Sabtu, 14 Juli 2012

HELLO TO MY JI EUN [PART 9]

Posted by Nur Fadhilah at 7:28:00 PM

Author : Nur Fadhilah
Genre : Romance, friendship, comedy (a little bit)
Rating : PG-13
Length : Multi-chapter (two last parts)
Casts : Lee Ji Eun (IU), Lee Taemin (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Song Jieun (Secret), Hyorin (Sistar), Sandara Park (2NE1)
Other casts : You can find it by yourselves
Disclaimer : The story just a fiction, because this is a fanfiction. The story is my own but the casts aren’t. I hope you like it. Happy reading :)


Baca PROLOG, PART 1, PART 2, PART 3, PART 4, PART 5, PART 6, PART 7, dan PART 8 dulu ne...


Previous Part:
“Menangislah sepuasmu! Tapi jebal, jangan berkata begitu! Kau masih punya aku. Aku akan menemanimu di sini. Aku tak akan membiarkanmu sendirian. Aku janji.”
“Omma hanya ingin melihat wajahmu, sebelum omma pergi.”
“I love you, dear…”


*****

Hening.

Ji Eun menatap lurus ke depan. Meskipun jalan raya dan mobil berlalu lalang di hadapannya, namun bukan itulah yang ditatapnya. Tatapannya kosong.

Begitu pun dengan Jonghyun. Ia tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk mengajak Ji Eun berbicara. Ji Eun masih cukup tertekan dengan apa yang dialaminya belakangan ini. Dimusuhi kedua sahabatnya dan kematian ommanya tiga hari yang lalu.

Sudah tiga hari mereka berdua tinggal di Busan untuk menghormati almarhum Nyonya Lee. Kini saatnya mereka harus kembali ke Seoul.

“Sudah sampai…” kata Jonghyun setelah memarkir mobilnya tepat di depan Donghook Apartment.

“Gomawo. Aku sudah merepotkan songsaengnim.”

“Gwenchana. Mau kuantar masuk?”

Ji Eun menggelang dan tersenyum tipis.

“Sebaiknya songsaengnim pulang saja! Songsaengnim terlihat sangat lelah. Ara, songsaengnim kurang tidur 3 hari belakangan karena menjagaku. Gwenchana. Omma pasti marah kalau tahu aku terlalu bersedih seperti ini…”

“Gure. Kuromyon, masuklah! Kau juga harus istirahat…”

Ji Eun mengangguk pelan lalu turun dari mobil. Dengan langkah lunglai, ia berjalan memasuki apartemennya. Jonghyun menatapnya pergi hingga hilang dibalik pintu utama Donghook Apartment.

Triit.. triit..

Jonghyun melihat layar ponselnya. Unknown number.

“Yoboseyo?”

“Yoboseyo? Apakah saya berbicara dengan Tuan Kim Jonghyun?”

“Ie… Jwesonghamnida, saya berbicara dengan siapa?”

“Saya dari Jewelry Shop ingin memberitahu bahwa kalung pesanan Anda sudah jadi. Kapan Anda bisa mengambilnya?”

“Sudah jadi? Oh, gure. Aku akan mengambilnya sekarang.”

“Gure. Kami tunggu kedatangan Anda. Kamsahamnida…”

Tit.

*****

Pintu lift yang dinaiki Ji Eun hampir tertutup ketika seseorang buru-buru masuk ke dalam lift itu juga.

Dara?

Pintu lift tertutup.

“Chukkae! Kudengar upacara pertunanganmu berlangsung meriah,” ucap Dara tersenyum mencairkan suasana dingin di antara mereka berdua.

Ji Eun hanya diam tertunduk. Ia tidak tahu apakah ucapan itu benar-benar tulus atau hanya ingin menyinggungnya lagi.

“Aku juga turut berduka. Ommamu…”

Belum sempat Dara menyelesaikan kalimatnya, pintu lift sudah terbuka. Ji Eun melangkah keluar, tapi tangannya ditarik Dara.

“Ji Eun-ah! Mianhae… mianhae… jebal, mianhae…”

Terdengar suara isak tangis Dara. Dia terus meminta maaf hingga suaranya menjadi serak karena bercampur air mata. Ji Eun menoleh.

“Apa yang kau katakan? Kau tak perlu meminta maaf. Kau sahabatku…”

“Molla… apa aku masih pantas disebut sahabat setelah apa yang sudah kuperbuat padamu? Aku adalah orang terbodoh di dunia ini karena telah jahat kepadamu setelah apa yang telah kau lakukan untuk persahabatan kita. Jebal, katakan, apa yang harus kuperbuat agar bisa menebus kebodohanku ini?”

Ji Eun lalu memeluk Dara erat.

“Tak ada yang perlu kau lakukan. Kau masih mau bersahabat denganku itu saja sudah membuatku sangat senang. Aku bersyukur masih memiliki kalian. Gomawo…,” bisik Ji Eun di telinga Dara.

“Gomawo, Ji Eun-ah… gomawo…,” balas Dara masih dengan air mata yang bercucuran.

Hyorin dan Song tersenyum gembira menyaksikan adegan yang diperankan oleh kedua sahabat mereka dari balik tembok. Mereka berdua lalu berlari ke arah Ji Eun dan Dara.

“Mau berpelukan bersama?”

*****

Hari ini Ji Eun bangun kesiangan. Setelah sarapan ala kadarnya karena sudah tak ada waktu memasak, ia bergegas mengambil tasnya dan keluar dari apartemennya.

Krek!

Ji Eun menunduk. Ia menginjak sesuatu. Sebatang white tulip dan sebuah amplop putih kecil terbaring begitu saja di depan pintu apartemennya.

Ji Eun menghirupu wangi semerbak bunga itu. Baunya masih segar. Segera dibukanya amplop tadi.

“Ah, surat!” serunya.

Ji Eun lalu membuka lipatan surat itu dan membacanya.

‘Apa kau masih penasaran denganku? Ingin bertemu? Jika jawabanmu iya, maka temui aku Minggu sore di jembatan di taman dekat apartemenmu. Aku akan menunggumu.’

“Sepertinya aku mengenal tulisan ini. Tapi tulisan siapa?”

Ji Eun masih sibuk berpikir sampai ia kembali sadar bahwa ia harus ke kampus.

“Omo, aku telat!” katanya setelah melirik jam tangannya.

Dimasukkannya white tulip dan surat tadi ke dalam tasnya kemudian berlari berpacu dengan waktu.

*****

Rumah Keluarga Lee…

“Saya senang melihat perkembangan kesehatan Anda. Semangat Anda untuk sembuh sangat saya apresiasi. Sekarang kesehatan Anda telah pulih sepenuhnya,” jelas Dokter Jung tersenyum lebar, dokter pribadi Keluarga Lee.

“Apa saya sudah boleh beraktivitas kembali?” tanya Tuan Lee.

“Sayang…” tegur Nyonya Lee.

“Aku sudah bosan tinggal di rumah dan terbaring di sini. Aku ingin kembali bekerja.”

“Pekerjaan kan sudah dihandle oleh Taemin…”

“Tapi aku tetap saja ingin kembali ke perusahaan.”

“Hahaha… Anda tenang saja, Nyonya Lee. Tuan Lee sudah boleh kembali beraktivitas. Tapi ingat, jangan terlalu memforsir tenaga Anda! Bisa-bisa penyakit Anda kambuh lagi,” terang Dokter Jung.

Dokter Jung lalu merapikan tasnya dan berdiri.

“Kuromyon, saya permisi dulu. Mohon untuk menjaga kesehatan Anda!” katanya sambil menunduk pada Tuan Lee yang terbaring di atas tempat tidur mewahnya.

Dokter Jung kemudian berjalan keluar dari kamar Tuan Lee ditemani Nyonya Lee.

“Harap Anda memastikan Tuan Lee meminum obatnya dengan teratur dan tetap menjaga kesehatannya!” pesan Dokter Jung sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.

Beberapa detik berselang kepergian mobil Dokter Jung, datanglah mobil Taemin.

“Itu tadi mobil Dokter Jung?” terkanya. “Aboji! Ada apa dengannya?”

Dengan pani, Taemin cepat-cepat memarkir mobilnya dan setengah berlari memasuki rumahnya.

“Aboji! Ommoni!”

Klek.

Taemin membuka pintu kamar orang tuanya. Tampak abojinya baik-baik saja ditemani ommoninya.

“Taemin-ah… apa yang kau lakukan? Mengapa tak mengetuk terlebih dahulu?” tanya Nyonya Lee yang kaget melihat kedatangan Taemin.

“Jwe, Jwesonghamnida, ommoni, aboji. Tadi aku melihat mobil Dokter Jung, kukira penyakit aboji kambuh lagi. Jadi, aku sangat panik. Tapi sepertinya aboji sehat-sehat saja.”

“Kata dokter, abojimu sudah bisa kembali ke perusahaan.”

“Jeongmal? Syukurlah. Kuromyon, aku tak usah ke perusahaan lagi kan?”

“Gure. Kau tak usah ke perusahaan lagi. Tapi…,” jawab Tuan Lee.

“Tap, tapi apa?” tanya Taemin penasaran.

“Kau harus ke London!”

“I, ie?”

*****

Seoul National University

“Mwo? Dia mengajakmu bertemu?” ucap ketiga sahabat Ji Eun bersamaan yang saat itu sedang berada di cafeteria kampus.

“Ssstt! Pelankan suara kalian…” pinta Ji Eun yang melihat semua mata tertuju pada mereka berempat.

“Apa itu bukan kencan namanya? Mengajakmu bertemu di jembatan di sore hari? Bukankah itu sangat romantis? Uhhh… aku juga mau punya penggemar rahasia seperti itu…” ucap Song berseri-seri.

“Ji Eun-ah, apa kau sudah memberitahu Jonghyun Songsaengnim mengenai masalah ini?” tanya Hyorin.

“Ya, mana berani aku memberitahu hal ini padanya.”

“Tapi kau harus tetap memberitahu dia. Apa kau tak curiga pada penggemar rahasiamu itu? Jika dia ingin berbuat jahat padamu? Otte?” kali ini giliran Dara yang berbicara.

“Aku yakin, dia itu orang baik-baik. Aku sama sekali tak punya feeling buruk padanya. Kalian percaya saja!”

Feeling buruk sama siapa?”

“Uhuk, uhuk, uhuk…” Ji Eun yang sedang menikmati orange juicenya tiba-tiba tersedak setelah melihat sosok orang yang berdiri di samping meja yang ditempatinya dan ketiga sahabatnya.

“Jonghyun Songsaengnim!” seru Dara, Hyorin, dan Song kaget.

Jonghyun juga melotot kaget melihat ekspresi empat yeoja cantik yang dihampirinya. Tak disangka, kedatangannya akan disambut seperti itu.

“Ka, kami permisi dulu,” kata Hyorin lalu melirik Dara dan Song di samping kanan dan kirinya.

“Ah, gwenchana. Kalian duduk saja di sini! Aku duduk di sana bersama Changmin Songsaengnim,” kata Jonghyun sambil menunjuk Changmin yang sedang menunggunya di meja paling sudut dari ruang cafeteria itu.

Ji Eun dan ketiga sahabatnya berbalik melihat tempat yang ditunjuk Jonghyun. Changmin yang merasa dirinya sedang diperhatikan tersenyum memperlihatkan deret giginya yang rapi dan putih serta melambaikan tangan kanannya. Ji Eun, Dara, Hyorin, dan Song balas tersenyum padanya. Lalu berbalik kembali.

“Setelah ini kau sudah tak ada kuliah kan?” tanya Jonghyun pada Ji Eun.

“Ne.”

“Kau ada acara?”

“Ani.”

“Kau kuantar pulang ya? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

“Ha? Mm… tapi…” Ji Eun menggantungkan kalimatnya lalu melirik ketiga sahabatnya.

“Tak usah merasa tak enak. Kami bisa pulang bertiga,” ucap Dara tersenyum. “Ne?” Dara lalu bertanya pada Hyorin dan Song.

“Ne…” jawab mereka berdua, walaupun jawaban Song tak setulus Hyorin. Ia sebenarnya ingin ikut dengan Ji Eun.

“Tapi…” Ji Eun masih merasa tak enak pada ketiga sahabatnya.

“Terima saja!” suruh Hyorin.

“Gure…” kata Ji Eun pelan.

Jonghyun tersenyum lalu pergi menuju tempat duduknya, di mana Changmin sudah menunggunya sedari tadi.

Wajah Ji Eun menjadi merah ketika sahabat-sahabatnya mulai menggodanya karena kejadian tadi. Memang semenjak Ji Eun berbaikan dengan Dara dan Song, semuanya turut mengalir dengan lancar. Ji Eun tak perlu lagi menutupi pertunangannya dengan Jonghyun. Begitu pula Jonghyun. Kini ia leluasa bertemu dan berbicara dengan Ji Eun di depan ketiga sahabatnya.

*****

“Annyeong!” ucap Ji Eun melambaikan tangannya pada ketiga sahabatnya yang dibalas dengan lambaian tangan mereka pula.

Jonghyun membunyikan klakson mobilnya tanda perpisahan. Ji Eun lalu menaikkan kaca mobil.

“Jonghyun Songsaengnim…” panggil Ji Eun setelah mobil Jonghyun keluar dari arena kampus.

“Mm?”

“Apa Changmin Songsaengnim tahu mengenai pertunangan kita?”

“Tenang saja! Di kampus hanya aku, kau, dan ketiga temanmu itu yang tahu.”

“Oh, syukurlah. Kukira…”

“Aku tak akan memberitahu siapa pun kecuali kau memberi izin,” potong Jonghyun.

Ji Eun hanya tersenyum menanggapi perkataan Jonghyun.

Jonghyun melirik jari manis Ji Eun. Polos tanpa cincin.

“Cincinmu masih kau simpan kan?”

“Tentu saja. Tapi aku akan menjualnya kalau sewaktu-waktu uang sakuku habis,” canda Ji Eun.

“Hahahaha…”

“Oh ya, apa yang ingin songsaengnim bicarakan?”

“Aku ingin mengajakmu kencan,” jawab Jonghyun tanpa ba bi bu seperti biasanya.

“Mwo?” Ji Eun terdengar sangat kaget dengan jawaban Jonghyun.

Jonghyun tertawa melihat ekspresi kaget Ji Eun.

Sunday afternoon. Kau ada acara?”

“Minggu sore?”

‘Jika jawabanmu iya, maka temui aku Minggu sore di jembatan di taman dekat apartemenmu. Aku akan menunggumu.’

Teringat surat dari penggemar rahasianya yang diterimanya pagi ini. Bahkan, surat dan white tulipnya masih ada dalam tasnya.

Ji Eun hanya diam.

“Kuanggap jawabanmu iya.”

“Mwo?” kali ini Ji Eun terdengar lebih kaget dari sebelumnya.

“Apa perlu kujemput?”

“Ha?”

“Gure. Tunggu aku jam 4!”

“Tapi… aku…”

“Sudah sampai…” kata Jonghyun lalu memarkir mobilnya di depan Donghook Apartment.

“Sampai ketemu Minggu sore. Ingat, jam 4!” kata Jonghyun tersenyum nakal.

*****

“Apa dia benar-benar akan menungguku?” tanya Ji Eun pada dirinya sendiri sambil memandangi surat yang diterimanya beberapa hari yang lalu.

“Ji Eun pabo! Kenapa tak bilang kalau kau ada acara hari ini? Hah… aku tak bisa membuatnya menunggu.”

Triit.. triit..

‘Turunlah. Aku sudah tiba.’

Ji Eun lalu mengambil tas kecilnya , memakai flat shoesnya, dan melangkah keluar apartemen.

“Kita mau ke mana?” tanya Ji Eun begitu duduk di jok depan mobil Jonghyun.

Café,” jawab Jonghyun singkat lalu melajukan mobilnya.

*****

Ji Eun hanya memandangi chicken steak yang terhidang di depannya.

“Mengapa tidak makan? Kau tak suka?” tanya Jonghyun melihat makanan Ji Eun yang masih menganggur.

“Ah, aniya.”

“Kuromyon, ayo makan! Steak di café ini rasanya enak.”

“Mm… songsaengnim… apa yang akan kita kerjakan setelah ini?”

“Nonton di bioskop. Ada film bagus.”

“Mwo?”

Ji Eun lalu melihat jam tangannya. Hampir pukul 5 sore. Ji Eun pun melahap makanannya sambil sesekali berbincang dengan Jonghyun.

“Ayo!” ajak Jonghyun setelah membayar bill.

“Jankanman! Aku tak bisa ikut. Mianhae…”

“Hwe?”

“Aku… aku harus pergi ke sebuah tempat.”

“Di mana?”

“Itu… itu… pokoknya ke sebuah tempat.”

“Apa kau mempunyai janji dengan orang lain?”

“Mianhae karena tak memberitahumu sejak awal. Aku hanya tak mau mengecewakanmu.”

“Gure. Kita bisa nonton lain kali. Kau berutang kencan padaku.”

“Aku pasti akan membayarnya,” ucap Ji Eun tersenyum.

“Mau kuantar?”

“Aniya. Lebih baik aku pergi sendiri. Aku bias naik bus,” Ji Eun lalu bangkit dari duduknya. “Gomawo atas makanannya.”

Ji Eun pun melenggang pergi dengan terburu-buru.

Jonghyun menatap punggung Ji Eun sambil tersenyun. Dirogohnya saku celananya. Sebuah kotak berwarna putih. Dibuka kotak itu. Tampak sebuah ukiran berlian yang sangat indah.

*****

“Omo! Semoga aku belum terlambat,” kata Ji Eun resah sambil berlari-lari kecil menuju taman yang terletak di dekat apartemennya.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Suasana taman tampak lengang. Ji Eun berlari menuju jembatan yang terletak di tengah taman. Namun tak ada sesosok orang pun yang menunggunya di sana.

“Apa dia sudah pulang? Hah… ini semua kesalahanku…” sesal Ji Eun.

Ji Eun lalu berdiri tepat di tengah jembatan. Dia masih berharap, orang yang selalu mengiriminya white tulip akan datang. Tiba-tiba…

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Ji Eun mencari-cari asal suara.

“Taemin?”

Taemin tersenyum lalu berjalan mendekati Ji Eun.

“Ka, kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin berjalan-jalan. Semenjak aku pulang dari London, aku belum pernah ke taman ini lagi. Sudah banyak yang berubah. Tapi jembatan ini tetap sama. Dulu, jembatan ini juga seperti ini,” kenang Taemin. “Kau sendiri? Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Ah, aku sedang menunggu seseorang. Apa kau melihat seseorang juga menungguku di sini?”

“Molla. Aku tidak begitu memperhatikan.”

“Kurasa dia sudah pulang. Dia pasti telah lama menungguku.”

Hari sudah semakin gelap. Matahari telah tenggelam. Lampu taman mulai menyala satu per satu. Cahaya bulan dan bintang-bintang bersaing menerangi bumi.

“Oh, perkataan Hyorin tempo hari, mianhae. Dia sungguh tidak bermaksud membohongimu.”

“Haha… itu. Temanmu pandai sekali mengarang cerita. Tenang saja, dia sudah meneleponku dan menjelaskan semuanya.”

“Se, semuanya?” tanya Ji Eun kaget.

Apa termasuk masalah pertunanganku dengan Jonghyun Songsaengnim?

“Iya. Katanya saat itu kau bertengkar dengan Dara karena suatu masalah. Tapi dia tak mau mengatakan itu masalah apa. Katanya masalah yang sangat pribadi.”

“Pribadi? Ah, ne. Pribadi. Sangat pribadi.”

“Apa kalian sudah berbaikan?”

“Ne,” jawab Ji Eun tersenyum.

Taemin memandangi senyuman Ji Eun. Senyum yang sangat manis. Senyum Ji Eun membuat bibirnya ikut menyunggingkan senyuman.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Ji Eun kikuk.

“Aku senang melihatmu tersenyum.”

“Apa yang kau bicarakan? Setiap kita bertemu aku juga akan tersenyum padamu. Kau bisa melihat senyumku setiap hari. Hari ini, besok, besok, dan besoknya lagi…”

Taemin tertawa kecil melihat tingkah lucu Ji Eun.

“Tapi sepertinya sudah tidak akan lama lagi.”

“Maksudmu?”

“Boleh aku minta satu hal padamu? Paling tidak, sebelum aku tak bisa meminta apa-apa
lagi darimu.”

“Kau sangat aneh. Memang apa yang terjadi?”

“Boleh tidak?” Taemin kembali mempertegas pertanyaannya tanpa menghiraukan pertanyaan Ji Eun.

“Gure. Memangnya apa yang kau inginkan dariku?”

“Sebelum itu kau harus berjanji. Apa pun permintaanku, kau harus menjawab iya! Ara?”

“Aish… kau membuatku takut. Ara…”

Taemin lalu berlutut di hadapan Ji Eun.

“Ya! Ap, apa yang kau lakukan?”

“Apakah kau bersedia menjadi kekasihku? Sehari saja…”

*****

Seorang namja berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Dari langkahnya, seperti ia sangat marah dan kecewa. Dihempaskannya begitu saja sebucket white tulip ke jok mobilnya.

Diambilnya sebah kotak putih kecil yang tadinya akan diberikan pada Ji Eun. Sebuah liontin berlian berinisial JJ.

Apakah kau bersedia menjadi kekasihku? Sehari saja…

Mwo?

Ya… kau sudahberjanji tadi…

Gu, gure…


Kejadian barusan yang disaksikannya membuatnya sangat geram. Dengan segera, namja itu mengambil ponselnya dan mencari kontak Ji Eun.

“Yoboseyo?” terdengar suara Ji Eun.

“Bagaimana kalau kita akhiri saja pertunangan ini?!”

~to be continued~


Next TEASER:
“Apa dia tak bilang padamu kalau dia akan ke London?”

“Kalau kau mau, aku akan menunggumu hingga lulus dan kembali untuk membawamu bersamaku.”


Author’s NOTE:
Hai hai! Kali ini saya vakum mungkin sekitar 3 mingguan ya? Hampir sebulan. Maka dari itu, from my deepest heart, I’m so sorry for HELLO TO MY JI EUN readers. Alasannya ± sama dengan alasan yang lalu. Sudah hampir sebulan saya di Makassar. Laptop saya tinggal di Kendari. Waktu mama saya ke Makassar, beliau mengikutsertakan laptopku. Alhamdulillah, bisa lanjut nulis deh.
Tak terasa kita sudah hampir sampai pada penghujung part HELLO TO MY JI EUN. Jika sesuai rencana, ff ini akan saya buat menjadi 10 part. Soalnya semua masalah-masalah sudah pada kelar. Tinggal satu masalah nih, yaitu cinta segitiga antara Taemin-Ji Eun-Jonghyun. Insya Allah dan memang seharusnya, di part selanjutnya alias part terakhir alias PART 10, semuanya akan selesai. Happy atau sad ending ya?? Haha… penasaran kan? Iya kan? Ayolah, penasaran saja!! #maksa banget.
Okay. Now, please drop your comment. Mau pendapat, kritik, saran, atau hanya sekadar comment iseng boleh saja, asal menggunakan bahasa yang sopan serta ejaan yang disempurnakan. Hehe… ^lol^

:: Setiap comment akan saya baca dengan ketelitian 0,01 mm dan Insya Allah akan saya balas ::

0 comments:

Posting Komentar

 

Dhilah siBluuu Girl Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review