua : Rp10.000.000 + Trophy.
1 (Satu) Hadiah Ketiga : Rp7.000.000 + Trophy.
3 (Tiga) Hadiah Harapan : @ Rp3.000.000 + Trophy.

DEWAN JURI
1. Arbain Rambey (Fotografer senior Kompas)
2. Willy Pitrawirya (Penggiat fotografi di Federasi Perkumpulan Seni Fotografi Indonesia/FPSI).
3. Corporate Communication PT PLN (Persero)

PENGUMUMAN PEMENANG
Pengumuman pemenang Lomba Foto PLN 2011 Tingkat Nasional dapat dilihat di Website PLN www.pln.co.id dan diberitahukan secara tertulis pada tanggal 24 Oktober 2011

Organized by: Java Kirana Indonesia
CP: Dkw (02133153890), Mitha (081511268486)

Sabtu, 24 September 2011

Kontes Inovator Muda 6

Posted by Nur Fadhilah at 8:40:00 PM 0 comments

Kontes Inovator Muda (KIM) 6 adalah lomba karya tulis ilmiah berbentuk inovasi tingkat nasional. KIM diusung sebagai salah satu upaya COREMAP untuk mensosialisasikan pentingnya terumbu karang sekaligus mengajak generasi muda untuk ikut melestarikan terumbu karang yang sudah semakin sedikit keberadaannya.
Sekedar membagi info saja, ikut KIM tidak ada ruginya. Apalagi kalau sudah lulus ke tingkat nasional mewakili daerah masing-masing. Mengingat pengalaman sewaktu di KIM 5 dulu, rasanya ingin ikut KIM 6 lagi. Sayang, peraturan di sekolahku menyebutkan bahwa siswa kelas XII harus fokus belajar dan mengurangi kegiatan ekstrakurikuler menyongsong UAN 2012. Hiks, jadi ingat, blog ini kan sebagai salah satu ilmu yang kudapatkan sewaktu pelatihan KIM 5.
Jadi, teman-teman yang sudah membaca blogku, ayo ikutan KIM 6, Dijamin tidak akan menyesal mengingat pengalaman, pengetahuan, dan teman-teman baru yang akan kalian dapatkan nanti..!!!

Tema: MODEL PELESTARIAN TERUMBU KARANG DARI KACAMATA GENERASI MUDA

Persyaratan Kontestan:
1. Kontestan merupakan siswa SMA/ sederajat se- Indonesia
2. Tim terdiri dari 3 orang
3. Kreatif dan mandiri
4. Mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia
5. Lampiran persetujuan dari sekolah, biodata kontestan dan nomor telepon yang bisa di hubungi
6. Makalah belum pernah dipublikasikan di media manapun
7. Lolos pra-seleksi di tingkat daerah (khusus site COREMAP) pusat

Pra Seleksi:
1. Kontestan dari wilayah kerja COREMAP akan mengikuti seleksi tingkat daerah
2. Kontestan di luar wilayah kerja COREMAP dapat langsung mengirimkan makalah ke panitia pusat
3. Penerimaan makalah terakhir 15 Oktober 2011
4. Seleksi nasional 16 - 30 Oktober 2011
5. Pengumunan finalis (3 terbaik) 31 Oktober 2011

Format Makalah:
1. Tebal makalah 10 - 15 halaman
2. Huruf arial ukuran 12
3. Spasi 1,5 pt
4. Cover terdiri dari : Judul, Nama Tim, Nomor Induk Siswa, Asal Sekolah
5. Isi : Abstrak, Kata Pengantar, Pendahuluan, Metode Penelitian, Hasil, dan Referensi

Alamat Pengiriman dan Informasi:
PANITIA PUSAT KIM 6 - TAHUN 2011
Gedung LIPI - Jl. Raden Saleh No. 43 Jakarta Pusat
Telp : (021) 314 3080 ext. 1403 dan 1405
e-mail : edukasi@coremap.or.id atau edukasicoremap@yahoo.co.id

Lari Estafet

Posted by Nur Fadhilah at 6:36:00 PM 0 comments
1. Pengertian Lari Estafet
Lari sambung atau lari estafet adalah salah satu lomba lari pada perlombaan atletik yang dilaksanakan secara bergantian atau beranting. Lari ini dilakukan bersambung dan bergantian membawa tongkat dari garis start sampai ke garis finish. Dalam satu regu lari sambung terdapat empat orang pelari. Pada nomor lari sambung ada kekhususan yang tidak akan dijumpai pada nomor pelari lain, yaitu memindahkan tongkat sambil berlari cepat dari pelari sebelumnya ke pelari berikutnya.
Start yang digunakan dalam lari bersambung adalah untuk pelari pertama menggunakan start jongkok. Sedangkan untuk pelari kedua, ketiga, dan pelari yang keempat menggunakan start melayang. Jarak lari bersambung yang sering diperlombakan dalam atletik baik untuk putra maupun putri adalah 4 x 100 meter atau 4 x 400 meter. Dalam melakukan lari sambung bukan teknik saja yang diperlukan tetapi pemberian dan penerimaan tongkat di zona atau daerah pergantian serta penyesuaian jarak dan kecepatan dari setiap pelari.

2. Sejarah Lari Estafet
Lari sambung dimulai dari bangsa Aztek, Inka, dan Maya bertujuan untuk meneruskan berita yang telah diketahui sejak lama. Di Yunani, estafet obor diselenggarakan dalam hubungannya dengan pemujaan leluhur dan untuk meneruskan api keramat ke jajahan-jajahan baru. Tradisi api olimpiade berasal dari tradisi Yunani tersebut.
Lari estafet 4 x 100 meter dan 4 x 400 meter bagi pria dalam bentuk sekarang ini, pertama-tama diselenggarakan pada olimpiade tahun 1992 di Stockholm. Estafet 4 x 100 meter bagi wanita sejak tahun 1928 menjadi nomor olimpiade dan 4 x 400 meter dilombakan sejak tahun 1972.

3. Peraturan Lari Estafet
Masing-masing pelari mempunyai peran penting dalam olahraga lari estafet. Oleh karena itu, kekompakan dan irama lari juga harus selalu dijaga. Dalam jarak tempuh 4 x 100 meter, pelari tidak diperbolehkan untuk menjatuhkan tongkat estafet. Jadi harus benar-benar dilatih cara mengoper tongkat. Karena bila terjatuh, peserta lari akan langsung didiskualifikasi. Berbeda halnya dengan olahraga lari estafet dengan jarak tempuh 4 x 400 meter. Karena jarak tempuh yang lebih jauh, maka peraturannya pun lebih ringan. Peserta lari boleh menjatuhkan dan mengambil kembali tongkat estafet yang terjatuh. Tetapi resikonya adalah kalah. Karena ketika peserta lari mengambil tongkat, maka dipastikan peserta tersebut akan jauh tertinggal dari peserta-peserta lain.

4. Tongkat Estafet
Tongkat estafet adalah benda yang diberikan secara bergilir dari satu peserta ke peserta lari lainnya dalam satu regu. Karena itu, tongkat ini pun tidak sembarang tongkat. Ukurannya dibuat sesuai dan pas dengan panjang genggaman pelari pada umumnya.
Ukuran tongkat yang digunakan pada lari estafet adalah:
• Panjang tongkat : 29 – 30 cm
• Diameter tongkat : 3,81 cm (dewasa) dan 2,54 cm (anak-anak)
• Berat tongkat : 50 gr
Cara memegang tongkat estafet harus dilakukan dengan benar. Memegang tongkat dapat dilakukan dengan dipegang oleh tangan kiri atau kanan. Setengah bagian dari tongkat dipegang oleh pemberi tongkat. Dan ujungnya lagi akan dipegang oleh penerima tongkat estafet berikutnya. Dan bagi pelari pertama, tongkat estafet harus dipegang dibelakang garis start dan tidak menyentuh garis start.

5. Teknik Pergantian Tongkat Estafet
Perlombaan lari estafet mengenal dua cara pergantian tongkat, yaitu:
a. Teknik penerimaan tongkat dengan cara melihat (visual)
Pelari yang menerima tongkat melakukannya dengan berlari sambil menolehkan kepala untuk melihat tongkat yang diberikan oleh pelari sebelumnya. Penerimaan tongkat dengan cara melihat biasanya dilakukan pada nomor 4 x 400 meter.
b. Teknik penerimaan tongkat dengan cara tidak melihat (non visual)
Pelari yang menerima tongkat melakukannya dengan berlari tanpa melihat tongkat yang akan diterimanya. Cara penerimaan tongkat tanpa melihat biasanya digunakan dalam lari estafet 4 x 100 meter.
Dilihat dari cara menerima tongkat, keterampilan gerak penerima tongkat tanpa melihat lebih sulit dari pada dengan cara melihat. Dalam pelaksanaannya, antara penerima dan pemberi perlu melakukan latihan yang lebih lama melalui pendekatan yang tepat.

6. Teknik Pemberian dan Penerimaan Tongkat Estafet
Prinsip lari sambung adalah berusaha membawa tongkat secepat-cepatnya yang dilakukan dengan memberi dan menerima tongkat dari satu pelari kepada pelari lainnya, agar dapat melakukan teknik tersebut, pelari harus menguasai keterampilan gerak lari dan keterampilan memberi serta menerima tongkat yang dibawanya.
Dalam beberapa perlombaan lari sambung, seringkali suatu regu dikalahkan oleh regu lainnya hanya karena kurang menguasai keterampilan gerak menerima dan memberikan tongkat dari satu pelari kepada pelari yang lainnya. Bahkan, seringkali suatu regu didiskualifikasi hanya karena kurang tepatnya penerimaan dan pemberian tongkat.
Perlombaan lari estafet mengenal dua cara pemberian dan penerimaan tongkat, yaitu:
a. Teknik pemberian dan penerimaan tongkat estafet dari bawah
Teknik ini dilakukan dengan cara pelari membawa tongkat dengan tangan kiri. Sambil berlari atlet akan memberikan tongkat tersebut dengan tangan kiri. Saat akan memberi tongkat, ayunkan tongkat dari belakang ke depan melalui bawah. Sementara itu, tangan penerima telah siap dibelakang dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Ibu jari terbuka lebar, sementara jari-jari tangan lainnya dirapatkan.
b. Teknik pemberian dan penerimaan tongkat estafet dari atas
Teknik ini dilakukan dengan cara mengayunkan tangan dari belakang ke depan, kemudian dengan segera meletakan tongkat dari atas pada telapak tangan penerima. Pelari yang akan menerima tongkat mengayunkan tangan dari depan ke belakang dengan telapak tangan menghadap ke atas. Ibu jari di buka lebar dan jari-jari tangan lainnya rapat.
Ada sebuah cara yang dilakukan dalam olahraga lari estafet agar tongkat estafet tidak jatuh saat diberikan pada peserta lain. Yaitu pelari yang memegang tongkat estafet meegang tongkat estafet dengan tangan kiri dan memberikannya juga dengan tangan kiri. Sedangkan si penerima tongkat bersiap menerima tongkat dengan tangan kanan.

7. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Lari Estafet
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam olahraga lari estafet, sebagai berikut:
a. Pemberian tongkat sebaiknya secara bersilang, yaitu pelari 1 dan 3 memegang tongkat pada tangan kanan, sedangkan pelari 2 dan 4 menerima atau memegang tongkat dengan tangan kiri atau sebaliknya.
b. Penempatan pelari hendaknya disesuaikan dengan keistimewaan dari masing-masing pelari. Misalnya, pelari 1 dan 3 dipilih yang benar-benar baik dalam tikungan. Pelari 2 dan 4 merupakan pelari yang mempunyai daya tahan yang baik. 
c. Jarak penantian pelari 2, 3, dan 4 harus benar-benar diukur dengan tepat.
d. Setelah memberikan tongkat estafet jangan segera keluar dari lintasan masing-masing.

8. Peraturan Perlombaan
Adapun peraturan perlombaan dalam olahraga lari estafet, sebagai berikut:
a. Panjang daerah pergantian tongkat estafet adalah 20 meter dan bagi pelari estafet 4 x 100 meter ditambah 10 meter prazona. Prazona adalah suatu daerah di mana pelari yang akan berangkat dapat mempercepat larinya, tetapi di sini tidak terjadi pergantian tongkat.
b. Setiap pelari harus tetap tinggal di jalur lintasan masing-masing meskipun sudah memberikan tongkatnya kepada pelari berikutnya. Apabila tongkat terjatuh, pelari yang menjatuhkannya harus mengambilnya.
c. Dalam lari estafet, pelari pertama berlari pada lintasannya masing-masing sampai tikungan pertama, kemudian boleh masuk ke lintasan dalam, pelari ketiga dan pelari keempat menunggu di daerah pergantian secara berurutan sesuai kedatangan pelari seregunya.
 

Dhilah siBluuu Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review