Sabtu, 25 Agustus 2012

LOVEY DOVEY COOKEY [PART 1]

Posted by Nur Fadhilah at 2:43:00 PM

Author : Nur Fadhilah
Genre : Comedy romantic (comrom)
Length : Series
Rating : PG-13
Main casts : Choi Jin Ri (Sulli f(x)), Choi Minho (Minho SHINee), Kwon Yuri (Yuri SNSD), Kim Ki Bum (Key SHINee)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fanfiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)


Seorang wanita duduk sendirian sambil memperhatikan seorang gadis kecil yang sedang asyik bermain luncuran di sebuah restoran cepat saji. Di depannya sudah tersedia minuman cola dan kentang goreng, juga sisa spaghetti dan jus jeruk bekas gadis kecil itu. Sesekali dia memperhatikan jam tangannya. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.

“Ha Na, maaf aku terlambat,” kata seorang wanita yang tiba-tiba muncul di depannya.

“Oh, kau sudah datang? Duduklah…”

“Mana Jin Ri?”

Ha Na tidak menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangan pada sesosok gadis kecil yang sedang tertawa gembira menuruni luncuran.

“Dia sudah besar. Cantik lagi, seperti ibunya.”

Ha Na hanya tertawa tersipu malu mendengar pujian sahabatnya itu.

“Min Ah… apa kau… masih menginginkan seorang putri?”

“Kau tahu kan itu sudah tidak mungkin. Rahimku diangkat setelah melahirkan Ki Bum. Meskipun aku sangat menginginkan seorang putri, aku tahu itu mustahil. Jadi, kukubur saja keinginan itu dalam-dalam. Suamiku juga akan marah jika aku mengungkit masalah itu lagi.”

“Bagaimana jika aku mengabulkannya? Apa kau bersedia?”

“Apa?”

“Kau tahu kan ini semua kecelakaan. Aku tidak akan hamil kalau bukan karena laki-laki itu. Aku belum siap jadi ibu, Min Ah. Aku juga sudah merasa tidak enak selalu menitipkan Jin Ri di rumah tetangga sementara aku bekerja. Aku bukannya mau menyembunyikannya. Tapi seluruh Seoul sudah tahu bahwa aku, Ha Na, model terkenal hamil di luar nikah. Mereka juga sudah tahu kalau aku memiliki seorang anak. Ini membuatku menderita. Aku sudah jarang menerima job. Aku seakan hilang ditelan bumi…”

“Jangan bilang kau akan membuangnya atau menitipkannya di panti asuhan?!”

“Jangan kau tanya, aku sangat menyayangi Jin Ri. Itulah mengapa aku lebih memilih untuk melahirkannya daripada menggugurkannya. Bagaimana pun aku seorang perempuan. Aku sangat menginginkan keluarga, tapi tidak seperti ini caranya. Ini terlalu cepat.”

“Apa sebeanarnya yang ingin kau katakan padaku?”

“Aku ditawari kontrak di Paris. Kontraknya sudah kubaca. Ini adalah peluang yang sangat bagus untuk mendongkrak kembali popularitasku di dunia modeling. Kau tahu ini impianku sejak kecil. Tapi aku tidak mungkin membawa Jin Ri ikut serta. Salah satu syaratnya adalah belum menikah. Mana mungkin aku punya anak tanpa suami. Kau tentu tahu ke mana arah pembicaraanku saat ini…”

“Apa kau ingin menitipkan Jin Ri padaku?”

“Lebih tepatnya memintamu mengangkat Jin Ri menjadi anakmu. Tak ada orang lain yang lebih kupercaya darimu…”

Min Ah menghela napas berat.

“Apa yang kau katakan padanya?” tanya Min Ah sambil memandang iba pada Jin Ri yang masih bermain.

“Aku berkata yang sebenarnya. Dia tak boleh dibohongi. Dia harus tahu bagaimana keadaan ayah dan ibunya.”

Min Ah tertunduk. Berpikir.

“Aku akan membicarakannya dengan suamiku.”

Ha Na menggenggam erat tangan Min Ah.

“Terima kasih, Min Ah…”

*****

Beberapa hari kemudian…

“Perkenalkan, namaku Jin Ri, Choi Jin Ri,” sapa gadis kecil itu polos.

“Jin Ri sangat manis…” puji Min Ah.

“Sangat mirip denganmu. Kurasa ketika orang-orang melihatnya, mereka akan mengira dia anak kita,” celetuk Kim San, suami Min Ah.

“Hah, astaga…” Min Ah tertawa.

Ha Na lalu berlutut, mensejajarkan diri dengan Jin Ri.

“Jin Ri, dengarkan ibu! Ibu akan pergi jauh dan sangat lama. Jadi kau harus tinggal di sini. Jangan anggap mereka orang asing. Mereka kini keluargamu. Itu ibu, ayah, dan kakakmu, Ki Bum. Bukankah kau ingin mempunyai kakak laki-laki yang akan selalu menjagamu?”

Jin Ri mengangguk.

“Anak pintar!” Ha Na mengelus kepala Jin Rin.

“Kapan kau akan ke Paris?” tanya Min Ah.

“Besok. Sebelum ke bandara aku akan datang lagi untuk mengucapkan salam perpisahan pada Jin Ri,” katanya sambil berdiri.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian. Kalau tak ada kalian berdua, aku tak tahu bagaimana nasib Jin Ri nantinya,” sambung Ha Na.

Min Ah dan Kim San tersenyum.

“Ki Bum, bantu bibi menjaga Jin Ri ya?”

“Iya. Bibi tenang saja. Aku sudah lama ingin mempunyai adik.”

“Terima kasih, anak tampan…”

Ha Na lalu memegangi pundak Jin Ri.

“Kau baik-baik ya di sini.”

“Iya, bu…”

“Ibu pulang dulu…” Ha Na lalu mencium kening Jin Ri.

“Ki Bum, antar Jin Ri ke kamarnya, lalu ajak dia melihat sekeliling rumah! Ibu dan ayah akan mengantar bibi Ha Na ke depan,” perintah Min Ah.

“Siap, bu. Ayo!” Ki Bum lalu mengangkatkan koper milik Jin Ri. Mereka berdua naik ke lantai 2.

“Mari…” ajak Kim san.

*****

“Ini tempat favoritku!” tunjuk Ki Bum bangga.

“Dapur?” tanya Jin Ri heran.

“Ya. Kau pasti heran!”

“Kenapa?”

“Aku suka memasak.”

“Benarkah? Aku suka makan.”

Ki Bum tertawa geli.

“Ayah dan ibu tak mempekerjakan pembantu. Jadi, kalau ibu sakit, aku yang akan menggantikannya di dapur.”

“Di rumahku, ibu tak pernah masak. Aku makan pagi dan siang di rumah tetangga. Malam harinya, ketika ibu pulang kerja, dia pasti membawa makanan.”

“Mengapa tak pernah masak?”

“Setiap hari, ibu pergi pagi dan pulang malam. Tak ada hari libur.”

“Kau kasihan sekali…”

“Mm… Oh ya, nanti boleh aku mencicipi masakanmu?”

“Tentu saja. Aku akan membuatkanmu menu selamat datang yang paling spesial,” janji Ki Bum lantas tertawa.

Min Ah dan Kim San tersenyum melihat keakraban kedua anak mereka.

“Apa kau senang?” tanya Kim San.

“Ya. Kau tahu betapa aku sangat mendambakan seorang putri…” jawab Min Ah seraya tersenyum.

*****

“Jin Ri, kau tenang saja! Setiap hari ulang tahunmu, ibu akan mengirimimu kado, surat, dan foto ibu. Agar kau tak melupakan ibu nantinya,” janji Ha Na pada putrinya.

“Kapan ibu akan pulang?”

“Sudah ibu bilang, ibu akan pergi sangat lama. Jadi, selama ibu pergi, Bibi Min Ah akan menggantikan ibu. Dia akan menjadi ibumu. Panggil dia ibu. Dan dia ayah. Kau mengerti?” tegas Ha Na sambil menunjuk Min Ah dan Kim San.

“Mm…” Jin Ri mengangguk.

“Ibu akan sangat merindukanmu. Apa kau juga begitu?”

“Aku dua kali lipat akan lebih merindukan ibu…”

Ha Na tersenyum.

“Anak baik…”

Ha Na lalu menciumi pipi dan kening Jin Ri.

“Kau tak boleh nakal. Kau harus jadi anak yang manis. Kau juga harus menurut pada mereka,” pesan Ha Na lalu menoleh ke arah Min Ah, Kim San, dan Ki Bum.

Sekali lagi Jin Ri mengangguk.

Ha Na berdiri lalu memeluk Min Ah.

“Kutitipkan Jin Ri padamu dan Kim San. Anggaplah dia itu putrimu. Putri yang selama ini selalu kau dambakan…”

“Aku akan menjaga dan merawatnya dengan baik.”

Ha Na melepaskan pelukannya lalu menyerah sesuatu pada Min Ah dan Kim San.

“Ini adalah dokumen milik Jin Ri. Di dalam ada akta kelahiran, buku tabungan, dan surat-surat penting lainnya yang berkaitan dengan Jin Ri. Setiap bulan, aku akan mentransfer uang ke rekeningnya. Kelak, kau tak usah memberinya uang.”

“Sekarang Jin Ri adalah anak kami juga. Tak ada perbedaan antara dia dan Ki Bum. Apa yang kami berikan pada Ki Bum, tentu akan kami berikan juga pada Jin Ri. Kau tenanglah! Tak usah sampai seperti ini…” kata Kim San.

“Terima kasih… aku tak tahu berapa kali kata ini harus kuucapkan agar bisa sebanding dengan kebaikan kalian padaku dan Jin Ri.”

“Tak usah sungkan! Kita masih sahabat kan?” celetuk Min Ah.

“Tentu saja…” jawab Ha Na lantas tertawa.

“Kau benar tak ingin diantar ke bandara?” tanya Kim San.

“Tak usah. Kalian di sini saja. Lagipula taksi sudah menungguku…”

“Baiklah. Kau hati-hati di jalan ya. Telepon aku jika sudah tiba di Paris!” pesan Min Ah.

“Mm… pasti…”

“Jin Ri, ibu pergi. Dah…”

“Ibu pasti akan kembali kan?” tanya Jin Ri setengah berteriak.

Ha Na hanya tersenyum. Senyum terakhir yang diperlihatkannya pada Jin Ri sebelum ia masuk ke dalam taksi.

*****

12 tahun kemudian…

“Naikkan tegangan!” perintah dokter yang sedang memegang alat pemompa jantung pada suster.

“Sekali lagi!”

Tit.. tit.. tit.. tit.. tit..

“Hah… syukurlah…”

Dokter pun melangkah keluar ruangan ditemani susternya setelah memastikan keadaan pasien sudah stabil.

“Bagaimana ayah saya, dokter?” tanya Choi Hyunmoo harap-harap cemas. Istrinya dan Minho juga tak kalah tegangnya.

“Dia berhasil keluar dari masa krisisnya. Tapi keadaanya sekarang masih sangat lemah. Namun detak jantungnya sudah mulai stabil. Sebaiknya jangan bicarakan hal-hal yang akan mengganggu pikirannya. Karena dia bisa saja kembali drop dan saya takut dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi.”

“Terima kasih, dok.”

Wajah Choi Hyunmoo, Tae Jinah, juga Minho kini kembali sumringah. Perasaan lega menyelimuti hati mereka.

“Ayo kita masuk!” ajak Choi Hyunmoo.

Tae Jinah duduk di kursi di samping ranjang. Choi Hyunmoo berdiri di belakangnya. Sementara Minho berdiri di sisi lain ranjang tersebut.

Tae Jinah memegangi tangan mertuanya.

“Ayah, sadarlah…”

Perlahan, dia membuka matanya. Mulutnya menganga seakan ingin mengatakan sesuatu. Mereka terkejut.

“Aku punya janji…” dia membuka suara paraunya.

“Ayah… ayah jangan bicara dulu. Ayah belum pulih betul…” cegah Choi Hyunmoo, anaknya.

“Tidak… aku harus mengatakannya sekarang. Aku tidak tahu kapan akan pergi… jadi harus kukatakan sekarang…”

“Ayah…” tegur Tae Jinah tapi tak dipedulikannya.

“Dulu… aku dan sahabatku… Kim Myungsuk… pernah membuat janji… untuk menikahkan cucuku dan cucunya…”

“Apa?” serempak Choi Hyunmoo, Tae Jinah, dan Minho kaget.

“Tapi… 13 tahun yang lalu… dia meninggalkan Seoul dan menetap di Jerman setelah istrinya meninggal… kami sudah tak pernah bertemu lagi…”

“Mungkin dia juga sudah lupa pada janjinya, ayah…” kata menantunya.

“Janji adalah janji… kalau dia lupa, maka aku masih ingat… carilah anak Kim Myungsuk… Kudengar dia pengusaha sukses di Seoul… hanya saja aku tak pernah berhasil menemuinya hingga sekarang… Kau pasti kenal dengannya… namanya… Kim San…”

“Apa?! Kim San?” tanya Choi Hyunmoo dan Tae Jinah kaget.

Dia menganggukkan kepala.

“Jika Kim San memiliki anak perempuan, nikahkanlah Minho dengannya. Kalian mau berjanji kan untuk pergi mencarinya…?”

Choi Hyunmoo dan Tae Jinah saling berpandangan.

“Minho… kau mau melakukannya kan…?”

Minho hanya menunduk dan mengangguk pelan.

“Baguslah… sekarang aku bisa pergi dengan tenang… hah…”

“Ayah…”

“Kakek…”

Tiiiiit.. tiiiii.. tiiiiit..

“Ayah!”

“Kakek!”

Minho lalu menekan tombol emergency untuk memanggil perawat. Dengan cepat seorang dokter dan dua orang suster berlarian menuju kamar 305.

“Keluarga harap menunggu di luar,” suruh seorang suster.

Kini mereka bertiga kembali menampakkan wajah harap-harap cemas. Mereka khawatir kali ini Tuan Choi sudah tak bisa diselamatkan lagi.

Tak lama kemudian, dokter yang tadi datang keluar dengan wajah lesu.

“Maafkan kami, dia sudah tak tertolong lagi. Saya pribadi turut berduka cita. Semoga keluarga diberi ketabahan,” lalu melangkah pergi.

Terlihat dari dalam ruangan, seorang suster sibuk melepas berbagai peralatan rumah sakit yang menempel pada tubuh Tuan Choi. Lalu yang satunya lagi menutupi sekujur tubuh Tuan Choi dengan selimut putih.

“Bagaimana ini? Kita sudah terlanjur berjanji pada ayah…” keluh Tae Jinah.

“Sudahlah… jangan pikirkan hal itu dulu! Sebaiknya, kita urus pemakaman ayah dulu…” kata Choi Hyunmoo menenangkan istrinya.

*****

Sehari kemudian…

Jepret.. jepret..

“Ya, seperti itu. Bagus sekali! Tahan…”

Jepret.. jepret..

Minho tersenyum menyaksikan pemotretan kekasihnya, Kwon Yuri. Seperti biasa, Yuri terlihat sangat cantik. Meskipun Minho lebih muda 2 tahun darinya, tapi hal itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menjalin kasih. Benar-benar pasangan yang sempurna.

“Baik. Kita istirahat 10 menit…” ucap manager Yuri.

“Ah, Minho!” seru Yuri.

Yuri langsung berlari ke pelukan Minho.

“Tumben kau datang ke sini. Ada apa?”

“Apa tidak boleh aku datang melihat pemotretanmu?” balas Minho bertanya.

“Kau pasti merindukanku!” tebak Yuri.

“Aku selalu merindukanmu setiap hari…”

Yuri tersenyum malu-malu.

“Tapi sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Bicara saja! Aku punya 10 menit.”

Mereka lalu duduk di sudut ruangan.

“Kemarin kakek meninggal…”

“Apa?! Kenapa tak memberitahuku?”

“Maaf, kemarin kami sibuk mengurus pemakaman…”

“Aku turut berduka cita…”

“Bukan hanya itu yang ingin kubicarakan…”

“Apa lagi?”

Minho menarik napas panjang.

“Sebelum meninggal, kakek berkata bahwa… bahwa dia sudah… sudah menjodohkanku dengan seseorang…”

Yuri memasang wajah terkejutnya.

“Tapi hal itu tidak akan pernah terjadi jika…” Minho menggantungkan perkataannya.
“Jika apa?” Yuri penasaran.

“Jika kau mau menikah denganku…”

“Apa? Apa ini lelucon?”

“Apa ini seperti sebuah lelucon bagimu? Aku serius!!”

Yuri terdiam. Bola matanya terlihat bergerak-gerak.

“Apa ini sebuah lamaran?”

“Ya,” jawab Minho tegas.

Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantung jaketnya.

“Maukah kau menikah denganku?” tanya Minho seraya membuka kotak tersebut di depan Yuri.

Yuri menatap cincin perak di depannya dan Minho secara bergantian dengan perasaan ragu.

Secara perlahan, tangan Yuri bergerak menggenggam kotak cincin yang masih berada di tangan Minho. Ia menatap cincin itu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya dan dengan cepat menutup kotak tersebut.

“Ada apa? Ada yang salah dengan cincinnya?” tanya Minho yang kaget dengan sikap Yuri.

Yuri menggeleng.

“Tidak. Tidak ada yang salah dengan cincinnya… hanya saja…”

“Hanya apa?”

“Minho… kau masih terlalu muda…”

“Apa itu masalah bagimu?”

“Bukan hanya itu. Kau tahu, karirku sedang menanjak akhir-akhir ini. Maafkan aku. Tapi aku lebih memilih untuk fokus pada karirku. Aku baru 22 tahun. Kita masih terlalu muda untuk melangkah ke jenjang seserius itu…”

“Jadi itu masalahnya?”

Yuri mengangguk pelan. Minho terlihat sangat kecewa dengan anggukan Yuri.

“Kumohon pikirkanlah baik-baik. Tak jawab sekarang pun tak masalah. Ini kesempatan yang…”

“Yuri, saatnya sesi pemotretan lagi…” suara manager Yuri membuat Minho tak dapat melanjutkan perkataannya.

“Maaf, Minho. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku belum siap untuk berkomitmen sehidup semati denganmu. Kau dan aku masih sangat muda. Jalan kita masih panjang…”

“Yuri!!” panggil managernya lagi.

“Baik. Aku segera ke sana…”

“Pulanglah! Aku akan meneleponmu nanti. Tolong sampaikan salamku pada ibu dan ayah!”
Yuri lalu mengakhiri pembicaraan mereka dengan sebuah ciuman di pipi Minho.

“Kau pasti akan menyesali keputusanmu, Yuri…” ucap Minho pelan setelah Yuri pergi.

*****

Ki Bum segera memasuki bar dengan tergesa-gesa. Bola matanya bergerak begitu cepat seperti mencari seseorang. Pandangannya lalu tertuju pada sesosok pria yang duduk sendirian di meja sudut sambil menenggak alkohol. Di atas mejanya sudah terdapat 2 botol minuman kosong yang beru ditenggaknya beberapa menit yang lalu. Ki Bum segeras menghampiri pria itu.

“Ada masalah apa?”

Pria itu tak menjawab. Ia masih saja terus menenggak minuman ketiganya.

“Yuri?” tebak Ki Bum.

Aktivitas pria itu berhenti sejenak begitu mendengar nama Yuri.

“Jangan sebut namanya di depanku!” pria itu kembali melanjutkan aktivitas minumnya.

“Minho! Berhentilah minum! Aku tahu kau tak kuat minum. Lihat wajahmu! Sudah sangat merah…”

Minho menaruh botol ketiganya yang kini kosong di atas meja bersama kedua botol lainnya.

“Aku melamarnya,” katanya dingin.

“Biar kutebak. Dia menolakmu.”

“Dia bilang aku masih terlalu muda. Dia juga bilang kalau dia lebih memilih karirnya daripada aku…”

“Sudah kubilang, Yuri itu tak serius denganmu. Kau itu tampan, pewaris tunggal pengusaha kaya. Semua orang juga tahu kalau kau juga menjadi ahli waris dari keluarga Choi. Siapa yang tak suka denganmu??!”

Brak!!!

Minho menukul meja.

“Jadi kau menganggap Yuri hanya tertarik pada hartaku saja, hah?”

“Bukan seperti itu. Maksudku, kau harus selektif dalam memilih pendamping hidup…”

“Kakek sudah menjodohkanku…”

Mata Ki Bum membulat kaget.

“Apa? Dengan siapa?”

“Cucu teman kakek.”

“Kau setuju?”

“Bagaimana mungkin aku menolak di saat keadaan kakek sedang kritis?”

Ki Bum terdiam.

“Lupakanlah Yuri! Cobalah buka hatimu untuk perempuan lain!”

“Seenaknya kau suruh aku melupakannya. Kau sendiri? Apa kau sudah bisa melupakan Amber?”

“Kau jangan balik menyerangku! Kita sedang membicarakan masalahmu. Jangan ungkit-ungkit masa laluku…”

Minho menyeringai.

“Kau juga mau minum?”

“Tidak. Aku sudah berjanji tak minum lagi pada Jin Ri.”

“Hah, adikmu itu…”

“Kapan-kapan aku akan mengenalkannya padamu.”

“Untuk apa? Sudahlah, tak penting.”

“Terserah kau saja…”

Minho terdiam. Pikirannya tertuju pada Yuri. Ia masih tak percaya bahwa Yuri menolak untuk menikah dengannya.

*****

Tae Jinah tampak gelisah. Sedari tadi ia terus mondar-mandir di depan suaminya.

“Jinah, berhentilah mondar-mandir. Kau membuatku semakin pusing,” keluh Hyunmoo.

“Mana mungkin ayah menjodohkan Minho dengan anak Kim San? Hubungan bisnis perusahaan kita kan kurang baik dengan perusahaannya…”

Hyunmoo terdiam. Ia kembali teringat perkataan ayahnya sebelum meninggal.

“Jika Kim San memiliki anak perempuan, nikahkanlah Minho dengannya.”

“Tunggu! Bukankah ayah belum pernah bertemu dengan Kim San? Ayah juga berkata, jika Kim San memiliki anak perempuan, maka kita harus menikahkan Minho dengannya. Itu berarti ada kemungkinan Kim San tidak memiliki anak perempuan.”

“Sayang, perkataanmu ada benarnya juga. Bagaimana kalau kita suruh orang untuk menyelidiki keluarga Kim San? Apakah benar dia memiliki putri atau tidak?” usul Jinah.

“Baiklah. Akan kutelepon sekertaris Yoon untuk menyelidiki semua ini.”

*****

Ki Bum baru saja keluar dari mobilnya. Sedang Jin Ri sudah menungguinya di beranda rumah.

“Ada apa? Kau sepertinya gelisah sekali…” tanya Ki Bum pada Jin Ri yang meremas-remas tangannya.

“Kakek akan pulang…”

“Kapan?”

“Kata ibu, minggu depan…”

Ki Bum menyeringai senang.

“Baguslah,” katanya sambil melangkah memasuki rumah meninggalkan Jin Ri.

“Bagus apanya?” tanya Jin Ri yang mengekor di belakang Ki Bum.

“Sudah 13 tahun kakek meninggalkan Seoul. Minggu depan ia akan kembali. Bukannya itu bagus?”

“Ya… bagus sih… tapi kan kakak pernah bilang kalau kakek tak suka pada perempuan yang tak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku kan jadi takut…”

Ki Bum lalu berbalik dan memegang pundak Jin Ri.

“Kakekku adalah yang terbaik. Kau tenang saja! Kalau kakek bisa mengajari anak berusia 7 tahun seperti aku dulu untuk memasak masakan Prancis, mana mungkin ia akan menyerah pada dirimu? Tak akan… yang perlu kau lakukan hanyalah bersabar. Kakek itu gampang marah…”

Wajah Jin Ri semakin menunjukkan ekspresi takut.

“Ki Bum… jangan membuat Jin Ri takut pada kakekmu…” tegur Min Ah yang baru turun dari lantai 2.

Ki Bum lalu tertawa memamerkan deretan gigi putihnya.

“Ahh… kakak… selalu begitu deh…” kesal Jin Ri.

“Sudahlah, aku masuk dulu,” kata Ki Bum sambil mengacak-acak rambut panjang Jin Ri.
“Ahh…” Jin Ri menepis tangan Ki Bum lalu memperbaiki letak rambutnya.

“Hai, bu…” Ki Bum mengecup pipi ibunya lalu berlari ke kamarnya di lantai 2.

Min Ah lalu menghampiri Jin Ri.

“Bu… bagaimana ini? Aku kan belum pernah bertemu dan berbicara dengan kakek. Bagaimana kalau kakek tak menyukaiku?”

“Tenang saja. Kau tak usah khawatir begitu. Kakek pasti akan menyukaimu.”

“Tapi aku tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga…”

“Kau tak perlu melakukan itu agar kakek menyukaimu. Kau hanya perlu sedikit pendekatan.”

“Pendekatan seperti apa?”

“Sini ibu bisik!”

Bla bla bla…

“Apa cara itu ampuh?” tanya Jin Ri setelah Min Ah selesai membisikinya.

“Itu adalah cara yang ayah ajarkan untuk merebut hati kakek sewaktu ibu masih pacaran dengan ayah dulu…”

“Oh… baiklah. Aku akan melakukannya!!”

*****

“Minho…” panggil Jinah ketika melihat Minho memasuki rumah.

“Wajahmu merah… kau habis minum?” sambungnya.

“Bukan urusan ibu…” jawab Minho lalu menaiki anak tangga menuju lantai 2.

“Tunggu dulu! Ibu ingin membicarakan sesuatu denganmu.”

“Apa?” Minho menghentikan langkahnya.

“Ini mengenai perjodohanmu dengan cucu sahabat kakek…”

“Terserah ibu dan ayah saja! Dijodohkan atau tidak, itu bukan masalah bagiku…” kata Minho lalu melanjutkan perjalanannya lagi menuju kamarnya.

“Apa?!” Tae Jinah hanya melongo mendengar perkataan Minho.

*****

“Hah…” Minho membenamkan diri di atas tempat tidur empuknya.

Tiit.. tiit..

Terdengar nada sambung telepon. Minho menelepon Ki Bum.

*****

Tok.. tok.. tok..

“Kak… boleh aku pinjam mobilmu?” tanya Jin Ri setelah mengetuk pintu kamar Ki Bum.

Tak ada jawaban.

“Kak… kau tidur?”

Tetap tak ada jawaban.

“Kak… aku buru-buru nih…”

Masih tak ada jawaban.

“Aku masuk ya…”

Jin Ri lalu membuka pintu kamar Ki Bum pelan. Ia lalu mendengar suara aliran air dari dalam kamar mandi.

“Kak… kau lagi mandi?” teriak Jin Ri.

“Iya… ada apa?” teriak Ki Bum juga.

“Boleh aku pinjam mobilmu? Aku ada kerja kelompok di rumah Jisun.”

“Ambil saja kuncinya di atas meja! Ingat, kau jangan membuat mobilku lecet!”

“Tenang saja! Mobilmu akan kembali dengan selamat…”

Jin Ri lalu mengambil kunci mobil Ki Bum.

Triit.. triit..

Ponsel Ki Bum bergetar. Telepon dari Minho.

“Kak… ada telepon dari Minho…” teriak Jin Ri.

“Kau angkat saja dulu! Katakan padanya kalau aku sedang mandi…!”

Jin Ri lalu menjawab telepon Minho.

“Halo?”

Minho kaget mendengar suara perempuan. Ia lalu mengecek lagi apakah benar nomor yang diteleponnya adalah nomor Ki Bum.

“Ini benar nomor Ki Bum. Tapi kenapa perempuan yang menjawab teleponku. Setahuku Ki Bum tidak suka kalau ponselnya berada di tangan orang lain…” kata Minho pada dirinya sendiri.

“Halo?”

“Halo… apa Ki Bum ada?” tanya Minho ragu-ragu.

“Ada, tapi dia sedang mandi.”

“Mandi?” Minho shock mendengar jawaban perempuan itu.

“Apa Ki Bum membawa perempuan masuk dalam kamarnya? Atau di hotel?” pikiran Minho tak karuan.

“Ma… maaf… saya bicara dengan siapa ya?”

“Aku Jin Ri, adik Kak Ki Bum.”

“Jin Ri?” Minho kaget.

“Sini, berikan padaku!” pinta Ki Bum yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Jin Ri memberikan ponsel padanya.

“Aku pergi ya. Terima kasih mobilnya…” kata Jin Ri lalu melenggang pergi.

Minho mendengar percakapan Ki Bum dan Jin Ri barusan dari balik telepon.

“Tumben menelepon. Ada apa?” tanya Ki Bum tanpa basa-basi.

“Jadi selama ini, Jin Ri yang selalu kau ceritakan padaku itu… perempuan?”

“Jadi selama ini kau pikir dia apa?”

“Kupikir…”

To be continued


Author’s NOTE:
Hai hai… Alhamdulillahff keduaku sesuai janji jadi juga. Mumpung masih suasana lebaran nih, jadi saya mau ngucapin minal ‘aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Ff kali ini berbeda 180° dengan ff sebelumnya, HELLO TO MY JI EUN. LOVEY DOVEY COOKEY tidak menggunakan bahasa Korea. Alasannya simple aja. Lagi kepingin buat dalam gaya bahasa Indonesia. Bagusan mana hayo?? Ff kali ini juga tidak pake prolog. Langsung ke PART 1. Alasannya lebih simple lagi. Malas. Haha.. :D

Saya juga mau minta maaf ke readers yang fans sama Minho dan Yuri. Karakter mereka sedikit saya rubah di ff ini. Ya… mungkin sedikit menjengkelkan.

Kalau judulnya ok tidak? Awalnya agak bingung mau kasih judul apa. Tiba-tiba 3 kata terpikirkan olehku. Lovey, dovey, dan cookey. Kugabung aja. Semoga kalian suka ya.

Saya senang banget sama respon dari HELLO TO MY JI EUN. Alhamdulillah banyak yang suka. Ratingnya juga lumayan tinggi. Sebagai author pemula, tentunya saya berharap yang demikian juga terjadi pada ff terbaruku, LOVEY DOVEY COOKEY.

Okay. Now, please drop your comment. Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakan. Hehe… ^lol^

:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::

1 comments:

ivone mengatakan...

Jd minho di jodohin ma jinri ​ɪ̣̝̇ÿ̲̣̣̣̥Ω̶̣̣̥̇̊ , asiikkk mudah2han mau,

Posting Komentar

 

Dhilah siBluuu Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review